Jaehyun lebih suka musim dingin daripada musim panas. Saat musim dingin ia akan mengenakan coatnya dengan modis lalu pergi memperhatikan salju turun ditemani dengan secangkir kopi hangat di kafe.
Di dalam mimpi, ia berlaku semaunya. Ia memunculkan salju, menaruh dirinya sendiri di depan kafe sembari menghirup latte panas yang perlahan kehilangan kalornya.
"Apa kau mau melihat saljunya lebih dekat?"
Pertanyaan dari pria yang menggunakan coat berwarna merah dihadapannya membuat kedua sudut bibirnya naik membentuk dua titik cacat. Jaehyun mengangguk, mengiyakan ucapan sang pemuda.
"Kau suka salju, John?"
Johnny Seo yang duduk di hadapannya menganggukan kepala. Ia menghabiskan kopinya sampai tandas. "Merasakan dinginnya salju jauh lebih baik daripada merasa terbakar di musim panas, bukan?"
Jaehyun tersenyum mendengar ucapan pemuda itu. Ia merasakan sesuatu di dalam tubuhnya menghangat mendengar Johnny yang berkata dengan begitu lembut padanya. Ia menghabiskan kopinya lalu menatap Johnny lekat-lekat.
"Kalau begitu, ayo kita pergi ke taman di sana?"
Tawarannya ditanggapi dengan senyuman. Demi apapun, Johnny adalah pria paling tampan yang pernah ia temui. Dan Ya Tuhan, Johnny benar-benar tipe ideal Jaehyun. Jaehyun adalah pria setinggi 180 cm yang menyukai pria yang lebih besar darinya. Ia lumayan kesulitan untuk menemukan sosok itu. Beruntung ia bertemu dengan Johnny. Bukan hanya tinggi dan tampan, Johnny juga mahasiswa Jurnalistik yang pandai menulis hal-hal manis. Membuat Jaehyun jatuh lebih dalam ke pesona pria itu.
Tak perlu waktu yang lama bagi keduanya untuk sampai di taman yang dimaksud. Padahal saat itu bulan sedang angkuh-angkuhnya menampilkan diri di langit, tapi seakan tidak peduli bahwa langit sudah sepenuhnya kelabu. Kedua orang itu berjalan lambat sembari menikmati suasana yang dinginnya menusuk lapisan coat mereka. Tidak ada tangan yang digenggam, kedua tangan mereka bersemayam di saku untuk menghangatkan diri.
"Tidak ada orang selain kita," komentar Jaehyun. Mata berwarma mahoni itu menangkap sekeliling dengan seksama.
"Sudah malam. Semua orang lebih memilih untuk tinggal di rumah mereka masing-masing." Johnny menambahkan. Keduanya tidak banyak bicara. Ruang hijau artifisial itu sebenarnya tidak semenarik itu, tapi mungkin karena terbawa suasana keduanya seakan larut dan terhisap ke dalam salju. Menganggumi sekitarnya dalam bisu.
Johnny berdeham walau tenggorokannya tidak gatal. "Jaehyun, kau tahu kita sudah lama saling mengenal 'kan? Mungkin tidak selama itu, tapi satu tahun sudah cukup bagiku untuk mengenalmu."
Sosok yang lebih muda mengangkat alisnya keheranan. "Ya... sudah lumayan lama."
"Betul. Karena itu.. aku... berpikir. Mungkin -jika kau mau tentunya- kita bisa.. kau tahu? Jadi lebih serius?" Johnny berujar dengan gugup. Pemuda tinggi itu sampai harus mencubit dirinya sendiri untuk menenangkan diri. Jaehyun menahan tawa karenanya.
"Maksudku- Kau, Jung Jaehyun, mahasiswa Jurusan Nanoteknologi yang sangat berbakat, jenius dan pekerja keras. Aku selalu mengagumimu semenjak aku melihatmu di kejuaraan robotik itu tahun lalu. Aku ingin terus bersamamu dan melihatmu bekerja keras. Aku mau jadi sosok yang kamu bisa andalkan walau.. yah.. aku tidak sepintar dirimu."
"Jaehyun."
"Aku menyukaimu."
"Apa kamu mau jadi kekasihku?"
Telinga Jaehyun memerah sempurna. Bukan karena dingin, tapi karena ucapan pria itu menghangatkan seluruh tubuhnya.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
Winter Moon || Johnjae
Fanfiction"Jung Jaehyun lebih memilih untuk bermimpi dibanding bertemu orang brengsek sepertimu, Johnny Seo." Winter Moon, nama alat itu. Alat yang bisa melemparmu masuk ke alam mimpi yang semuanya berisikan keinginanmu. Dan siapa sangka, Jung Jaehyun si jeni...