"Jung Jaehyun lebih memilih untuk bermimpi dibandingkan menghadapi monster brengsek sepertimu, Johnny Seo."
Johnny kehilangan kontrol. Tangannya sudah meremat erat kerah kemeja putih pemuda yang lebih kecil darinya. Napasnya memburu, wajahnya memerah. Beraninya orang ini berkata demikian dengan mudahnya kepadanya.
Ia pikir siapa dirinya?
"Apa maksudmu, bajingan?!"
Suara Johnny tidak jelas, entah bertanya atau membentak. Tapi suara yang meninggi itu tidak membuat Kim Doyoung gemetar sama sekali. Ia hanya mendengus, lalu mencengkram erat pergelangan tangan Johnny —walaupun ia tahu kalau tenaga mereka tidak akan sebanding.
"Jangan angkuh begitu, Johnny-ssi," balas Doyoung dengan suara yang tidak bersahabatnya. "Bukan hanya anda yang mengenal Profesor Jung dengan baik. Bahkan, jika saya diperbolehkan untuk angkuh, saya bisa bilang kalau saya tahu lebih banyak tentang Profesor daripada anda yang mengaku sebagai kekasihnya."
Tangan Johnny sudah bergetar. Amarahnya memuncak hingga ubun-ubun, benar-benar menyesakkan.
"Memangnya anda tidak tahu?"
Johnny bisa menangkap seringai tipis di bibir itu.
"Jika anda membiarkannya sendiri sebentar saja, Profesor akan sakit kepala atau menangis. Tapi, jika ia sudah menemui seseorang, senyumnya akan menjadi yang paling manis bagi siapapun. Memangnya anda tidak tahu soal itu?"
Pertanyaan itu tidak bisa dijawab oleh kata-kata oleh Johnny. Atau mungkin lebih tepatnya, pemuda jangkung itu tidak mau menjawab. Harga dirinya seakan diinjak-injak saat itu juga.
"Atau mungkin, sepertinya saya harus mengganti pertanyaannya." Mata tipis Doyong memincing. "Anda pikir siapa yang membuat Profesor seperti ini? Hingga membuat alat yang membunuh dirinya sendiri karena sudah tidak tahan lagi dengan tekanan yang selama ini tidak kita ketahui?"
"Siapa lagi kalau bukan anda, Johnny Seo?"
Cengkraman di kerah itu dilepas kasar, tubuh ringkih sang pemuda Kim sedikit terdorong ke belakang karenanya. Tidak ada suara yang terdengar selain napas memburu sang pria Seo yang amarahnya sudah meledak, namun ditahan mati-matian agar tidak terlihat bodoh dan menyebalkan.
Doyoung menatapnya sengit, beberapa detik kemudian ia mendecih lalu membalikan tubuhnya. Ia dihadapkan dengan monitor besar itu, tanpa menggerakan jarinya di atas keyboard sama sekali. Seakan tahu kalau semua itu sia-sia.
"Saya tahu ini kediaman anda, tapi, bagaimana kalau Anda meninggalkan saya di sini?" suara Doyoung melirih, tidak ada tekanan di sana. "Saya akan mencoba mengotak-atiknya lagi."
Johnny tidak membalas, ia sibuk mengatur deru napasnya yang tak beraturan. Ia sudah kesulitan untuk berpikir. Pertanyaan yang disemburkan Doyoung padanga mengacaukan cerebrumnya dengan sempurna. Kepalanya berdenging entah kenapa.
Ia mendengus. Tanpa berkata-kata ia meninggalkan Doyoung di ruangan kerja Jaehyun.
Dia memang tidak bisa membantu apa-apa. Johnny merasa bertransformasi menjadi seonggok sampah.
***
Bunyi mesin yang tidak bisa ia pahami terdengar sejak beberapa jam yang lalu. Doyoung terus bekerja di dalam sana, berusaha membangunkan atasannya dengan meretas alat itu. Di luar, Johnny tidak bisa tenang sama sekali. Entah sudah berapa lama ia bangkit dari sofanya lalu mondar-mandir karena ketenangan tak kunjung menghampirinya.
Ia benar-benar brengsek, Johnny tahu ia brengsek. Tidak, bukan berarti ia sudah merencanakan diri untuk menjadi seorang bajingan. Emosinya sedang tidak stabil selama beberapa bulan terakhir. Masalah bertubi-tubi menghantamnya tanpa ampun bagai ombak besar dan Jaehyun yang kebetulan tinggal di bawah satu atap dengannya terkena cipratannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Winter Moon || Johnjae
Fanfiction"Jung Jaehyun lebih memilih untuk bermimpi dibanding bertemu orang brengsek sepertimu, Johnny Seo." Winter Moon, nama alat itu. Alat yang bisa melemparmu masuk ke alam mimpi yang semuanya berisikan keinginanmu. Dan siapa sangka, Jung Jaehyun si jeni...