Chapter 4

545 42 1
                                        

Bagaimana caranya untuk menyesal jika kata terlanjur sudah dipersembahkan. Yang Seulgi bisa lakukan hanya merutuk pada diri sendiri melihat tidak ada sehelai pakaian tidur yang cukup sopan terselip dalam kopernya. Beberapa helai sutera yang terlipat disana berbentuk gaun tidur labuh dengan tali spageti tipis dan juga panjang yang tidak mencukupi. Konsekuensinya adalah keadaan akan bertambah buruk dan canggung, tapi setidaknya lebih baik daripada Seulgi tidur dengan gaun ribetnya.

Ketika dia meloloskan diri dari balik pintu kamar mandi, Jimin meliriknya sekilas dengan ekspresi terkejut yang kentara. Tangan Jimin tergagap-gagap meraih ponsel di meja nakas lalu membuat kesibukan sendiri di sandaran ranjangnya. Bilang saja Seulgi sudah gila saat otaknya memutuskan bertahan di dalam kamar lelaki ini, belajar mengalah dengan alasan menaruh iba pada ibu Jimin yang merindukannya meskipun kenyataan yang benar adalah dia tidak berhasil menghalau rindunya sendiri pada Jimin.

Biadap memang lelaki itu. Jangan tanyakan pada Seulgi mengapa dia terus saja menyalahkan Jimin karena pada dasarnya wanita memang sulit mengakui kesalahan.

Itu berlaku pada Seulgi.

"Mau kemana ?" satu pertanyaan lolos begitu canggung dari bibir Jimin.

Seulgi meremas ujung gaun tidur pink fantanya yang manis menuju pintu kamar, dan saat Jimin bertanya, dia nyaris tersedak salivanya sendiri. "Mi-num," jawabnya malah seperti bertanya.

Suara kerusuk selimut terdengar sayup sebelum Seulgi menemukan Jimin menghampirinya. "Lampu luar sudah dimatikan," katanya menggusak puncak kepala Seulgi sekaligus meluruhkan apapun yang bernama kecanggungan. "Biar aku yang ambil," melintasi wanita itu demi meringankan posisi tegang mereka.

Lalu saat Jimin kembali dengan segelas air ditangannya, Seulgi mengambil posisi duduk bersandar di kepala ranjang dengan tungkai kakinya berlabuh lurus. Separuh rambutnya yang hitam panjang diselibkan ke belakang sedangkan yang lain dibiarkan menjuntai di bahu.

Guncangan kecil terjadi saat Jimin mendudukkan diri di sisi paha Seulgi, "Ini," katanya ringkas mengulurkan gelasnya yang langsung Seulgi tanggapi dengan ucapan terimakasih sangat halus, bahkan nyaris tak terdengar.

Disengaja ataupun tidak, namun Seulgi mengutuk rasa gerogi yang menjalar di otot-ototnya hingga dia mempermalukan dirinya dengan cara minum yang berantakan. Jimin terkekeh kecil saat Seulgi gelagapan menaruh gelas di meja nakas lalu beralih menyesap remah-remah air disudut bibirnya.

"Setahun meninggalkanku tidak memperbaiki cara minum dan makanmuya," ejek Jimin yang nyaris mendapat celaan dari Seulgi namun terhambat karena Seulgi yang tiba-tiba pusing begitu ibu jari Jimin membelai bibirnya seperti lap pengering. "Umurmu berapa sih ? Kenapa masih menggemaskan seperti ini," lanjut laki-laki itu mencubit hidung Seulgi dan mendapatkan tepisan kesal sekaligus rengekan dari bayi beruang.

"Untung hidungku bukan hasil operasi," sebal Seulgi, mengusap-usap ujung hidungnya yang berwarna kemerahan dan memberikan satu pukulan lagi dibahu Jimin saat laki-laki itu menertawakannya.

Beradaptasi dengan kenangan memang tidak memerlukan banyak waktu. Seulgi tidak sanggup lagi memungkiri bahwa dia sungguh merindukan bagaimana cara Jimin menatapnya dari jarak sedekat ini menggunakan iris matanya yang hitam pekat.

"Jadi, apa yang kau lakukan selama setahun ?"

Pertanyaan sederhana Jimin dan Seulgi membiarkan lengan lelaki itu berlabuh santai di pahanya.

TURN || seulmin•Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang