BAB III - FIRST MEET

2 0 0
                                    

Satu hal yang disukai Syifa ketika berbelanja di pasar adalah semua bahan makanan yang dijual adalah bahan yang fresh. Bahan yang baru saja datang dari luar kota. Para pedagang biasanya mengambil barang dari distributor, kemudian menjualkannya secara eceran di pasar.

Pasar yang biasa disebut dengan Pasar Baru ini, sudah mulai beroperasi sejak pukul empat pagi. Bahan makanan yang dijualkan pun sama seperti pasar pada umumnya, ada sayur-sayuran, hasil laut, dan bahan makanan lainnya. Para pedagang menerima barang dari distributor sejak malam. Mereka sudah memilah-milah barang yang akan dijualkan. Biasanya para pedagang akan memisahkan bahan yang kualitasnya masih sangat baik dengan bahan yang kualitasnya sudah menurun. Bahan makanan yang masih fresh dapat ditemukan di pagi hari. Itulah alasan Umma mengajak Syifa untuk berbelanja di pasar lebih pagi.

Setelah salat subuh, Syifa dan Umma berangkat ke pasar dengan diantar oleh Ayah. Hanya mengantar, setelah itu Ayah pulang. Meninggalkan Syifa dan Umma untuk bebas berbelanja. Umma begitu serius memilih bahan makanan yang akan dibeli. Bahan dengan kualitas yang bagus, menjadi incaran Umma dalam memilih bahan makanan. Meskipun harganya lebih mahal, Umma tidak mempersalahkan hal itu. Setelah membeli bahan kue, Umma juga membeli bahan makanan untuk persediaan yang akan dimasak beberapa hari ke depan.

"Nak, Syifa pegang ini dulu, ya? Umma mau ke penjual kelapa dulu. Tadi lupa beli kelapanya, padahal 'kan itu bahan yang penting," jelas Umma sambil menyerahkan beberapa kantung belanja yang terbuat dari kain itu.

"Kenapa gak Syifa aja yang beli, Umma? Biar Umma yang tunggu di sini," ujar Syifa.

"Udah, gak apa-apa. Biar Umma sendiri. Lagian kamu juga gak tahu 'kan kelapa yang gimana?" Syifa hanya meringis malu dengan pernyataan Umma.

Kini Syifa tengah berdiri di dekat pintu luar, tepatnya di parkiran motor. Ia menatap beberapa kantung belanja yang cukup banyak di tangannya.

Karena cukup lelah berdiri, ia memutuskan untuk duduk di kursi yang ada di seberangnya. Namun, baru saja ingin melangkah, tubuhnya sudah ditabrak oleh seseorang hingga kantung belanjaannya berjatuhan.

Syifa tidak pernah berharap akan ada seseorang yang dengan sigap menahan tubuhnya agar tidak terjatuh seperti di film-film romantis yang cukup membuatnya muak. Sehingga ia sudah mempersiapkan diri dengan rasa sakit yang pasti akan dirasakannya.

"Astaghfirullah..." lirih Syifa. Benar saja, rasa sakit langsung menjalar di pinggangnya. Sejenak ia terdiam merasakan sakit hingga tersadar ada belanjaan Umma yang harus diselamatkan.

Beberapa barang belanjaannya sudah berhamburan hingga menarik perhatian para pembeli yang melintasi tempat itu. Segera ia bangkit dan berusaha mengacuhkan sakit yang dirasakannya. Ia harus segera menyelamatkan belanjaannya. Mengingat betapa pentingnya bahan-bahan itu untuk masakan Umma.

Jika biasanya orang yang menabrak akan langsung meminta maaf dan membantu membereskan kekacauan yang terjadi sebagai bentuk tanggung jawab, kali ini tidak. Syifa membereskannya sendiri. Bahkan hingga ia selesai, laki-laki yang menabraknya tidak mengucapkan satu kata pun. Rasa marah dan kesal mulai menguasai Syifa. Setelah dicek kembali ternyata sebagian sayur-sayurannya rusak.

"Astaghfirullah. Lain kali hati-hati dong kalau jalan, Mas. Lihat nih sayuran saya sudah rusak!" ucap Syifa kesal sambil memperlihatkan sayurannya yang rusak. Setelah itu, ia tak berhenti untuk terus beristigfar sembari membersihkan beberapa lumpur yang mengotori telapak tangannya. Tak dihindari pula rok yang dikenakan Syifa pun ikut kotor.

Pasar Baru ini masih tergolong pasar tradisional. Tidak semua lantainya sudah diberi keramik. Hanya sebagian tempat yang diberi keramik, khususnya di bagian penjual ikan dan penjual sayuran. Sedangkan di luar pasar, hanya diberi batu-batuan agar jalannya mudah dilalui oleh para pembeli dan jalan keluar masuknya kendaraan. Apalagi setelah hujan turun, jalanan jadi mudah berlumpur.

LAFADZ-LAFADZ CINTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang