Gadis kecil itu berdiri, menatap seorang lelaki paruh baya dengan tatapan sendu.
Perlahan air matanya menetes, membasahi pipi polosnya.
"Ngapain kamu ada disini? Pergilah! Ikut saja dengan ibumu! Dia yang dengan tega menghianati saya dan pergi bersama lelaki lain," ungkap pria parubaya itu, seraya menahan amarahnya yang memburu. Dadanya yang naik turun serta matanya yang merah menahan air mata.
Gadis kecil itu menggeleng pelan, sesekali menghapus air matanya yang membasahi pipi.
"Kenapa diam, hah?" Pria paruh baya itu menqrik napas, dalam. "Baik! Jika kamu tak ingin pergi, biar saya saja yang pergi," katanya dengan tegas lalu berlalu pergi meninggalkan gadis kecil itu, yang masih menggeleng tak percaya.
Namun, ketika diambang pintu. Pria paruhbaya itu berbalik badan dan menatap gadis kecil itu yang masih mematung, dan mencoba mencerna kata-katanya.
"Dan satu lagi, sekarang saya bukan ayahmu lagi," kalimat terakhir itu membuat gadis kecil itu menggeleng cepat. Ia berlari berusaha mengejar lelaki paruh baya itu, namun nihil dia sudah lebih dulu pergi menaiki mobilnya.
Gadis itu berlari berusaha mengejar mobil yang dikendarai ayahnya, hingga dia tak menyadari ada batu didepannya dan ... dia tersandung, tersungkur dijalan.
"Ayah ... jangan tinggalin aku, hikz." Gadia itu masih menatap mobil ayahnya yang kian menjauh, seraya tangannya terulur seolah ingin menyentuh mobil tersebut. Namun tak mungkin baginya.
Tanpa gadis itu sadari, pria paruhbaya itu mengintip, melihat dirinya dari balik spion mobilnya seraya menghapus air matanya yang sedari tadi ia tahan.
Sesungguhnya, ia tidak tega kepada gadis kecilnya. Tapi ... ia harus melakukannya.
"Kina."
"Hei Kina."
"Hah? I–iya Ngga, kenapa?"
Suara Angga membusarkan lamunan Kina, Kina menoleh kepada Angga.
"Kina, kamu nangis? Kenapa hah?" Angga menghapus air mata Kina yang tanpa sengaja terjatuh, ketika mengingat masalalunya.
"Kalau ada sesuatu cerita sama aku, jangan dipendem sendiri, ya." Kina menggeleng, mengusap air matanya seraya tersenyum kearah Angga.
"Gue gak pa-pa, kok."
Angga memegang bahu Kina seraya menatap mata Kina,
"Hei, jangan bohong, aku kenal kamu udah lama. Kamu gak mungkin nangis kalau kamu gak kenapa-napa."
Kina menunduk, dan sedetik kemudian bahunya berguncang tanda ia menangis.
Melihat Kina menangis, dengan segera Angga memeluk Kina, membiarkannya menangis dibahunya. Bermaksud memberi kekuatan pada gadisnya. Eh, mantan gadisnya. Ah, gimanasih deskripsinya?
"Udah! Nangis aja, gak pa-pa kok kalau itu bisa ngebuat hati kamu lega," kata Angga sembari mengusap puncak kepala Kina, lembut.
Kina mendongak menatap Angga sendu, sebelum kemudian kembali terisak didekapan Angga.
"Aku kangen ayah, Ngga ... hiks hiks."
Angga menarik napas dalam. "Iya, aku tau! Tapi kamu jangan sedih-sedih terus yah."
"Udah yah, jangan sedih terus. Kan masih ada aku." Angga tersenyum sembari mengusap air mata Kina yang sedari tadi masih terus mengalir membasahi pipi mulusnya.
Semilir angim sore itu membuat Kina sedikit lega, ditambah dengan suasana taman yang tidak terlalu ramai. Sehingga ia tak malu untuk menumpahkan isi hatinya, dengan cara menangis.
Yah, mereka sedang berada ditaman, setelah tadi mereka menghabiskan weekandnya dengan berjalan-jalan sore.
"Udah sore, yuk aku anter pulang," kata Angga, Kina mengangguk dan kemudian mereka pergi keparkiran untuk menaiki motor milik Angga.
YOU ARE READING
Kucluk Couple
Teen Fiction[Follow dulu yah] Cover by: TiaraAtika4 ***** "Dari ketidaksengajaan menjadi kebiasaan." *****
