Bab 3 - Dibayar Setimpal

91 22 30
                                        

⚠️CW/TW Blood, murder, harsh words⚠️

Happy Reading

- (J)ustice Bab 3 -

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

- (J)ustice Bab 3 -

Sesuai janjinya malam ini, Gevril kembali datang ke rumah Lano dengan tas persegi panjang digenggamannya. Pada saat ia hendak menelpon Lano, sang pemilik rumah tiba-tiba saja mengiriminya pesan.

Lano
| Gue gak bisa balik malem ini, tolong lo benerin PC di kamar gue. Pin rumah gue 1908090. Harganya kabarin gue, plus untuk makanan kucingnya besok atau lusa gue beliin.
18.40

Gevril menghela napas, sepertinya hari ini temannya itu memang sedang dihantam oleh setumpuk pekerjaan. Tidak apa-apa justru itu adalah kabar yang cukup baik--setidaknya untuk malam ini.

Omong-omong perlu kalian garis bawahi, bahwa temannya itu tinggal di sebuah komplek perumahan yang sepi. Hampir semua penghuni di sana adalah orang yang sangat sibuk. Pun kalau ada aktivitas, paling-paling hanya kegiatan jual beli oleh abang sayur keliling yang diserbu oleh para asisten rumah tangga pagi hari.

Netra legam Gevril menatap satu-persatu furniture yang tertata sangat rapi pada tempatnya. Rumah dengan gaya semi modern lantai dua ini cukup mewah untuk ditinggali oleh 1 orang pria dewasa dengan... wait! Ternyata seorang Lano memiliki dua peliharaan kucing yang sangat sehat.

Langkah kaki cowok itu dibawa melangkah menuju lantai dua, ruangan yang diberitahu oleh Lano. Setiap kakinya melangkah wajah cowok itu selalu saja menengadah dengan mata yang melirik ke seluruh ruangan.

"CCTV nya lengkap di setiap sudut ruangan."

Rasanya tidak heran melihat rumah besar yang dilengkapi oleh CCTV, terlebih Lano adalah seorang aparat kepolisian yang selalu mengutamakan keamanan.

Begitu ia tiba di lantai dua pada lorong koridor terlihat tiga pintu putih yang berjajar. Selangkah demi selangkah ia mencoba mendekati pintu itu untuk kemudian ia buka. Pintu pertama dikunci, pintu kedua dikunci, dan langkah terakhirnya tepat berhenti di depan pintu ketiga.

Tangannya terulur untuk kemudian membuka pintu tersebut dan hasilnya pintu itu tidak dikunci. Seketika aroma kopi khas menyapa hidungnya.

Kamar Lano tidak jauh berbeda dengan pekerjaannya. Nuansanya gelap dengan papan tulis yang tergantung di dinding. Meja laki-laki itu tampak sedikit berantakan, banyak buku kecil yang berserakan di atasnya. Pada meja di sebelahnya terlihat sebuah PC yang dimaksud oleh Lano. Kondisinya sedikit mengenaskan dengan kabel yang putus. Entah apa yang Lano lakukan untuk mencoba membenarkan komputernya sendiri.

Gevril kemudian melakukan tugasnya--membenarkan PC milik Lano dengan peralatan yang ia bawa. Akan tetapi, sebelum membenarkan PC nya, Gevril menyempatkan diri untuk merapikan buku kecil yang berserakan. Disusunnya buku-buku kecil itu pada meja satu-persatu.

(J)usticeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang