bulan sabit itu terbit saat sudut sudut bibir Jeno terangkat. membentuk senyum seindah bulan purnama. matanya lekat menatap sosok itu. laki laki yang selalu dirindukannya selama lima tahun terakhir. laki laki yang membuatnya melakukan penerbangan di pagi pagi buta hanya karena satu pesan singkat.
laki laki itu ada disana. nyata. dan sedang tersenyum lembut sembari menikmati suara petikan gitar yang dihasilkan oleh jemari Jeno.
ingatan ingatan masa lalu muncul tanpa bisa dikendalikan oleh laki laki april itu. semua hal manis yang pernah ia lalui dengan Mark. bahkan laki laki itu hampir terlihat sama seperti terakhir kali Jeno melihatnya. hanya terlihat lebih dewasa dengan kumis tipis yang menghiasi dagu runcingnya.
lihatlah. bahkan dari jarak hampir 10 meter Jeno bisa membau aroma laki laki itu. masih sama seperti lima tahun yang lalu. temaram lampu pun tak mampu menutupi aura yang menguar dari laki laki berumur 27 tahun tersebut.
tak perlu waktu yang lama untuk menghancurkan segala hal indah dalam pikiran Jeno. satu orang lagi datang. dengan dress hitamnya yang menarik perhatian beberapa pasang mata. duduk berada dalam satu sofa dengan Mark. ikut menatap Jeno dengan rambut hitam lurusnya.
"aku sadar siapa diriku
yang tidak mungkin menggapai mu
kau terlalu indah untuk jadi kenyataan
namun bila ada sedikit
ruang hati tuk ku singgahi
tak kan pernah ku sakiti"
Hwang Yeji.
harusnya Jeno sadar dari awal. tidak ada kesempatan untuknya kembali pada si leo. matanya mengerjap cepat. berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh meluruh.
dihadapannya. Mark Lee terlihat sangat serasi dengan Hwang Yeji.
jadi ini alasan Mark menanyakan perihal kepulangannya? ingin menunjukkan pada Jeno bahwa ia berhasil kembali menaklukkan Hwang Yeji?
iya Mark. Jeno mengaku kalah sekarang. tidak. Jeno sudah kalah bahkan dari awal pertemuan mereka. Mark tidak pernah memiliki perasaan apa apa untuknya. Mark hanyalah menganggap Jeno sebagai adik kecil yang perlu dilindungi. dan hubungan yang sempat terjalin diantara keduanya hanyalah kesalahan. kesalahan paling indah yang pernah Jeno rasakan.
Jeno tersenyum miris. mengingat betapa ia excited menyempatkan pulang ke Korea saat tau jadwal konsernya sedikit padat bulan ini. perasaannya kembali dibuat kacau oleh Mark.
setelah habis satu lagu. sesegera mungkin ia menuruni panggung. berjalan cepat ke meja sang kakak. tanpa berbicara sedikitpun ia mengambil tas ransel kecilnya dan berlalu begitu saja. kembali menghilang disela sela kerumunan. seperti lima tahun yang lalu.
————
Jeno memainkan butiran pasir lembut ditangannya. memandangi kerlip lampu dari seberang sungai. berteman dengan angin malam yang seolah membungkus tubuhnya. bulir bulir kecil seolah tak ingin berhenti berjatuhan membasahi pipi tirusnya.
bagaimana mungkin laki laki yang sama dari lima tahun yang lalu membuatnya kembali merasakan sakit hati untuk kedua kalinya? Jeno pikir ia telah menerima kenyataannya. merelakan Mark hidup bahagia bersama orang yang dia cintai.
tapi nyatanya hati Jeno tidak sekuat itu. sedikit menyesal mengorbankan waktu liburnya yang tidak seberapa untuk memastikan kenyataan yang menyakiti ulu hatinya.
ia menghela napas berat. mengusap kasar pipinya dengan punggung tangan. memeluk tubuhnya erat. semilir angin terasa menyinggungnya ditengah kesendirian. membuatnya menenggelamkan kepala diantara kedua lutut yang tertekuk.
"tempat ini masih sama kaya lima tahun lalu ya Jen."
suara itu mengejutkan Jeno. bersamaan dengan kehangatan menyelimuti badannya dari udara malam, pemilik suara itu duduk disampingnya. membuat Jeno seketika menoleh untuk memastikan.
tangannya dengan hati hati mengambil jas yang tersampir di punggungnya. menyerahkannya kembali kepada sang pemilik.
"dingin Jen. kamu ga kuat dingin kan. nanti kamu sakit." Mark tersenyum lembut. mengambil jasnya lagi dan kembali menyelimutkannya ke punggung Jeno yang hanya terlindungi oleh kemeja tipis.
"jangan nangis lagi ya."
Mark melarikan jari jarinya ke pipi Jeno. mengusap pelan bulir air di pipinya. menatap Jeno yang terlihat masih terkejut dengan kehadirannya.
Jeno masih memproses ucapan laki laki —ahh lebih tepatnya pria disampingnya ini. aroma Mark menyeruak, menyesakkan indera penciumannya. membuat kepalanya terasa sedikit pening seketika.
"aku kan udah janji gaakan buat kamu nangis lagi Jen."
—apa apaan ini Mark!
