"Kamu abadi di setiap sudut ruang dalam kenangan."
: ft. 𝘑𝘢𝘦𝘮𝘪𝘯
Ini hanyalah sepenggal kisah tentang bagaimana semesta bekerja pada takdir yang tidak pernah mereka inginkan. Tentang Gevril, lelaki dengan seribu rahasia yang dipertemukan oleh A...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tidak mungkin seseorang berdarah dingin tidak meninggalkan jejak."
—(J)ustice Bab 4—
Alian Kaniara.
Nama itu masih saja terngiang di dalam kepalanya. Selama ini ia tidak pernah mengetahui informasi perempuan itu. Ah... lebih tepatnya nya ia melewati sebuah rahasia yang disembunyikan.
Di dalam mobilnya Gevril bertanya-tanya bagaimana bisa tua bangka itu menyembunyikan fakta mengenai putri kandungnya? Apa yang sebenarnya sudah ia lewati sejak tujuh tahun lalu? Selama ini... ia yakin tidak pernah sedetikpun melewati kesempatan nya untuk mengintai.
Lantas mengapa? Mengapa ia baru mengetahui hal ini?
Tidak kunjung mendapatkan jawaban, dengan segera ia meraih ponselnya. Ia berniat untuk menanyakan ini kepada temannya. Lelaki itu mencari kontak Heza lalu menekan tombol telepon. Hanya butuh hitungan detik telepon itu langsung diangkat.
"Bisa gak si lo telepon gue pas di jam senggang?" Dari seberang terdengar suara Heza yang mengomel.
"Jam makan siang di kantin rumah sakit."
Tanpa basa-basi telepon itu langsung ia matikan. Detik berikutnya Gevril mulai mengemudikan mobilnya menuju suatu tempat yang ingin ia kunjungi seperti biasanya.
Tepat pada saat pukul setengah sebelas Gevril tiba di lobby rumah sakit, netranya menjelajah ke seluruh penjuru rumah sakit yang ramai. Hari ini banyak sekali pengunjung rumah sakit yang berkunjung. Aroma khas obat-obatan membuat Gevril dengan seksama menghirupnya berulang kali. Sudah lama ia tidak menghirup aroma rumah sakit.
Kakinya ia bawa melangkah menjelajah tidak tentu arah. Ia membaur di tengah keramaian seolah benar-benar memiliki tujuan di sana. Pada saat ia tiba di lantai lima belas, langkah nya ia bawa. Unit khusus penyakit dalam.
"Bapak maaf ada yang bisa saya bantu?" Salah satu perawat dari meja nurse information memanggil Gevril.
Gevril berbalik, ia melihat presensi sang suster yang tersenyum ramah di hadapannya. Ia kemudian melangkah mendekat.
"Saya ingin bertemu dengan Dokter Alian Kaniara," katanya.