Salah satu keutamaan bagi seorang penghapal Al-Qur'an adalah ia dapat memakaikan mahkota dan jubah kemuliaan kepada kedua orang tuanya di akhirat kelak. Mungkin hal itu menjadi salah satu alasan bagi para orang tua yang menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah Al-Hafidz.
Banyak yang mengatakan bahwa anak-anak lebih mudah menghapal daripada orang dewasa, karena pikiran mereka masih polos, hati mereka masih suci dan belum terkontaminasi dari godaan dunia yang begitu menyilaukan mata. Sedangkan, kebanyakan orang dewasa mudah sekali tergoda dengan urusan dunia. Jangankan menghapal Al-Qur'an, salat lima waktu saja mungkin seringkali terlewat ketika sudah larut dalam urusan dunia.
Namun, bagi Azriel menghapal Al-Qur'an adalah kegiatan yang cukup membosankan. Ia tidak bisa hanya duduk diam memandangi tulisan-tulisan Arab yang begitu banyak hingga memusingkan kepalanya.
Sejak tadi, ia bergerak gelisah. Membaca berulang-ulang ayat, lalu menutup buku bersampul merah—buku hapalan Juz 29—itu dan melafalkan tanpa melihat tulisannya.
"Susah banget, sih!" Karena suasana kelas yang cukup sunyi, semua anak di kelas itu dapat mendengar keluhan Azriel. Walaupun suaranya tidak terlalu nyaring. Akan tetapi, mereka mengabaikan suara Azriel dan kembali fokus menghapalkan ayat yang harus mereka setorkan sesaat lagi.
Haikal yang duduk di sebelah Azriel yang juga terganggu, langsung menoleh. "Sstt... Azriel..." Dengan suara setengah berbisik, Haikal menegur Azriel.
Sejenak Azriel menoleh, lalu menggaruk kepala yang sebenarnya tidak merasa gatal, ia frustasi. Mengerang kesal dan mengembuskan napas dengan kasar. Dari kemarin ia sudah menghapal ayat ini, tapi kenapa hari ini ia lupa lagi?
"Ayat ini susah banget dihapalin dari tadi, Kal. Padahal kemarin aku udah hapalin. Sia-sia tahu rasanya." Masih dengan suara berbisik, Azriel meluapkan kekesalannya.
Syifa yang semula memeriksa tugas murid-muridnya, mendongakkan wajah untuk mencari tahu sumber suara. Ia mengedarkan pandangan hingga melihat Azriel sedang berbisik pada Haikal.
"Azriel... Haikal... ada apa?" tanya Syifa. Suaranya selalu terdengar lembut dan penuh kasih sayang kala memanggil nama murid-muridnya. Mungkin hal itu yang membuat mereka merasa senang ketika diajari Syifa.
Merasa namanya disebut, Azriel dan Haikal menghentikan pembicaraan mereka. "Tidak apa-apa, Bu," jawab Azriel sambil menggeleng.
"Ya sudah, sekarang waktunya setoran hapalan, ya." Syifa membuka buku penilaian hapalan miliknya. "Yang namanya Ibu panggil, silakan ke depan, ya."
Syifa mulai memanggil satu persatu muridnya. Hapalan mereka bervariatif, ada yang menghapal Juz 30, ada yang Juz 29, bahkan ada pula yang hapalannya sudah banyak. Seperti Dhiya, gadis kecil berusia delapan tahun itu, sudah menghapal lima juz, lebih banyak daripada teman-teman seusianya.
"Alhamdulillah, Dhiya sering-sering muroja'ah lagi di rumah, ya. Biar hapalannya makin lancar," saran Syifa. Setiap murid-muridnya selesai setoran hapalan, Syifa akan selalu memberikan nasihat. Tak jarang pula ia memberikan motivasi agar mereka lebih semangat.
Dalam perkara menghapal Al-Qur'an, tidak cukup hanya dengan fokus menghapal dan membacanya secara berulang-ulang. Akan tetapi, butuh support system yang selalu mengingatkan dan memotivasi untuk terus semangat dalam menghapal. Bisa dari gurunya, bahkan bisa pula dari teman-temannya.
"Iya, Bu. Terima kasih, Bu," ucap Dhiya, kemudian kembali ke tempat duduknya.
"Selanjutnya... Azriel, silakan ke depan."
Ketakutan Azriel pun menjadi kenyataan, namanya disebut lebih awal dari perkiraannya. Dengan langkah gontai, Azriel berjalan ke hadapan Syifa. Ia menarik kursi yang ada di depan Syifa, kemudian mendudukinya. Azriel meremas kedua tangannya, ia takut bila tidak lancar.

KAMU SEDANG MEMBACA
LAFADZ-LAFADZ CINTA
SpiritualTentang Syifa yang memiliki percintaan di masa lalu kurang menyenangkan. Membuatnya tidak lagi percaya dengan laki-laki saleh sekalipun. Hingga bertemu dengan Hanan, laki-laki dengan wataknya yang dingin dan sombong. Namun, ia memiliki sisi baik ya...