03

156 31 22
                                        

Pria itu benar; hujan belum pasti berkunjung kendati awan mendung masih setia menunjukkan hawa pundung.

Namun, yang menjadi pertanyaanku saat ini adalah: Mengapa perahu yang kutunggu dua jam lalu belum juga bertamu?

Menyebalkan. Padahal sudah kutunggu sampai-sampai diriku mendadak lupa waktu. Karena, jujur saja, berbincang dengan sosok pengabdi samudra itu sangatlah menyenangkan. Apalagi, jika sosok itu adalah pria berkurva cendayan yang sengaja pencipta pahat guna menyegarkan mata para hawa.

Kedua kaki kuayunkan malas, sembari menggulirkan atensi pada dirinya yang tengah menggulung jaring di bibir pantai.

Iya, dirinya. Kita Shinsuke namanya. Seorang nelayan yang diberkahi lengkungan kurva seteduh laut malam, pula suaranya yang sedamai riaman air terjun, berhasil membuat hatiku meletup-letup dengan ribuan bunga tulip yang bermekaran di seluruh perutku.

Aku mengaguminya; dalam lingkup partisipasi, bukan dalam lingkup filantropi yang merepotkan banyak afeksi remaja.

Karena ─hey, mana mungkin diriku yang faktanya sedang melampas di dua universitas ini menyukai seorang pria hanya dari pandangan pertama?

Tidak mungkin 'kan?

Ya, kuharap begitu.

Sebelum seorang bocah berseragam hitam putih mendekatiku, lalu menarik-narik blouse abu yang hari ini kukenakan. Dan parahnya lagi, ia mengatakan, "... Bunda?" sembari mengedipkan kelopak sayup-sayup.

Sialan, imut banget.

Tapi, tetap saja, aku tak boleh gampang termakan rayuan anak balita yang sekarang malah tengah duduk di pangkuanku.

Walau mata besarnya tengah memandang diriku dalam-dalam. Walau bibir merah mudanya tengah menyunggingkan senyum dengan gigi susu yang tertampak. Walau surai putihnya tengah digesek-gesekkan lembut pada perutku.

Dan, walau ujung-ujungnya diriku-lah yang malah menaruhkan atensi pada gadis kecil ini.

Mulutku bergumam lirih, "E-em, tapi ... aku bukan bundamu," sambil mengelus surai putihnya yang selembut kapas.

Detik berikutnya, ia terbangun dari pangkuanku. Kakinya melangkah mundur. Lalu mengembungkan pipi dengan alis yang tertaut.

Tampaknya ia kesal dengan diriku yang tak tau akan basa-basi. Namun aku tahu, teriakan imutnya yang menggaung di seluruh pantai itu jauh sekali dari rasa kesal, "Kakak 'kan cantik. Harusnya ya jadi bund─"

"Sean."

Seluruh tubuhku merinding, terasa kelu, lantaran suasana yang seharusnya mengundang bunga di hati, malah mendadak berganti dengan tatapan tajam dari dirinya ─Kita Shinsuke.

Gadis kecil itu menatap Shinsuke dengan peluh yang bercecer. Kemudian raganya membungkuk, juga sudut bibirnya terbuka mengucap sepatah kata, "[Name], maafkan dia  ya."

"[Name], maafkan aku ya," Mendengar gumaman yang terlontar dari adik perempuannya, Kita Shinsuke lantas mendelikkan mata.

"J-j-jangan marah. Maksudku itu, [Name]-san maafkan aku ya, gitu!"

Masih hening, dan mereka masih juga bertatapan, sebelum gadis kecil yang diketahui namanya adalah Sean itu berlari cepat menuju perahu di ujung pantai ─milik Shinsuke tentunya.

"Dia adikmu? Cantik banget! Imut banget!"

Kita Shinsuke terperangah, "O-oh, dia─"

"Manis banget ... gemes banget ..." aku menggertakkan gigi, pula berusaha tuk menenangkan rona merah yang perlahan merekah di pipiku, "Adik perempuanmu itu ... m-mirip banget ya, sama wajahmu, Shinsuke-san."

Dari anak tangga tempat diriku duduk menunggu perahu yang akan kutumpangi, dapat kulihat juga ─kendati samar─ Kita Shinsuke tersenyum. Manis. Semanis gulali dan permen kapas yang biasa terjual di pelabuhan Shanghai.

"Tapi, [Name] ... Sean bukan perempuan."

"... hah?"

"Maaf, Sean itu laki-laki."

Kita Shinsuke menghela napas, lantas sedikit terkekeh sembari menutup sela bibirnya, "Dia juga bukan adikku."

Napasku mendadak tercekat, usai mendengar ucapan Shinsuke yang kukira gurauan belaka,

"Sean itu anak kandungku."

Samudera, bisakah engkau meminjamkan palung terdalammu guna menenggelamkan diriku yang kelewat bodoh ini?

SNOLLYGOSTER, shinsukeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang