5. LALICE MANON

1.2K 162 4
                                        

Suara gaduh di sekitaran kampus di pagi hari sering kali lalice jumpai, entah apa yang mereka bicarakan sampai harus segaduh itu. Kadang kadang suara tawa yang menggelegar sering terdengar, terlebih dari seorang wanita bernama Diana. Gadis yang sering kali mencari masalah di kalangan siswi kampus ini. Oh, jangan lupa lenggok cara berjalan wanita itu! Dibuat buat dan menjijikan.

"Hey, lalice! Dilihat lihat kau sedikit cantik, bergabunglah bersama kali. Kujamin pasti kau akan populer"

Lalice menghentikan langkahnya, menaikan sebelah alisnya begitu merasa beberapa kalimat yang di lontarkan orang itu harus di luruskan. Sedikit cantik katanya? Oh. Rupanya mata orang itu perlu lalice colok agar melihat dengan benar.

Dirinya berbaik sambil mengibaskan rambutnya menahan gerah di hati, mentap prepensi yang baru saja berseru dengan suara jelek.

Wanita itu.

Lalice Manon, wanita berusia dua puluh satu tahun yang masih berstatus sebagai seorang mahasiswi di sebuah kampus ternama di Chicago. Ya, lalice dikatakan cukup populer mengingat dirinya adalah anak tunggal dari seorang duda tampan yang berprofesi sebagai pengacara terkenal. Jangan tanyakan dari mana lalice mendapat sikap serkas dan acuh, dirinya tumbuh bersama seorang pengacara yang terkenal dengan gaya bicara yang terkesan menusuk dan mematikan lawan.

Tidak dapat di pungkiri bahwa lalice benar benar seseorang yang sangat cantik, apalagi dengan tubuh proporsional itu. Ditambah pergaulan malam yang menyertainya, lalice sangat bisa dikatakan sebagai seseorang populer.

Dan apa kata nya tadi? Sedikit cantik? Hey, kambing hitam saja bisa membedakan mana yang cantik dan mana yang berbedak tebal di antara lalice dengan wanita cerewet bernama Diana itu.

Tidak bisakah wanita itu diam? Atau perlukah lalice mengambil batu untuk membungkam mulut sialan itu? Dengan senang hati lalice akan melakukannya. Ckh, sebenarnya siapa yang tidak balas meladeni wanita semacam Diana? Lalice saja malas untuk meladeni segala omong kosong wanita itu, tapi mengingat seberapa sering Diana mengomentari dirinya membuat lalice tertantang untuk bermain main sebentar.

"Lalice!"

Tiba tiba sebuah seruan yang meneriakan namanya membuat lalice menoleh, mendapati seorang wanita sebaya dengan dirinya tengah berjalan mendekat.

"Hai Brissta, ku dengar perusahaan ibumu launching lipstik baru? Boleh aku mendapatkan satu darimu secara gratis? Omong omong aku harus memeriksanya secara teliti agar lipstik itu tidak merusak bibir ku sebelum memborongnya"Diana berseru antusias begitu brissta telah berdiri tepat di samping lalice sambil menggandeng sahabatnya itu.

Ckh, omong kosong.

Penjilat.

Brissta memandang sinis, memborong katanya? Orang kaya mana yang meminta gratisan dengan omong kosong memborong. Bilang saja tidak mampu sialan!.

"Yang ada peroduk ibuku tidak laku karena adanya pengemis terkutuk sepertimu"hardik brissta dengan nada tajam yang berhasil membuat Diana membeku menahan malu.

Brissta menarik lengan lalice pelan "ayo lice, kau tau kan kalau orang kaya seperti diriku alergi dengan penjilat seperti mereka."katanya sambil membawa lalice menjauh dari sana.

Mengabaikan teriakan Diana yang menyumpah serapahi mereka berdua. God! Bukan kah harusnya Diana yang pantas untuk diberi sumpah serapah! Memang setan berkedok manusia seperti Diana sering tidak tahu diri.

Keduanya berhenti ketika sudah memasuki kelas dan telah mendidikan diri. Lalice tertawa begitu melihat gelagat brissta yang tampaknya masih emosi.

Lalice menerima uluran sebuah air minum dan roti yang di berikan brissta, ya brissta hampir memberikan sarapan yang dibawanya tadi untuk lalice begitu melihat wajah jelek Diana.

BRING THE KNIFETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang