A Walking Contradiction

18 4 5
                                        

Matahari mulai tenggelam. Dentuman bola sepak dan decit jungkat-jungkit bertemu alas ban karet telah lama berakhir. Seorang perempuan jangkung lengkap dengan kantung mata dan jas putih yang hampir menyentuh lantai menutup buku di tangan. Pandangannya beralih ke seorang guru muda yang masih terlelap di ranjang tempat siswa biasa membolos. Ia mengecek arloji di pergelangan tangan. Empat lebih lima belas.

"Jun, ruang UKS mau kututup, kau mau kukunci di dalam atau nggak?" Sudut buku dengan sampul bergambar lingkaran sihir dan seorang berkepala licin menyodok pipi Jun, tetapi yang bersangkutan hanya menggumamkan beberapa baris kalimat tidak jelas sebelum membalikkan kepalanya ke sisi bantal yang lebih dingin. Si perempuan berjas panjang menghela napas, tangannya merogoh saku untuk sebuah kunci panjang bergerigi. "Aku anggap itu jawaban iya. Nomor satpam kutempel di kotak obat, telepon dia kalau kau bangun."

Ketika pintu hampir ditutup, Jun tiba-tiba bangkit dari tempat tidurnya.

"Aria!"

Perempuan penjaga UKS nyaris saja menjatuhkan kunci dari genggaman. Ia memandangi Jun seakan yang bersangkutan baru bangkit dari kubur, sementara si pasien menoleh ke kanan dan kiri, mencari seseorang tanpa memedulikan  kondisinya. Jun hendak turun dari ranjangnya, tetapi nyeri menyerbu kepalanya. Suster gagal tersebut terburu ke sisi si pria.

"Oi, oi. Jangan buru-buru bangun. Kau baru sadar. Ah... tadi kubuatkan teh tapi kau tidak sadar, jadi kuminum sendiri. Sebentar, kuambilkan sesuatu."

Setelah meneguk segelas air putih, kesadarannya mulai kembali. Jun meraba bagian belakang kepalanya, tetapi tidak mendapati bekas luka maupun perban. Kerah kemejanya juga terasa kering. Dahinya berkerut.

"Del, kerah bagian belakangku warnanya apa?"

"Biru?"

Ada yang ganjil. Jun yakin benar kalau tadi kepalanya terbentur sesuatu dan ia merasakan sensasi hangat --darah-- pada tengkuknya. Apa yang tadi cuma mimpi?

Jun memutar roda gigi pada otaknya. "Del, aku tadi pingsan?"

"Yup."

"Di mana?"

"Di taman, sendiri. Kukira kau ketiduran di sana."

"Nggak ada, uh ... darah atau semacamnya di sana?"

Medela mengusap janggut. "Nggak. Memang kepalamu habis terbentur? Kau nggak ingat apa-apa sebelum pingsan?"

Jun menimbang apakah ia harus bercerita dan akhirnya sampai pada konklusi yaitu: ya. "Itu ... Ada Aria yang keseleo, lalu aku bopong dia, lalu ada bola mendarat di wajahku, lalu kepalaku berciuman dengan paving dan aku pingsan karena itu. Sebentar, kau nggak lihat Aria yang kakinya keseleo parah?"

Tangan kanan Medela pelan-pelan mendorong Jun kembali ke posisi berbaring, sedangkan tangan kirinya menutupi tubuh si guru dengan selimut. "Kau mengigau, Jun. Tidur, sana."

"Hei, hei. Aku serius! Hei, jangan kunci pintunya! Medela, aku tahu kau pura-pura tidak dengar. Hei!"

***

Jun hampir saja yakin bahwa yang kemarin hanyalah mimpi, bunga tidur akibat mengerjakan nilai hingga larut malam. Namun, sebuah surel dari alamat yang biasanya hanya digunakan untuk menyampaikan keluhan teknis mengubah pikirannya.

ariariariaria@uinemail.com

Pak Jun, kepala anda tidak apa-apa, kan?

Oke. Satu, dengan adanya surel ini, Jun tahu bahwa kemarin ia pasti bertemu dengan Aria, tidak peduli seberapa keras Medel bersikeras kalau gegar otak ringan membuatnya berhalusinasi. Dua, detail tentang insiden kemarin berbeda jauh dengan apa yang diingatnya. Menurut beberapa bocah yang berada di sekitar, Jun tersandung ubin batu yang menonjol karena usia sebelum jatuh secara dramatis. Tiga, Aria sepertinya sangat, sangat khawatir atau porsi kerjanya jauh lebih sedikit dari yang Jun bayangkan.

MiasmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang