BAB VI - A LITTLE SWEETNESS

1 0 0
                                    

Mag adalah penyakit yang dimiliki Syifa sejak kecil. Kebiasaan buruknya tidak pernah hilang. Ketika ia sudah fokus mengerjakan sesuatu, makan menjadi urusan kesekian. Ia bahkan sering keluar masuk rumah sakit waktu masih kuliah dulu. Mengerjakan tugas, laporan, mengikuti beberapa seminar dan aktif di dua organisasi internal kampus membuatnya tak pernah memperhatikan diri sendiri. Bahkan sampai Umma harus menyuapinya makan ketika ia sibuk mengerjakan tugas.

Ternyata hal itu masih berlaku hingga saat ini. Ia duduk sambil bersandar di kepala tempat tidurnya. Menerima suapan bubur dari tangan 'ajaib' milik wanita yang paling disayanginya, yaitu Umma. 

"Udah besar, kok, masih disuapin Umma, sih? Malu tuh sama umur!" ejek Ilham. Satu-satunya kakak laki-laki yang dimiliki Syifa. Perbedaan usia mereka tidak jauh yaitu hanya tiga tahun. Ilham seringkali mengejek adik perempuannya itu.

Syifa hanya cemberut tak membalas ocehan dari abangnya. Wajahnya pun tampak pucat. Hari ini ia izin tidak mengajar karena tubuhnya masih lemas.

"Udah, Umma. Kenyaang..." rengek Syifa. Rasa mualnya muncul lagi, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kalau sudah kambuh seperti ini, ia susah sekali untuk menelan makanannya.

"Ayo, makan lagi, baru dua suapan. Habis itu baru minum obat lagi." Umma menyodorkan sendok berisi bubur itu ke mulut Syifa. Syifa hanya menggeleng, ia masih menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"Satu kali lagi, baru udah, deh. Makannya nanti lagi. Sedikit-sedikit tapi sering." Akhirnya Syifa membuka mulut dan memakan buburnya. Ini suapan yang terakhir. Setelah itu ia minum obatnya lagi.

"Makasih, Umma. Maaf, karena Syifa merepotkan Umma." Syifa menunduk. Ia merasa bersalah karena sudah merepotkan ummanya sejak kemarin.

"Enggak apa-apa, Nak. Yang penting kamu istirahat biar cepat sembuh." Umma mengusap kepala Syifa yang tertutupi jilbab instan berwarna coklat. "Umma ke dapur dulu ya lanjutin masak buat Ayah."

Umma berlalu meninggalkan Syifa dan Ilham di kamar Syifa. Abangnya kemudian duduk di sebelah tempat tidurnya.

"Kalau Abang mau mengejek Syifa, entar dulu deh kalau udah sembuh. Syifa gak ada tenaga buat ngeladenin Abang." Syifa sudah bersiap menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya. Ia tidak bohong, badannya benar-benar lemas. Ulu hatinya masih terasa sangat perih. Pusingnya pun masih belum hilang.

Ilham terkekeh, "ya enggak, lah! Abang cuma mau nanya sesuatu sama kamu, dek..."

Syifa yang penasaran, mengurungkan niat menarik selimut. Wajah pucatnya menunjukkan ekspresi bertanya pada Ilham.

"Yang nganterin kamu kemarin siapa, sih?" tanya Ilham. Abangnya itu termasuk makhluk super kepo yang pernah Syifa kenal.

Saat di penghujung acara, Syifa pingsan secara tiba-tiba. Penyakit mag-nya kambuh ditambah dengan tekanan darah yang rendah. Hal itu cukup membuat beberapa orang disekitarnya panik. Terlebih Miss Aya yang berada di sebelahnya saat itu.

Syifa tak sadarkan diri selama kurang lebih sepuluh menit. Beruntung ada petugas medis yang disediakan oleh tempat wisata beruang madu itu. Syifa sempat dirawat sejenak, lalu setelah ia sadar, ia langsung diantar pulang ke rumah. Acara tetap berlangsung tanpa Syifa yang kemudian dilanjutkan oleh Pak Arman.

Kemarin Syifa diantar oleh Hanan. Sosok yang sebenarnya tidak diharapkan untuk mengantarnya. Akan tetapi, karena permintaan dari Azriel, ia menerima. Azriel merasa bersalah, karena ia memakan bekal Syifa dan menyebabkan Syifa terlambat makan.

"Udah, enggak apa-apa, Zriel. Ibu udah agak mendingan, kok," hibur Syifa. Senyum masih menghias wajahnya yang pucat. Azriel mengusap pipinya yang basah.

"Iya, Bu. Tapi Ibu pulangnya sama saya aja, ya? Sama Uncle saya, Bu," bujuk Azriel.

"Iya, mari saya antar. Nanti Ibu tunjukkan saja jalannya kemana." Hanan akhirnya bersuara setelah mendengar perdebatan Azriel dan Syifa. Ia merasa harus bertanggungjawab atas apa yang menimpa Syifa.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 05, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

LAFADZ-LAFADZ CINTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang