SM Hotel, XX XX 2050. 20:10 KST
Di luar sana berdengung. Suara blitz, suara mereka yang tengah bercakap-cakap, juga suara mereka yang tertawa rendah memenuhi ruangan besar itu tanpa memberi jeda. Harum makanan menyeruak kemana-mana, menggugah selera siapapun yang berada di sana untuk terus menambah porsi makanan mereka atau mungkin mengisi gelas yang terus mereka kosongkan.
Namun di balik kemewahan pesta yang tengah berlangsung, orang yang membuat pesta itu diadakan lebih memilih untuk terdiam di private room dengan segelas Pinot Noir di tangannya. Ia tidak melakukan banyak pergerakan, hanya menghela napas, menggoyang-goyangkan gelasnya dalam hening, memperhatikan bagaimana cairan berwarna gelap itu bergetar. Sesekali ia meneguk minumannya, melenguh lalu menyandarkan kepalanya ke sofa panjang yang tengah ia duduki, menikmati sakit yang mendera kepalanya.
Harusnya ia berada di kumpulan orang itu, setidaknya untuk bertegur sapa dengan orang yang ia kenal, menyanggupi permintaan berfoto, atau mungkin ikut tertawa dibuat-buat seperti mereka. Ya sebut saja, ia tak sopan, lancang karena tidak tahu terima kasih. Tapi, ada hal yang menjejali kepalanya hingga membuatnya tidak bisa berpikir. Bahkan ia hampir saja mengacaukan pidato pendeknya pada pukul delapan tadi hanya karena hal itu.
Tok. Tok. Tok.
Ia bisa mendengar suara pintu yang diketuk. Setelah terdiam barang beberapa sekon, ia menghabiskan minumannya, menaruh gelas itu di meja lalu mengelap bibirnya dengan punggung tangan. Setelah berdeham dan mengatur suaranya agar tidak terdengar serak, ia bersua. "Masuklah."
Sesosok pria muncul dari balik pintu. Sangat terlihat sekali kalau ia sangat lega menemukan sosok yang sedari tadi dicarinya.
"Kenapa Anda tidak diluar, Profesor?"
Jung Jaehyun hanya memamerkan senyum tipis saat pemuda itu mendekat dan berdiri di hadapannya. "Aku sakit kepala."
"Kalau begitu kenapa Anda meminum alkohol? Apa perlu saya carikan aspirin?"
"Tidak. Tidak perlu." Tangan pemuda itu dikibaskan. Jemarinya mengusak rambutnya yang kelam. Sekali lagi, hembusan kasar keluar dari hidungnya.
"Bukan sakit kepala secara harfiah sih. Kamu mengerti 'kan, Doyoung?"
Sosok yang bernama Kim Doyoung itu terdiam sejenak, kepalanya tertunduk kala melihat atasannya yang menampilkan senyum lirih. Membuatnya hanya mampu menunduk dan menghela napas guna menenangkan pikiran. Atasannya tengah banyak pikiran, sedikit ia merasa kasihan padanya.
"Koran Elektronik X News yang sudah melakukan janji beberapa hari yang lalu ingin melakukan wawancara dengan Anda. Apa Anda akan menyanggupi atau saya katakan saja pada mereka untuk mengubah jadwal?"
"Tidak perlu." Jaehyun membalas dengan cepat. Ia bangkit dari sofanya setelah merapikan kembali pakaiannya yang kusut karena lama tertekuk. "Aku tidak ingin menjadi orang yang tidak sopan cukup lama. Antarkan aku pada mereka, ya?"
"Baik, Tuan."
Pemuda penyandang marga Jung itu mengikuti langkah asistennya keluar dari ruangan sempit itu. Suara gaduh mulai menyapa indera pendengarannya saat pemuda itu menapakan kakinya di aula. Bisikkan-bisikkan keras seperti 'Itu Jung Jaehyun! Itu Jung Jaehyun!' membuatnya menarik senyuman sembari membungkuk berkali-kali pada siapa pun yang berpapasan dengannya. Ia tidak menipiskan sama sekali senyumannya walaupun cahaya blitz dari kamera menyapa matanya tanpa henti, membuat matanya sedikit perih.
Tapi, itulah Jung Jaehyun. Benar-benar pria yang rendah hati.
"Selamat malam, Tuan!"
Seorang pemuda berambut pirang secara tiba-tiba muncul di hadapannya. Mungkin Jaehyun terlalu sibuk membalas tatapan orang dengan senyum, sampai-sampai tidak menyadari keberadaannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Winter Moon || Johnjae
Fanfiction"Jung Jaehyun lebih memilih untuk bermimpi dibanding bertemu orang brengsek sepertimu, Johnny Seo." Winter Moon, nama alat itu. Alat yang bisa melemparmu masuk ke alam mimpi yang semuanya berisikan keinginanmu. Dan siapa sangka, Jung Jaehyun si jeni...