⚠️SEBELUM MEMBACA LEBIH BAIK DI MASUKAN KE READING LIST ATAU DOWNLOAD DULU YA! JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM SEMUANYA!⚠️
⚠️TERDAPAT KATA KATA KASAR DAN ADEGAN KASAR YANG TIDAK PATUT DI TIRU⚠️
⚠️Terdapat kata kata kasar dan adegan yang tidak pantas ditiru dibeberapa part⚠️
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SEBUAH langkah panjang dan tegap terlihat menyusuri koridor sekolah dengan tergesa. Sang empu terlihat marah dengan kedua tangan yang terkepal kuat.
Lelaki itu terus berjalan, tanpa peduli dengan orang-orang yang ia tabrak. Tatapannya menatap tajam ke titik di depannya—seorang gadis yang tengah berjalan sendiri.
"Woi anak baru!" pekik Arsen.
Suasana koridor yang ramai seketika menjadi sunyi, ditambah lagi, ketika si lelaki berhasil berdiri di samping gadis itu.
Arsen mengumpat saat Aca sama sekali tidak menghentikan langkahnya atau menoleh. Gadis itu tetap berjalan, entah karena memang dia tidak sadar, atau tidak peduli.
Kalau ini adalah film kartun, mungkin sekarang kalian bisa melihat asap yang keluar dari kepala Arsen, karena teramat panasnya.
Karena kesal, Arsen mencabut pengeras suara yang menyumbat telinga gadis itu, membuat sang empu menoleh terkejut
"Lo?! Apaan sih?!" sentak Aca, balik marah.
"Maksud lo apa, coret-coret mobil gue?" ucap Arsen, to the point.
Aca menaikan sebelah alisnya lalu menaikan bahunya, "Kenapa? Keren kan? You're welcome."
"Bersihin."
"Gak mau." Aca kembali memakai headset, dan berjalan meninggalkan Arsen, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Tangan Arsen terkepal sempurna, wajahnya memerah padam dengan rahang yang mengeras. "Gue bilang bersihin, sialan."
Arsen menarik headset gadis itu. Kali ini terkesan lebih kasar sehingga membuat pengeras suara Aca rusak.
Aca menatap nanar benda kesayangannya yang kini sudah putus. Ia menaikan pandangan dan menatap marah pada Arsen.
"Gue bilang gak mau! Paham gak sih?!"
Arsen melengos dan berdecih. Ia memainkan lidahnya dalam mulut, menatap gadis yang ada dihadapannya, dengan emosi yang siap meledak kapan saja.
"Lo mau balas dendam? Atau—caper?"
Aca memicing tidak suka, "Gak penting banget caper ke lo." desisnya.
"Terus maksud lo apa?" ucap Arsen, rendah.
Arsen berusaha menahan emosi, dengan tangan yang sudah terkepal sempurna. Ia masih sadar kalau Aca masih seorang perempuan. Dan Hanun—Bundanya—selalu mengajarkan Arsen untuk tidak bersikap kasar pada perempuan.