.
.
.
.
.
Hawa dingin menggigiti tengkuk Jungkook tatkala ia dan dua figur lain memasuki terowongan bawah tanah gelap. Padahal di luar sana terik mentari antusias mengais melanin dari kulit. Organ vital bertalu kisruh di balik rusuk. Pemuda itu bisa mendengar suara saudari kembarnya di belakang kepala mengutuk kecerobohan diri. Bahkan desis lembut sang tunangan yang akan mencegah tungkai melangkah ke destinasi berbahaya.
Minzy berjalan paling depan. Menuntun dua anak malaikat melalui area sempit yang menerbitkan gamang. Mereka kembali menuruni tangga curam. Witchlight terangkat tinggi demi memberi efek eksplisit pada visi agar tidak tersandung kaki sendiri lalu jatuh hingga memicu cedera kronis.
“Aku benci ini, Jin.” Jungkook mendesis ketika kepala berpaling ke dekat telinga Seokjin dari depan. “Kau sadar warlock itu tengah menuntun kita ke—“
“Ke sarang musuh?” Minzy di barisan terawal menyahut nyaring sebelum berpaling pada Jungkook. Tidak heran. Warlock memang punya indra super. Terutama yang tengah memandu mereka ini. “Kau tentunya tidak dalam keadaan sinting saat memutuskan datang kemari demi jadi pahlawan tunanganmu kan, nephilim?” sepasang pupil warna terang berkilat tertimpa sinar temaram dari witchlight milik Seokjin.
“Tolong antarkan saja kami ke tempat yang dibutuhkan. Kau bisa melakukan hal mudah ini kan, warlock?” desak Seokjin tak sabaran. Tidak ingin kewarasan diinfiltrasi oleh lebih banyak cemas. Namjoonnya mungkin saja sedang sekarat. Tidak boleh ada waktu yang terbuang. Tidak peduli jika harga yang diganjar adalah nyawa sekalipun. Tekadnya sudah bulat. Jika ini yang mesti dilalui agar ia bisa melihat sang belahan jiwa kembali, akan dikerjakan segenap hati. Agar hidup tidak diliputi penyesalan abadi.
“Silahkan lewat sini kalau begitu.” Serengit terulas di sudut mulut si warlock mungil saat mereka tiba di jalan buntu. Dua tangan terangkat ke atas selagi menggumam pelias. Bergerak perlahan dari atas hingga ke bawah. Mendadak cahaya hijau keemasan menutupi bagian bawah dinding. Menjalar hingga ke puncak. Menjelma portal magi. Minzy menengok pada dua Pemburu Bayangan di belakang. “kalian bisa ikut aku lewat sini.” Ia kemudian melangkah ke dalam sana. Menembus tembok.
Dua mata Seokjin melebar akibat takjub sebab itu kali perdana ia menyaksikan portal sihir yang bisa menembus benda padat. Melirik Jungkook sekilas yang balas menatap ke arahnya. Memberi gestur menyemangati sebelum melangkah menembus dinding. Seokjin mengekori sang kawan.
Tetungkai terasa menjejak jeli selagi kulit dijejalkan ke dalam kepompong dahak. Laksana mengatup mata, Seokjin hanya melihat semut multiwarna dalam semesta gelap.
Di sekon berikutnya situasi kembali normal. Kaki kembali menapak permukaan solid namun ia berdiri di tengah rimba pada puncak malam. Sebab sekeliling diselubungi gelap meski tidak sempurna. Indra si Pemburu Bayangan masih mampu menjumpai bangunan di hadapan yang tampak seperti mahligai milik dewa Kematian. Megah namun mencekam. Meledakkan teror dengan dramatis.
“Ratu Emas tinggal di dalam kastil ini.” Komentar Minzy sembari melangkah ke dekat pagar gigantis yang tingginya nyaris setara dengan puncak menara bangunan utama. Sepuluh kepala gorgon tampak berjajar menghiasi bagian tengah. Sebelah tangan sang warlock terangkat selaras dada. Gerbang terdorong membuka tanpa sedikitpun terjamah.
Jungkook menarik napas panjang sebelum mengikuti si gadis rambut kuning. Seokjin refleks menggenggam tangan pemuda itu demi meredam gelora di dada. Mereka terkena secuil efek kejut saat melintasi area terlarang bagi kaum nephilim.
Ludah diteguk cemas saat netra menyorot Manticore penjaga pintu masuk. Minzy terdengar memberi instruksi pada makhluk itu untuk menyingkir dalam bahasa yang hanya dipahami oleh kaum Dunia Bawah. Dua Pemburu Bayangan sedikit terkejut kala menyadari bahwa otak mampu menafsirkan kalimat yang ditutur sang warlock. Kemampuan yang diperoleh dari gallene keduanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
MNEPHLESCION {NamJin/HopeKook/TaeGi/Jimin}
FantasySequel Mundane Menial Pedang beradu saling denting Peluru terlontar menggema desing Gulita mengintai di balik bayang hening Reminisensi dibedah demi menguak enigma bergeming Sang Pelayan Fana bergaris darah asing Paham bahwa sihir tak sekadar instin...