⚠️SEBELUM MEMBACA LEBIH BAIK DI MASUKAN KE READING LIST ATAU DOWNLOAD DULU YA! JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM SEMUANYA!⚠️
⚠️TERDAPAT KATA KATA KASAR DAN ADEGAN KASAR YANG TIDAK PATUT DI TIRU⚠️
⚠️Terdapat kata kata kasar dan adegan yang tidak pantas ditiru dibeberapa part⚠️
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
GADIS bernama Arshavina Chalondra itu benar benar menghilang dari pandangan Arsen, sampai membuat lelaki itu berdecak frustasi.
Di tempat sebesar dan seramai ini Arsen harus menemukan gadis keras kepala itu. Mau bagaimana pun, Mary telah menitipkan cucunya kepada Arsen.
Dan Ia tidak mau menjadi pria yang tidak bertanggung jawab.
"Nyusahin!" decak Arsen.
Saat sedang mencari gadis itu di tengah kerumunan orang-orang dewasa, mata Arsen terkunci pada sosok gadis yang berjalan sendiri menuju balkon hotel.
Arsen yakin itu adalah Aca. Ia mengingat gaun berwarna maroon yang melekat indah ditubuh Aca. Tunggu, melekat indah apanya? Gaun itu terlihat buruk jika gadis itu yang memakai!
Kaki jenjang Arsen membawanya kesana dan berdiri tepat di sebelah Aca dengan kedua tangan yang Ia simpan di saku celana. Arsen berdehem singkat.
Aca menoleh lalu merotasikan matanya, "Lo lagi, lo lagi!" ketusnya.
Arsen menaikan sebelah alisnya, saat melihat Aca yang membuat jarak di antara mereka. Ia menaikan bahunya sekilas.
"I just taking my responsibility." celetuk Arsen, tanpa menoleh sedikit pun.
"Whatever!" gumam Aca.
Setelahnya tidak ada suara lagi dari mereka berdua. Kedunya memilih untuk diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
Hanya ada suara alunan musik orchestra dari dalam hotel dan tiupan angin malam yang terasa sangat dingin dan menusuk.
Arsen menoleh dan melihat Aca yang nampak kedinginan. Terbukti bahwa, gadis itu mengusap lengannya sendiri, mencari kehangatan.
Arsen menghela nafas kasar. Ia melepas jas navy yang Ia kenakan, lalu berjalan mendekati Aca.
"Diem. Bunda ngajarin gue untuk bersikap gentle sama perempuan." selak Arsen, saat melihat wajah Aca yang hendak marah. "Ya, walaupun lo gak terlihat seperti perempuan normal." lanjutnya, terkekeh meledek.
Aca terdiam kaku. Bibir kecil yang biasanya mengeluarkan banyak ocehan itu tiba-tiba saja terasa kaku saat dirinya dan Arsen hanya berjarak satu jengkal saja.