4. Sebuah Peluang

14 0 0
                                    

Disore hari, terik mentari sangat menyilaukan dari arah barat. Mata yang tengah terlelapun akan terbangun karena kehadiran cahaya dari langit.

Mata yang indah telah terbuka, membangunkan sosok putri salju

"ASTAGA GUA KETIDURAN!," teriaknya dengan suara yang terdengar serak.

Ia berusaha mengingat apa yang sebelumnya terjadi, gadis ini mengusap gusar wajahnya, ia juga menoleh ke semua arah ruangan UKS.

Kedua bola matanya membulat, ia terkejut saat melihat sesosok pangeran yang segan menemaninya sampai ikut tertidur pulas.

Si putri malang tersebut sangat penasaran dengan wajah pangeran yang sedang tertidur dikursi kayu, ia menuruni ranjang dan mendekatinya perlahan.

"Sean?," ia terkejut, mengapa sang raja SMA ada di UKS berduaan dengannya?!

Sementara itu ponsel sang pangeran tampan ini berbunyi dan membangunkan tidurnya.

Ia mengusap-usap mata, pemandangan yang pertama ia lihat adalah putri manis dengan helaian rambut panjang yang terurai, beberapa detik mata mereka saling menatap.

"HP lu, bunyi," celetuk Riri memecah keheningan. Sean tersentak kaget, ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah handphone dengan perilakunya yang kaku.

Sean terkejut saat telefon yang ia terima itu dari nomor Zasana, apalagi jam menunjukkan pukul 15.33 sore, Sean baru saja ingat oleh perjanjian mereka berdua.
Ia tak mengangkat telefon Zasana, dia justru mengecilkan volume handphonenya dan menoleh ke arah Riri yang masih memasang wajah masam.

"Ri?,"

Gadis ini tak mau menjawab panggilan dari Sean. Pria tersebut menghela nafasnya dengan sabar, ia mendekati Riri perlahan.

"Riri?,"

Bukannya menjawab, ia justru semakin memasang wajah masamnya!.

"Ayoo?, ke rumah kakek nenekmu," ujar Sean yang berhasil mengambil perhatian gadis ini.

"Kalau bukan karna kakakku, gue gakbakal mau," tatapan sinis penuh kebencian ini tertuju ke arah Sean, ia melangkah meninggalkan pria tersebut di UKS.

Lagi-lagi Sean harus bersabar, ia tak pantas mengeluh dan merasa kesal.
Sean mengikuti langkah Riri dari belakang.

"Ini balasan dari kesalahanku. Tuhan memang maha adil," fikir Sean dengan senyum pahitnya.

Riri hampir saja berjalan kearah yang salah, Sean berusaha menggapai tangan Riri, tapi gadis ini menepisnya begitu saja.

"Punya mulut kan?, sebutin arahnya, gak usah main pegang-pegang," ujar Riri tanpa menoleh ke arah Sean, ia selalu menatap ke arah depan.

Sean hanya bisa diam saja, saat ini Riri hanya butuh ketenangan, ocehannya bisa saja merusak moodnya.

Sesampainya diparkiran, Sean mencoba berbuat baik untuk sang putri es. Ia mencoba membuka pintu mobil untuk sang putri, tapi...

"Gue gak cacat, gue masih punya tangan," lagi-lagi kalimat yang terdengar agak kejam menusuk telinga Sean.
"Okey," hanya 1 kata yang bisa ia ucapkan.

Saat perjalananpun mereka sama sekali tak mengeluarkan suara, yang ada hanyalah kecanggungan, dan suasana creppy yang terpancar dari Antariksa Pati Rinjani.

1 jam berlalu, bahkan mereka hampir sampai di tempat tujuan.

"Berapa jam gue tidur?," tanya Riri memecah keheningan setelah sekian lama berada didalam mobil.

"7 jam," sahut Sean, kali ini suaranya terdengar sangat rendah dan penuh penekanan, Riri pun menyadari perasaan Sean dari nada suaranya.

"Lu kesel?," tanya Riri untuk kedua kalinya. Kali ini Sean tak menjawab.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 18, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

CENAYANGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang