Chapter 2

627 50 9
                                        

Diazepam merupakan obat turunan dari bezodiazepin. Biasanya digunakan sebagai terapi tambahan meringankan spasme otot rangka karena inflamasi atau trauma dan juga meringankan gejala-gejala pada penghentian alkohol akut dan premidikasi anestesi.

Itu adalah jenis obat yang sedang Jimin kerjakan laporan hasil praktikumnya di ruang tengah. Pukul lima sore, dengan secangkir cappuccino dan sekantong kesabaran menunggu Seulgi pulang. Gadis itu mengirim pesan jika dia mampir ke fresh market sebentar, membeli bahan makan malam dan berjanji sampai dirumah dalam waktu dua puluh menit, yang berarti sekarang Seulgi sudah berada di area sekitar apartemen.

"Aku pulang."Itu dia.

Ketuk highheels terdengar rusuh di belakang sebelum Seulgi melemparkan diri ke sofa dan menjatuhkan kantong belanjaan begitu saja ke lantai. Dia mengganggu Jimin dengan cara meminjam paha laki-laki itu sebagai bantal.

Jimin menjauhkan seluruh pekerjaannya, "Sesuatu yang buruk terjadi ?" tanyanya membetulkan posisi kepala Seulgi kemudian mengusap rambutnya. "Gadis kurus itu meniru karyamu lagi ?"

Seulgi mendengus. "Bukan hanya sekedar meniru, tapi Sally juga menumpahkan segelas iced Americano tepat di lembar masterpiece ku," kesalnya nyaris menggeram. "Kupastikan suatu saat aku akan menyiram sketsa miliknya dengan bubur nasi."

"Pastikan bubur nasinya hangat," tambah Jimin, membuat Luhan Seulgi dengan satu jentikan kecil dikeningnya. Kebiasaan Seulgi, membalas apapun tindakan orang yang dia pikir itu menyebalkan.

Mungkin terlihat sedikit berlebihan, tapi sejak beberapa tahun terakhir, melihat Seulgi yang merangkak lalu mengangkangi Jimin bukanlah hal yang perlu dibubuhi tanda tanya. Seulgi suka melakukannya, ditambah Jimin yang tidak pernah menolak. Seperti sekarang.

"Mau makan apa nanti malam ?"

Jimin berpikir sementara lengan Seulgi melingkar dilehernya, menunggu. "Chicken teriyaki ?" ucapnya membuat satu senyum simpul yang manis tersampir di sudut bibir Seulgi.

"Oke. Dua porsi chicken teriyaki." Satu kecupan untuk Jimin sebelum Seulgi beranjak ke kamar, mengganti pakaiannya dengan sesuatu yang lebih parah. Hotpants super pendek dan kamisol hitam ketat. Berperilaku seperti sepasang kekasih walau kenyataannya mereka tidak lebih munafik daripada sahabat.

...

Telah banyak malam yang menjadi saksi bagaimana Jimin dan Seulgi menghabiskan waktu berdua untuk saling mendustai perasaan masing-masing. Seulgi adalah yang paling banyak. Terkadang dia berpikir apa untungnya melakukan semua ini, menyerahkan tubuh pada Jimin kapanpun lelaki itu menginginkannya dan mengerang bersama-sama seperti serigala betina yang gila disetubuhi.

Tapi dia tidak menemukan jawabannya dalam waktu dekat, begitu pula Jimin yang memilih tidak peduli.

Dengung hairdryer memenuhi kamar, Seulgi duduk di kursi meja hias dengan Jimin yang bersandar di kepala ranjang (sedang memperhatikannya) tersedia dibalik cermin. Dia dapat melihat tangan laki-laki itu bersedekap di dada. "Kenapa ?" tanyanya pada Jimin lewat perantara cermin.

"Warna apa lagi sekarang ?"

Dahi Seulgi berkerut, "Warna apa ?"

"Rambutmu."

"Oh," hairdryer dimatikan, "Hanya menambahkan warna violet diujungnya. Mentorku bilang lagi ngetrend."

TURN || seulmin•Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang