Jisoo kini sudah sampai di mansion. Dia membuka pintu mobil dan segera keluar dari sana. Harinya sangatlah melelahkan kali ini, dari berkuliah, mengurus perusahaan, serta tadi kejadian yang tak terduga. Jisoo memijat pangkal hidungnya ketika merasakan pusing. Setelah merasa lebih baik Jisoo berjalan menuju pintu yang menjulang tinggi dihadapannya.
"Semoga aku bisa beristiraha," ujarnya. Jisoo membuka pintu besar itu lalu dia berjalan masuk kedalam, dan membiarkan pintu itu terbuka lebar.
"HUKUMAN APA YANG HARUS APPA BERIKAN KEPADAMU, KATAKAN AHN CHAEYOUNG!"
Jisoo memberhentikan langkah kakinya ketika mendengar teriakkan nyaring dari arah ruang keluarga. Sekarang apa lagi? Baru beberapa langkah ia melangkahkan kakinya masuk, dan sudah disambut dengan teriakan nyaring dari sang Ayah?
"Ahjuma," panggil Jisoo kepada salah satu pelayan yang lewat. Jisoo berjalan mendekati pelayan itu.
"Ne, ada yang bisa saya bantu nona Jisoo?" tanyanya dengan lembut.
Jisoo melihat wanita yang berada dihadapannya ini. Niatnya ingin meminta untuk membawakan tas kerjanya, namun melihat kondisi sang pelayan, yang nampak kelelahan membuatnya mengurungkan niatnya. Wanita tua sepertinya seharusnya beristirahat di rumah, dan membiarkan sang anak yang menggantikannya mencari sepeser uang, tapi Jisoo begitu salut dengan kegigihan wanita tua yang ada dihadapannya ini, walaupun usianya sudah tidak muda lagi. Namun semangatnya dalam bekerja begitu keras.
"Ah, ya. Apa yang sedang terjadi? Mengapa aku mendengar appa berteriak-teriak seperti tadi?" tanya Jisoo sembari menatap mata sang pelayan.
Pelayanan tersebut menundukkan kepalanya tak berani menatap Jisoo kembali. Entah kenapa, namun sepertinya ia kebingungan ingin menjelaskan seperti apa situasi saat ini.
"Ahjuma?" panggil Jisoo lagi.
"No-nona Rosé membawa nona Lisa pergi keluar dari kawasan mansion," jelasnya dengan sedikit terbata-bata. Para pelayan ataupun supir tau, bagaimana overprotektif nya putri sulung Ahn ini kepada sang bungsu.
"Jinjja?!"
Jisoo berlari masuk dengan rasa kesal terhadap adik ketiganya tersebut. Ketika sudah sampai di ruangan keluarga, ia bisa melihat kedua adik bungsunya yang tengah menunduk tak berani menatap sang Ayah yang tengah emosi karena keduanya.
Terlihat juga adik pertamanya yang tengah duduk santai sembari melihat kedua adiknya yang tengah dimarahi. Jennie hanya menonton saja, dengan ekspresi wajah yang seolah puas melihat kedua adiknya yang terkena omel.
"Appa bicara denganmu Roséanne." Terdengar sang Ayah yang menekankan perkataannya.
Rosé yang disebut namanya hanya bisa menunduk dan terdiam. Tanpa ada rasa berani untuk menjawab perkataan sang Ayah.
"Perlu appa cabut seluruh fasilitas yang appa berikan kepadamu?!" tanyanya lagi. Diam, Rosé masih terdiam dengan pandangan yang menunduk.
"Ahn Chaeyoung--
"Appa, cukup. Ini tidak sepenuhnya kesalahan unnie. Aku juga salah, marahi aku juga, jangan hanya Rosé unnie saja," potong Lisa. Ia tidak tega melihat sang Kakak yang dipojokkan terus menerus oleh sang Ayah.
"Ini kesalahan kalian berdua," timpal Jisoo. Dia berjalan mendekat kearah keempat orang yang tengah berdebat di tengah ruang keluarga itu.
Atensi keempatnya langsung teralihkan kearah Jisoo. Dimana yang baru saja datang dengan tas kerjanya yang masih ia genggam di tangannya.
"Unnie...."
Lisa berdiri hendak menghampiri Kakak sulungnya itu, namun tangan Jisoo terangkat seolah menyuruh Lisa agar tetap diam ditempat.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Need More Space
FanfictionSebuah kejadian di masa lalu yang membuatnya harus terkurung didalam rumahnya. Tidak pernah lagi diberikan izin oleh ayahnya untuk keluar setelah kejadian tersebut melanda. Ini hanya mengisahkan seorang gadis yang sangat ingin kebebasan, yang sangat...
