Can't Go Home Until the Rain Lets Up

6 3 2
                                        

Rintik hujan mengetuk jendela kaca Aria, membangunkannya dari tidur tanpa mimpi. Sekarang pukul tujuh pagi, tetapi kamarnya masih remang-remang. Cahaya matahari tidak mampu menembus awan gelap di langit dan Aria tidak cukup peduli untuk menyalakan lampu.

Aria benci pagi hari.

Terkadang ia menunda untuk bangun sampai pukul sembilan, atau sepuluh, atau dua belas. Pada hari-hari tertentu ia bahkan tidak meninggalkan ranjang sama sekali. Ia tidak mengerti bagaimana orang-orang bisa mengepalkan tangan dan bersorak dengan semangat sebelum bangkit dari tempat tidur mereka. Kalau dunia terserah Aria, ia akan memilih untuk terus tidur. Barangkali selamanya.

Matanya beralih ke jam digital di sudut pintu. Tujuh lebih tiga puluh. Masih terlalu pagi untuknya. Jejak air mata dari kemarin malam bahkan masih belum sepenuhnya hilang. Baju bekas 'kencan' kemarin juga terasa tidak nyaman dipakai sampai sekarang. Bunyi rintikan hujan semakin ganas menyerang kaca jendela. Aria menutupi kepalanya dengan bantal. Ia sangat, sangat tidak ingin bangun hari ini, apalagi setelah kejadian kemarin. Kesadarannya semakin lama semakin menghilang....

Aria terbangun.

Kali ini kilat disertai gelegar guntur menjadi pelaku utamanya. Jam dinding menunjukkan sepuluh lebih lima. Bulir hujan masih terlihat berjatuhan di luar jendela. Barangkali hujan tadi berhenti sebentar sebelum berlanjut kembali atau memang badai berlangsung tiga jam berturut-turut. Aria tidak peduli. Satu hal yang pasti adalah ia masih tidak ingin bangun. Perempuan itu menutup mata kembali.

Aria ... terbangun, lagi.

Tidak ada tersangka yang jelas untuk iterasi ini. Sepertinya pikirannya sudah terlalu letih untuk tidur dan memaksanya kembali ke alam sadar. Dua belas kurang sepuluh. Derasnya hujan mulai berkurang di luar. Lima jam berturut-turut hujan, langit pasti sedang sangat berduka hari ini. Aria memaksakan diri untuk bangkit dari ranjang setelah alarm ponselnya berbunyi untuk yang kesekian kali.

Pintu kayu dibuka lebar-lebar, Aria menggeliat sebelum menaruh mantelnya di gantungan. Bunyi komputer terdengar dari ruang kerjanya. Ia memutuskan untuk mampir mengecek sebelum pergi ke kamar mandi untuk membasuh diri.

Tiga layar monitor mengelilingi sebuah kursi empuk yang diduduki oleh figur tengkorak tanpa ekspresi. Aria merangkul punggung kursi dari belakang, memeriksa pekerjaan yang dilakukan oleh tulang belulang yang ia hidupkan sebagai penggantinya. Banyak surel yang masuk di hari Senin. Semuanya sudah dijawab sebagaimana Aria biasa menjawabnya. Sempurna. Ia mengusap pucuk kepala si bawahan sebagai hadiah sebelum berlari kecil ke kamar mandi.

Oh, kalian tidak benar-benar mengira Aria cuma manusia biasa, kan?

***

Handuk di sekitar leher, rambut setengah basah, dan pakaian santai dikenakan. Aria duduk di kursi menghadap sebuah cermin besar. Dua kali siulan dan sepasang kerangka manusia berbalut pakaian pelayan datang ke sisinya. Yang satu membawa alat pengering rambut dan yang lainnya memberikan pijatan kecil pada pundaknya.

Aria melihat bayangan yang terpantul di permukaan cermin. Orang biasa tidak akan dapat melihatnya, hanya sebagian kecil yang pada zaman sekarang jumlahnya semakin berkurang. Kabut hitam mengelilingi tubuhnya, begitu pekat hingga ia tidak bisa melihat wajahnya sendiri.

Setelah benar-benar kering, Aria memberikan isyarat dan mereka meninggalkan tempat. Hampir saja si gadis mendapatkan motivasinya ketika pikirannya melayang kembali ke kejadian kemarin. Ia meneriaki kawan kerjanya yang mengajaknya pergi keluar untuk yang pertama kali sejak entah kapan. Entah untuk yang keberapa kalinya Aria berharap mendapatkan kebahagiaan hanya untuk dijatuhkan lagi. Napas panjang dikeluarkan. Barangkali seseorang sepertinya memang tidak pantas berbahagia.

Aria beranjak kembali ke kamar tidur. Toh, tidak banyak yang perlu dilakukan dengan tulang hidup yang mengurusi berbagai pekerjaannya. Lagi pula ia tidak ingin menyentuh sesuatu yang berbau pekerjaan untuk beberapa saat ini. Hal itu mengingatkannya pada Jun dan ia tidak suka itu. Biarlah Jun melupakannya supaya mereka menjalani hidup sendiri-sendiri.

Saklar lampu dinyalakan. Kamar Aria terlihat lebih berantakan dari biasanya. Ia mengempaskan diri ke ranjang empuk di tengah. Diari lengkap dengan alat tulis di atas nakas menarik perhatiannya. Ia beringsut ke sudut tempat tidur. Menuliskan permasalahan hari ini barangkali akan meringankan bebannya, betapa sedikit pun itu.

Perutnya berbunyi tiba-tiba, syukurlah tidak ada orang di sekitar untuk mendengar. Sekarang pukul satu lebih tujuh. Pikirannya begitu kalut hingga ia melupakan bahwa sudah dua belas jam lebih berlalu sejak ia terakhir memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.

Jemarinya gesit meraih ponsel dan membuka aplikasi pesan makanan. Teknologi akhir-akhir ini begitu memudahkan. Ia bahkan tidak perlu bertemu siapapun untuk mendapatkan makanan dari jauh. Tidak ada risiko seseorang menyentuhnya dan hal-hal buruk terjadi pada mereka. Satu porsi makanan dipesan dan kini Aria tinggal menunggu.

Oh.

Kaca jendela depan masih belum diperbaiki.

Hampir saja Aria lupa. Ruang yang terhubung dengan jendela depan tidak dihuni siapapun dan telah dikunci rapat salah satu pelayan tengkoraknya. Sekalipun ada pencuri masuk, Aria tidak khawatir soal keamannnya dengan pasukan belulang yang tidak pernah tidur di setiap sudut. Seenggan apapun ia untuk bangkit, dirinya tidak ingin tetangga mengira bahwa perampokan ketika melihat jendela rusak dengan serpihan tajam bertebaran di mana-mana.

Satu gemerisik kunci dan putaran gagang pintu kemudian, Aria mendapatkan dosis udara segar pertamanya untuk hari ini. Bau hujan masih menguar tajam dari tanah basah. Benar saja, bagian depan rumahnya terlihat seperti tempat kejadian perkara kasus kejahatan dengan serpihan kaca, jendela pecah, dan seorang lelaki dengan pakaian bersimbah darah....

Jun?

Pupil Aria melebar, satu langkah mundur secara refleks diambil. Sejak kapan Jun berada di sini? Bukan, ia masih memakai pakaian yang sama dengan yang kemarin. Artinya ... Ia tidak pulang? Jun mengangkat satu tangan, menyapa seolah tidak ada yang aneh dengan situasi ini. "Yo."

"Kupikir aku sudah menyuruhmu pulang kemarin." Aria menarik diri. Pintu diayun mundur, tetapi Jun gesit menahan dengan tangan kiri. Si perempuan mendecakkan lidah. Ada celah dua senti antara dirinya dan Jun yang tidak bisa dihilangkan sekeras apapun ia menarik gagang pintu.

"Nggak bisa pulang. Hujan." Mata Jun melirik ke samping ketika menjawab, kentara sekali kalau berbohong.

"Bodo amat. Pulang, Jun. Anggap saja kita nggak pernah ketemu. Ini semua demi...," Aria menggigit bagian bawah bibir, wajah berpaling, "...kebaikanmu juga."

"Oh, mulia sekali mbak Aria ini." Jun mengerahkan sedikit lebih banyak tenaga pada jemarinya, menarik pintu lebih lebar. "Aku ingin tahu bagaimana reaksi para tetangga ketika mereka mendengar kalau ada tengkorak berjalan yang menghuni rumahnya."

"Nggak ada yang begituan. Kau mengigau. Pulang."

"Oh, tentu saja ada. Aku lihat satu berjalan mengunci pintu kemarin malam."

Ah, sial.

Aria lengah. Jun pasti belum pergi ketika salah satu dari mereka mengamankan ruang tempat jendela pecah. Pria di depannya mengangkat satu alis, tahu bahwa ia sudah menang.

"Jangan khawatir. Mulutku tertutup rapat asalkan mbak Aria yang sangat mulia bersedia memberi penjelasan."

"Kau ... kenapa?"

"Ah, bagaimana menjelaskannya, ya?" Jun mengusap janggut. "Aku hanya tidak bisa berdiam diri kalau ada perempuan menangis."

Jawaban macam apa itu?

Aria menatap lurus ke bola mata Jun. Ia cukup percaya diri dengan kemampuannya menerka kebohongan seseorang. Jawaban konyol, tetapi Jun tidak bohong.

Aria melemaskan tangannya dan daun pintu perlahan terbuka. Jun melirik ke sekitar satu kali lagi sebelum mengikutinya masuk.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Judul diambil dari kutipan lirik lagu Lemon oleh Kenshi Yonezu

MiasmaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang