40 (PCM)

19.1K 2.4K 188
                                        

Dari surat Ursula,

Iaros tahu kalau Heinly membawa mantan istrinya itu menemui salah seorang petuah di Liberio, Ama, Iaros juga mengenalnya, wanita tua keturunan penyihir yang bisa berbahasa kekaisaran itu, juga pernah bertemu dengannya.

Ama lah yang memberitahukan Iaros soal bagaimana ibunya terjebak pada sihir jahat dan menjelaskan kalau Iaros bukanlah memenggal kepala ibunya, tapi memenggal kekuatan sihir jahat yang berupa iblis yang berada di dalam tubuh ibunya.

Heinly memang pernah bilang, kalau dia berencana membawa Ursula ke sesepuh yang dia kenal, tidak Iaros sangka kalau sesepuh itu adalah orang yang sama, orang yang mengajari Iaros soal ibunya.

Ursula tidak begitu rinci menceritakan harinya, gadis itu hanya bilang kalau dia menemui Ama bersama Heinly, Louise dan Margo.

Bercengkrama sebentar dengan beliau, dan pada saat pulang dia di hadiahkan sebuah kalung untuk keberuntungan dari Ama.

Entah itu mempengaruhi jiwanya yang terpecah atau tidak, Ursula sendiri tidak yakin, begitu pula Iaros yang membacanya.

Setidaknya, Iaros bisa sedikit lebih tenang, kematian Ursula, adalah satu-satunya yang Iaros tidak inginkan di dunia ini, dia tidak bisa kehilangan Ursula lagi, tidak melalui mimpi, tidak melalui apapun.

Ngomong-ngomong soal mimpi-

Iaros kembali bermimpi aneh semalam, mimpi yang sedikit berbeda dari mimpi sebelumnya.

Mimpi yang dia menjadi orang lain, bukan dirinya, tapi seperti dirinya dalam bentuk yang berbeda, dan orang itu juga hidup di dunia yang berbeda dari dunianya kini.

Yang paling anehnya lagi, dari mimpinya itu adalah; Iaros merasa asing tapi juga tidak terasa asing, seolah dia pernah mengalaminya sendiri tapi tidak mengingatnya sama sekali, dan di mimpi itu, dia seperti mencari seseorang yang tidak dia ketahui siapa yang dia cari...

Begitu terbangun pun, rasa frustasinya itu sampai terbawa hingga kini,

Kenapa dia tidak menemukannya?

Dan, siapa-

Yang ingin dia temukan di mimpinya itu?

Iaros memijit dahinya, merasa pusing, sebelum akhirnya kembali menghirup aroma lemon dari surat Ursula, aroma yang menenangkannya, itu hanya mimpi, tidak seharusnya dia terbawa dengan begitu mudahnya.

Sementara Iaros menenangkan dirinya, melipat surat Ursula hati-hati dan kembali menyimpannya-

***

Yvone masuk dengan paksa, walau Jean sudah menahannya di luar tenda, "IAROS, APA-APAAN INI!?" teriaknya, marah-marah pada komandan militer tertinggi negara lain.

Yvone memang ikut dalam perang kali ini, memaksa untuk ikut, karena bagaimanapun dia merasa bertanggung jawab karena dia tetaplah seorang putri, meski kerajaannya hancur tapi dia masih di anggap orang penting dalam hubungan antar negara.

Jean yang di belakang Yvone tampak kewalahan, "Maaf, komandan." Yvone sangatlah memaksa, "Jean, tinggalkan kami!" perintah Yvone, dia harus berbicara tempat mata dengan Iaros, harus.

Tindakan gila yang di lakukan pria yang di depannya ini, pria yang sangat dia cintai, dulu maupun sekarang, membuatnya gelisah, sangat gelisah, karena ini tidak seperti Iaros yang dia kenal, Iaros yang dia ketahui sebelumnya-

Jean tidak bergerak, dia hanya menunggu perintah dari Iaros seorang, bukan Yvone.

"Jean, tetap disini." ucap Iaros, untunglah Yvone tidak melihat surat Ursula-

Please Love MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang