Tepuk tangan bergemuruh di seluruh penjuru ballroom hotel mewah yang bernuansa putih dengan interior elegan. Seluruh atensi fokus tertuju pada seorang pria bersetelan biru tua yang baru saja selesai memberikan pidato singkat yang segera diberikan reaksi riuh oleh setiap tamu yang menghadiri pesta malam ini. Lionel Bachtiar, pria dengan tinggi sekitar 180 itu tepat berusia 58 tahun pada hari ini. Sosoknya sangatlah familiar di mata publik, foto foto beserta berita mengenai pengusaha kelahiran Spanyol itu banyak tersebar di internet. Akhir akhir ini, tersebar rumor bahwa ia akan menjajaki dunia politik tahun depan. Hal itu menjadi salah satu faktor yang membuat kericuhan malam ini.
Sedang di sebelah meja kaca yang membentang, seorang pria bermata gelap menyapu pandangannya ke seluruh penjuru ballroom. Beberapa detik setelahnya, Jack menatap lurus ke arah Dante yang berjarak sekitar sepuluh meter di hadapannya. Tatapan keduanya terpaut selama beberapa detik sebelum akhirnya Jack memberi kode agar segera berpindah posisi.
Jack menegak segelas wine dengan tenang. Di sekeliling nya, Jack menangkap beberapa orang yang tampak curi curi pandang kepadanya. Bukan wanita saja, kebanyakan pria yang menatapnya secara terang terangan. Pria pria itu adalah orang orang politik, sebagian besar adalah pengusaha. Pesta seperti ini banyak di gunakan oleh orang orang seperti itu untuk menambah jaringan, untuk sebuah kepentingan. Namun, dirinya tidak peduli. Kesan menakutkan terlihat dari matanya yang tajam dan bahu kukuh yang terlihat angkuh membuat sebagian orang tidak berani untuk menyapa si putra Miller. Sehingga persepsi orang yang melekat pada si putra Miller adalah uang dan bahaya.
Malam ini, Jack memiliki rencana untuk sebuah kepentingan. Seperti yang telah di rundingan bersama sang ayah beberapa waktu lalu, ia yang di haruskan datang ke pesta ini. Jack akan berkenalan dengan Lionel Bachtiar, untuk sebuah kepentingan. Dante pun memiliki kepentingan tersendiri malam ini, semuanya sudah tersusun dengan terencana.
Sudut bibir Jack tertarik membentuk sebuah senyuman kecil. Tampaknya, tanpa melakukan usaha apapun, sang tujuan bergerak sendiri mendengat kepadanya. Tiga meter di hadapannya, Lionel Bachtiar melangkah dengan pasti ke arah Jack.
Sampai tepat berapa di hadapannya, Lionel menjabat tangan Jack. "Putra Joe, senang melihat mu berada di tengah tengah pestaku."
Sapaan itu, tentu saja langsung di balas oleh sebuah senyuman dari Jack. Perbincangan kedua orang itu terjalin dengan sangat lancar, Lionel rupanya adalah sosok yang sangat cerdas dalam berkomunikasi. Diam diam, Jack mencoba mempelajari Lionel Bachtiar selagi mereka berbincang. Ia tidak menyangka bahwa pria itu akan sangat terbuka terhadap nya, entah sengaja atau tidak Lionel beberapa kali memberikan informasi berlebih baik mengenai masalah bisnis dan masalah pribadinya.
Sayangnya, Jack sudah lebih dulu mempunyai berbagai data mengenai Lionel Bachtiar. Yang paling menarik adalah, Lionel Bachtiar adalah seorang pemain di dunia bisnis. Hal tersebut menjelaskan banyak hal, ia adalah pemain yang suka bermain aman, digunakan sekaligus di sembunyikan orang orang penting. Banyak sekali hal yang menarik menurut Jack mengenai si Bachtiar ini. Melihat bagaimana bersihnya citra pria itu, publik tidak akan pernah menyangka. Pengusaha tak berhati nurani yang menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi. Dan dengan tidak tahu dirinya, mereka membangun citra baik di mata publik.
"Sudah cukup omong kosong nya Bachtiar."ucap jack yang seketika langsung menghapus senyuman yang terukir di wajah Lionel. Bibirnya menipis, diikuti dengan rahang yang sedikit mengeras. Di lain sisi Jack mulai merasa terhibur karena berhasil menampar omong kosong pria di hadapannya. "Harusnya kau yang paling tau, orang orang seperti kita tidak melakukan basa basi dan omong kosong."
Lionel menggeram pelan, berbisik tajam "begini cara Dee Vaughn bermain sekarang?"
"Kau yang menghampiri aku. Dan begini lah cara Dee Vaughn bermain sekarang."Jack menatap datar pria berambut putih di hadapannya. "Maka bersiap siaplah, lindungi perusahaan, keluarga, dan orang orang penting mu. Yang perlu kau ingat adalah cobalah mencegah sesuatu yang tidak boleh di ketahui publik mengenai dirimu."
KAMU SEDANG MEMBACA
BRING THE KNIFE
Fiksi PenggemarMalam itu saat dua insan di pertemukan, keduanya berakhir dalam sebuah kenikmatan yang berujung berantakan. lalice dan jack adalah dua manusia dengan watak sombong dan ambisius terhadap satu sama lain. Enam bulan lalu mereka bertemu dalam satu malam...
