Minggu demi Minggu terlewati, dan pembangunan pesantren sudah berjalan empat puluh persen. Raiden sudah menjalankan tugas serta tanggung jawab yang mamanya berikan dengan sangat baik.
Pria itu tak pernah melewatkan tugasnya bahkan secara langsung mengawasi dan memberikan pengarahan kepada para pekerja yang Ia sewa untuk pembangunan pesantren ini. Seperti sekarang, Raiden sedang duduk di pendopo yang dekat dengan lokasi pembangunan. Matanya menatap para pekerja dengan seksama.
Raiden berharap agar pembangunan dapat segera selesai. Ia tidak sabar ingin segera pulang ke kota. Daerah pelosok seperti ini bukanlah tempatnya, pesantren ini terlalu sunyi dan Raiden tidak menyukainya. Terlebih Raiden muak dengan keberadaan Zea dan Anak kecil yang beberapa waktu lalu baru Ia temui.
“Ck, mengingat mereka berdua membuat Mood ku jelek saja. “ Ujar Raiden mengusap leher belakangnya dengan kesal. Mereka berdua sudah menodai ketenangan otaknya itu.
Dasar penganggu.
Tentang kedua manusia yang Raiden anggap pengganggu itu, Ia sudah tidak melihatnya beberapa Minggu ini, terakhir kali Ia melihat keduanya adalah saat acara peresmian. Sepertinya wanita jalan itu menuruti perkataannya untuk tidak berkeliaran di sekelilingnya. Raiden berhasil menanamkan peringatan dikepala perempuan itu. Dengan begitu, hari-harinya dapat Raiden jalani dengan baik, Meski tetap saja Raiden harus mengawasi pergerakan Zea, takut wanita licik itu melakukan sesuatu yang merugikan dirinya. Jika hal itu terjadi, maka detik itu juga Raiden akan menghabisi Zea dan anak kecil itu.
Ditengah lamunannya, Raiden memunculkan seringai disudut bibirnya dengan tajam. Pikirannya memainkan imajinasi yang sedikit membuatnya merasakan kesenangan.
Benar, aku akan menghabisi anak itu dihadapan mu, jika Kau berani bermain-main dengan ku
Raiden akui bahwa apa yang ada Dibayangkannya itu bisa Ia jadikan salah satu rencana, jika saja terjadi penggerakan dari Zea. Entah kenapa, tapi hatinya amat sangat mengharapkan hal itu terjadi, sepertinya Raiden akan sangat menikmati melihat Zea yang menangis histeris memohon ampunan kepadanya. Betapa Raiden sangat ingin melakukannya, entah kenapa rasa kebencian yang mendalam terhadap wanita itu semakin mengakar dihatinya.
Namun, jika dipikir-pikir akan lebih merepotkan baginya ketika hal yang dipikirkannya terwujud. Pasti akan menimbulkan masalah baru baginya. Memang Ia akan memusnahkan masalah mengenai Zea, tapi selanjutnya masalah yang lebih besar akan muncul. Mamanya akan mengamuk jika mengetahui kelakuan Raiden yang terlibat suatu kasus, Ia mengetahui karakter mamanya tersebut dengan sangat baik.
Raiden rasa Ia hanya perlu bersabar dan menikmati kenyamanan saat ini, toh tidak ada pergerakan apa pun dari Zea dan anak kecil itu. Saat ini yang perlu Raiden lakukan adalah fokus terhadap pekerjaannya saja.
Ya, pekerjaan adalah prioritas ku saat ini.
Hingga tak terasa waktu tiga minggu terlewatkan dengan damai oleh Raiden. Pembangunan kini sudah mencapai enam puluh persen. Ternyata para pekerja cukup baik dalam melakukan pekerjaannya, Raiden merasa sangat puas.
Hujan sore itu cukup deras, Raiden berteduh di pendopo yang berdekatan dengan lokasi pembangunan seorang diri, Ia terjebak disana. Memang hari ini pekerjaan sedikit terlambat dan akhirnya baru bisa dibereskan ketika hari waktu menjelang magrib.
Udara dingin menusuk pori-pori kulit nya, Raiden mengeratkan tangannya didepan dada untuk mencari kehangatan. Ia berdecak dengan kesal, apa tidak ada seorang pun yang lewat dan bisa Ia mintai tolong? Selain dingin tempat di sekitar pendopo juga sangat sepi.
KAMU SEDANG MEMBACA
RESILIUNT (Revisi)
Non-FictionRaiden yang memendam kekesalan akan kekasihnya yang ternyata telah menduakannya dengan pria lain, akhirnya menerima permintaan mamanya untuk pergi kesebuah desa terpencil untuk mengawasi pembangunan pesantren yang didanai oleh Bundanya tersebut. Nam...
