chapter 2

96 28 4
                                    

happy reading guys!!!

Teriknya Surya memancar kan sinar yang mampu membakar kulit sampai lapisan terdalam. Para Maba sudah tidak sanggup lagi jika terus berada dibawah sini. Keringat sudah basah membanjiri baju. Dahaga mulai terasa karena sedari tadi mereka bahkan belum minum sedikit pun.

Helena putri, salah satu dari maba yang sedang menjalani ospek ikut merasakan derita yang maba lain rasakan. Ia sudah mulai letih, dengan inisiatif yang tinggi, Helena akhirnya memutuskan untuk duduk sebentar walau yang lain masih setia berdiri.

Ia mengibaskan name tag ke arah wajah nya. Tidak peduli dengan tatapan julid yang tertuju pada nya.

"Panas banget woi, mendung dikit Napa? Nih kulit lama lama gosong juga" gerutu Helena.

Ketika sibuk meratapi keadaan, tak sengaja pendengaran nya menangkap suara bentakan dari seseorang yang ia tahu adalah presiden Mahasiswa

Helena yang merasa kepo, mencoba untuk melihat kegaduhan tersebut. Helena terkejut, sebab sorot mata nya melihat sosok pemuda yang ia temui kemarin.

Ia pun mulai menerka, apakah pemuda itu juga termasuk Maba yang ikut ospek hari ini? Lama bergelut dengan pikirannya, dan sekarang Helena tahu, ternyata emang pemuda itu juga Maba disini.

"Kasian banget tuh anak"

Ada rasa iba yang hinggap di hati Helena, mengingat kejadian kemarin, helena pun merasa tidak enak hati.

******

Istirahat yang dinanti oleh Helena akhirnya pun tiba. Sekarang tujuan nya yaitu satu pergi ke kantin untuk beli minum. Jujur, saat ini helena sangat haus rasanya kayak dia sedang berada ditengah gurun pasir. Dengan cepat, ia pun menuju ke kantin. Namun, saat melewati toilet ia tidak sengaja mendengar suara keluhan dari seseorang. Perlahan tapi pasti, Helena masuk ke dalam toilet untuk memastikan sumber suara tersebut

"Ya Allah, kapan ni hukuman gue selesai. Kalo toilet nya aja udah kek toilet umum"

Helena baru ingat kalo pria itu yang kemarin sudah menolong dirinya dari kejaran anjing. Ia merasa iba dengan keadaan si pria. Dengan inisiatif yang tinggi, Helena langsung pergi ke kantin untuk membeli air minum

Ada saja hambatan nya, kantin disini sedang ramai dipenuhi oleh para Maba. Tanpa berpikir panjang lagi, Helena nekat menerobos dari panjangnya antrian.

"Woy, budayakan antri dong"

Banyak teriakan yang dilemparkan dari sejumlah Maba tapi tidak dipedulikan oleh Helena

"Buk, air mineral 2 sama roti nya 2 Bu"

"Total nya 20 ribu mba"

Helena menyodorkan sejumlah uang, dan dia pun langsung keluar dari sana. Bodo amat dengan ucapan orang, sekarang yang ada dipikirannya hanya pria tersebut.

Syukur, pria itu belum selesai dari hukuman nya, ia pun masuk ke dalam toilet tanpa izin dari nya

"Astaghfirullah, lu ngapain di toilet cowok?"

Pria itu sangat terkejut, bagaimana nanti kalo ada yang melihat nya. Bisa panjang urusan nanti.

"Tenang, gue disini ga ada niat yang lain kok. Nih air mineral dan roti buat Lo"

Pria itu sedikit bingung, kenapa nih cewek tiba tiba ngasih minum? Perasaan nya, dia tidak ada memesan minuman. Apakah ini yang dinamakan rejeki turun dari langit? Tapi kenapa wajah perempuan tersebut seperti tidak asing lagi

"Lo inget gue ga?" Tanya Helena. Cukup lama untuk Endri mengingat siapa perempuan dihadapan nya saat ini. Dan sekarang ia tahu, siapa perempuan ini

Janji Kita (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang