Akhir Musim Panas
"Rai, liat pacar abang nggak?" Gala mencari eksistensi koleksi action figure Waifu kesayangannya.
"Enggak." Geleng Raia.
"Duh, dimana ya?"
"Bukannya kemaren udah dimasukkin ke kardus item yang di kamar Abang?" Tanya Raia yang tengah sibuk mengeluarkan sisa barang-barang pindahan dari dalam kotak.
"Nggak ada..."
"Udah dicari?" Raia menyeka keringat di pelipisnya.
"Kalo daritadi udah ketemu abang nggak bakal nanya, Rai." Gala menghela napas.
"Ketinggalan kali?"
"I think so." Gala menganggukkan kepalanya.
"Ish, kebiasaan. Terus gimana? Mau diambil?" Raia kesal.
"Iya, kamu nggakpapa kan abang tinggal sendiri?"
Dasar wibu akut, Raia membatin.
"Mmm." Raia mengangguk, meski ia sedikit khawatir karena benar-benar ditinggal sendirian di lingkungan yang masih asing baginya.
"Oke, just call me up kalo ada apa-apa, i'll be back in a bit." Gala mengacak rambut Raia sebelum melenggang pergi.
"Iyaaa, abang, drive safe yaaa." Raia melambaikan tangan.
"Siap, Rai."
"Eh iya, pintunya jangan lupa ditutup!" Raia mengingatkan Gala yang hobi meninggalkan rumah tanpa menutup pintu. Yang disusul dengan suara pintu yang tertutup.
Dan tinggallah Raia sendirian di rumah barunya. Sebuah pondok di pinggiran kota, jauh dari hiruk pikuk kesibukan metropolitan. Hanya ada tiga pondok lain yang berada pada area yang tersebar di jalan yang sama, Jalan Meraki. Sebuah jalan yang dikelilingi hutan lebat. Di sisi timur jalan, ada sebuah pondok tua yang terlihat asri. Tembok dan atapnya yang pudar tertutup dedaunan ivy. Sementara di balik pepohonan rimbun di sepanjang jalan menuju persimpangan, berdiri sebuah pondok modern yang tampaknya baru selesai dibangun.
Mama masih melanglang buana, begitu pula Poppa. Namun, sepuluh tahun terakhir, poppa tidak pernah kembali, memaksa mama pergi untuk menghidupi. Raia tidak pernah protes, apalagi marah. Ia paham, paham sekali akan keadaan yang dihadapi keluarganya. Entah berapa lama ia dan abangnya akan menetap di pondok ini untuk sementara waktu sampai semuanya membaik.
Hari berselang, bulan meremang, menampakkan cahaya lembut yang makin kontras dengan datangnya sandikala, memaksa siang berganti malam. Sudah pukul enam petang, matahari sudah tenggelam, namun Gala belum kunjung pulang.
Diambilnya handphone yang tergeletak di atas nakas, Raia menekan papan ketik, melayangkan pesan singkat untuk sang abang.
Raia
Abang
Ketemu nggak
Udah sampai manaaa
Mau nitip beli sayur buat besok ya, here's the list:
–list weekly groceries
Abang Gila
Ketemu :D
Sebentar lagi
Ya
Mau jajan sekalian?
Raia
Good

KAMU SEDANG MEMBACA
Something Magical - Jake Sim
FanficZeshka (with Raia)'s adventure to break the spell casted by an unknown witch. BILINGUAL - written in Bahasa Indonesia (and a bit of English).