(budidayakan follow sebelum membaca (❁'◡'❁)).
TAHAP REVISI‼️
........
Dimana seorang santriwati baru di Pondok pesantren al Ikhlas darussalam yang bernama ara , di umur 19 th nya ia di takdirkan menjadi istri dari gusnya yang belum lama ia kenal...
Artinya: "Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya." (HR. Al Baihaqi) .
Ara menatap Gus Fahmi dari atas pelaminan, matanya berkaca-kaca menahan haru. Setiap gerakan suaminya begitu tenang, penuh wibawa, tapi tetap membuat hatinya berdebar. Gus Fahmi menoleh sesekali, senyumnya lembut, seolah ingin berkata tanpa kata,
“Aku mencintaimu, selamanya.” Suasana akad begitu khidmat. Semua tamu menundukkan kepala, mendoakan keduanya dengan tulus.
Gus Fahmi mengangkat tangan Ara, memegangnya erat saat saksi-saksi membacakan ijab kabul. Suara hatinya bergema, “Ya Allah, jagalah dia, bahagiakan dia, jadikan aku suami yang selalu bisa membuatnya tersenyum.”
Ara menunduk sesaat, menahan air matanya. Suara Gus Fahmi yang merdu di telinganya membuatnya semakin luluh. “Aku terima nikahnya… dengan maskawin ini… aku menjadi isterinya dengan sepenuh hati,” ucap Gus Fahmi dengan mantap, disambut “MashaAllah” dari para tamu.
Saat akad selesai, Gus Fahmi menunduk, bibirnya menyentuh tangan Ara dengan lembut. Ara merasakan getaran cinta yang begitu dalam. Semua tamu bersorak, tepuk tangan menggema, tapi bagi Ara dan Gus Fahmi, dunia seolah hanya mereka berdua.
Di pelaminan, Ara memeluk Gus Fahmi sebentar, menempelkan kepalanya di bahu suaminya. “Mas… aku bahagia banget. Rasanya… semua doa aku terkabul,” bisiknya pelan, suaranya bergetar karena haru.
Gus Fahmi membalas pelukan itu, menepuk punggung istrinya dengan lembut. “Sayang… ini baru awal. Aku akan buat setiap harimu indah, setiap senyummu jadi tanggung jawabku, setiap air mata bahagiamu jadi kebahagiaanku juga,” ucapnya dengan suara rendah dan hangat, membuat Ara tersipu malu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sesi foto pun dimulai. Gus Fahmi menggandeng Ara, tangannya tak pernah lepas dari pinggang istrinya. Mereka saling menatap, tersenyum, dan sesekali Gus Fahmi menyelipkan bisikan manja di telinga Ara.
“Ara… cantik banget hari ini,” bisiknya.
Ara menoleh, pipinya memerah. “Mas… jangan terus godain ara deh, nanti orang-orang pada ngeliatin,” balasnya malu-malu, tapi hatinya meleleh.
Gus Fahmi hanya terkekeh, memeluk Ara lebih dekat. “Biar mereka lihat, ini istriku, dan aku akan selalu jaga dia.”
Acara resepsi berjalan lancar, para tamu tak berhenti memberi ucapan selamat dan doa. Tapi bagi Ara dan Gus Fahmi, momen yang paling berharga adalah tatapan satu sama lain, genggaman tangan yang erat, dan senyumnya Hingga akhirnya acara selesai.