Hari pertama selepas terlempar ke masa lalu, atau lebih tepatnya dua hari dalam kalender liburanku. Aku terjebak di masa lalu, pada abad tiga ribu sebelum tahunku. Atau perkiraan seribu tahu sebelum Masehi.
Ya. Seperti yang kulihat sendiri. Bermula memimpikan seekor naga sampai-sampai ke bawa halu segala. Aku bertemu seekor naga tadi malam. Ya, seriusan. Awalnya gak percaya sih. Apalagi saat melihat sosoknya berada di hadapanku. Membuatku berpikir sejuta kali. Apa ini mimpi? Apa aku berhalusinasi? Tapi di pikir-pikir ini benar. Aku merasakan danmemegang naga itu serta membelainya layak seekor kucing.
Mungkin selepas ini aku bisa gila melihat itu semua. Tapi setidaknya aku senang, apa yang ku imajinasikan bisa terwujud. Walau masih gak percaya.
Dear Diary.
Selain bertemu dengan seekor naga. Ada sesosok Monster Berjubah tengah mengejar kami. Namanya Varax, dan dia hendak menangkap nagaku. Apapun yang terjadi, entah monster Berjubah atau makhluk lebih seram darinya. Aku gak akan biarin Danemon dalam bahaya.
Apapun yang terjadi? Ku pastikan nagaku baik-baik saja. Sekian.
Tertanda.
Kayzan.
Entah hari apa, bulan apa, yang pasti seribu tahun sebelum Masehi.
"Kayzan lagi berbuat apa?" tanya Danemon menatap ku menulis buku diary.
"Biasa, menulis gak jelas. Aku bosan mau ngapain dari tadi?" Aku menghembuskan nafas panjang. Menoleh.
Terlihat Arfi membalik lembaran sebuah buku tua yang begitu tebal. Pandangannya tertuju pada kalimat-kalimat di halaman tersebut. Tak tahu apa yang tertulis di sana, sehingga membuat sahabatku itu terus membacanya. Padahal hari sudah menjelang sore. Semenjak Patra berbaik hati meminjamkan buku. Arfi kembali menjadi si kutu buku dan memiliki kehidupan sendiri. Kira-kira sudah berapa lama kah dia membaca? Matanya kuat sekali.
Puh! Aku memandang keluar, melihat kesibukan kota di balik jendela. Suara riuh masih terdengar, walau tak seramai tadi pagi. Beberapa gerobak, dan kereta pengangkut barang berlalu-lalang di jalanan. Sebagian lapak pedagang ada yang sudah tutup, bahkan ada yang baru buka.
"Kayzan, apa yang kamu bawa itu?" Danemon penasaran dengan alat tulis yang ku bawa.
"Ini," aku menunjuk alat tulis tersebut. "Apa kamu mau meminjamnya?"
Danemon mengangguk penasaran. Aku menyobek kertas pada buku harian dan memberikan pensil pada Danemon. Naga biru itu menerimanya dan mulai mencoret-coret di kertas yang kuberikan. Pandangannya fokus sekali, seolah ingin membuat sebuah karya. Namun malah coret-coretan aneh yang dibuatnya.
Aku tertawa melihatnya.
Seperempat jam kemudian. Aku kembali menghela napas. Bosan diam melulu. Danemon dan Arfi asyik dengan kegiatan masing-masing. Tak ada sesuatu yang bisa ku ajak bicara. Mungkin aku berkhayal saja, mikir-mikir gak jelas.
Tok! Tok! Tok! Terdengar suara ketukan pintu.
"Arfi! Kayzan! Apa kalian mau ikut pergi jalan-jalan ke kota?" teriak Mirla dari balik pintu.
"Jalan-jalan ke kota?" Mataku terbuka lebar, spontan berlari menuju pintu. "Sepertinya menarik, aku ikut," aku membuka pintu dan mendapati Mirla berdiri di ambang pintu. Ada Griffer duduk manis sambil menggoyangkan ekornya seakan menyapa diriku.
"Apa kamu tidak ikut Arfi?" tanya Mirla memandang heran, Arfi yang asyik terlarut dalam bacaannya
"Emang mau kemana? Makan? Kita sudah makan siang tadi. Aku gak ikut dah,". tuntas Arfi, enggan keluar dari bacaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE DRAGON ELEMENT (Terbit)
Fantastik(Terbit dinaungan JetMedia Publisher) Kenangan pasti dimiliki di setiap ingatan semua orang. Tentang suka cita, duka lara. Semua tersimpan di memori. Adakalanya kenangan itu terputar kembali, membuat duka lara terngiang di hati, membuat jiwa terasa...
