9. THIS BASTARD!

1.6K 177 12
                                        

•••

Lalice berjalan dengan terburu buru sembari membenarkan tas selempang di pundaknya, mengabaikan tatapan orang orang yang terus memindai penampilan lalice sedari dirinya memasuki cafe. Gadis itu membenarkan sedikit surai coklat yang tampak tidak rapih, setelah selesai lalice menghela nafas dalam.

Mata bulatnya mengedar, memperhatikan lebih jeli setiap orang yang berada di dalam cafe itu. Sial, tampaknya hari ini pengunjung sedang ramai sampai membuat lalice berdecak kesal.

Namun ketika matanya tak sengaja menangkap suatu objek yang beruntungnya adalah tujuannya, lalice segera melangkah mendekat. Kedatangannya langsung di sambut oleh tatapan lekat dari sang ayah dan Noah albert. Dua pria yang memang menunggu kedatangannya dengan tujuan yang sama sekali tidak diketahui oleh lalice.

Anehnya, tidak seperti biasanya sikap sang ayah yang selalu to the point nyatanya kali ini John tidak langsung menyerukan sebuah kalimat tujuan. Melainkan mengulur waktu lebih lama, seperti memesan makanan dan minuman. Lalu John basa basi. Hal yang sangat langka terjadi.

Lalice mendengus jengah, menatap John berniat menyindirnya melalui tatapan karena terlalu lama tidak bicara "dad!"

"nanti, makan lah sebelum tenagamu habis setelah semua pertanyaan yang dad berikan"

Wajah lalice langsung pias seketika, bahaya. Pikirnya mulai berkelana, menebak nebak segala kemungkinan yang akan di tanyakan John dan segi alasan yang masuk akal sebagai pegangan lalice. Tidak bisa, lalice tidak boleh memilih sembarangan alasan jika sudah berhadapan dengan John.

Terlebih setelah kejadian 'telpon' kemarin, sial. Sambungan telepon yang harusnya terjadi perbincangan seorang anak dan ayah harus buyar ketika Jack berlaku kurang ajar.

Bagus, pria itu mendapat kenikmatan. Lalu sisanya, lalice yang menanggung beban. Lagi, untuk yang kesekian kali.

"Bagaimana dengan kuliah mu Barbara?"tanya Noah tiba tiba membuat lalice mau tak mau menghentikan acara berpikirnya

"Baik"

"Ya, tentu saja. Kau pintar, walaupun mungkin banyak yang berubah setelah lama tidak bertemu. Sampai kau melupakan ku?"

Lalice tersenyum kaku, merasa tidak enak hati setelah tidak bisa mengenali Noah waktu itu. Tapi lalice berani bersumpah, penampilan Noah yang membuatnya tak bisa mengenali sahabat kecilnya itu.

Bagaimana tidak? Jelas lalice mengingat anak laki laki dengan tubuh sedikit berisi dan mata biru ketika dirinya di new Zealand. Lalu tiba tiba pria tampan dengan tubuh kekar yang tegap menghampirinya mengaku sebagai sahabatnya di masa lalu. Gila saja, Noah benar benar berubah.

" maaf Noah....kau-"

"It's okay, itu sangat wajar lalice. Mungkin aku akan marah jika kita berpisah satu hari lalu kau langsung melupakan ku, tapi kita berpisah selama bertahun tahun. Itu sangat wajar terjadi."

Lalice mengangguk setuju "benar, itu salah mu karena berubah."

"Ya, salah ku"

"Kau terlihat sangat pasrah dengan jawaban seperti itu Noah"celetuk John yang setelah membersikan sudut bibirnya menggunakan tisu. Tatapannya beralih kepada dua anak muda yang duduk berdampingan itu.

BRING THE KNIFETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang