SATU [1]

75 12 2
                                    

Haii...
Assalamu'alaikum



Bismillahirrahmanirrahim dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang,,,,aku resmi memulai cerita ini



INI CERITA PERTAMAKU GUYS,
HOPE YOU LIKE IT
SELAMAT MEMBACA

"Aku janji akan jadi sahabatmu selama-lamanya"
-Pratama Adiyata

"andaikan..."
-Revan Ramatha

:)

Ting!!

Benda pipih kepunyaan Revan di atas meja berbunyi sekali, Revan yang mendengarkannya bergegas untuk langsung membukanya. Ia sudah hapal notifikasi khusus untuk Sahabatnya itu. Sengaja ia bedakan agar mengetahui siapa yang mengiriminya pesan.

<Nanti ikut gue yok!!>
-Pratama Adiyata

"huhh" dengus Revan dengan kesal.

Ia menarik nafas dalam, mau tak mau ia harus menunda mengerjakan PR buat besok. Tak apa baginya, karena ia juga sering mengerjakan PR waktu jam kosong di kelas.

<Mau ke mana?>
-Revan Ramatha

<Tempat favorit gue>
-Pratama Adiyata

Revan mengiyakan dan akhirnya mereka berdua berangkat ke tempat yang dimaksud Tama

■■■

"udah sampai" gumam Tama sembari menurunkan standar motornya.

Tama berhenti di sebuah rumah kecil di tengah tambak. Lalu ia berjalan sejauh 5 meteran dari tempat berhentinya tadi. Ternyata tak jauh dari situ terdapat sebuah gubuk kecil dari kayu dan bambu.

"Jadi ini tempat favorit lo?"
"Kok gw gak pernah tau sii?" Tanya Revan dengan keaadaan heran,karena ia dan Tama udah temenan dari kecil tapi baru kali ini Tama mengajak Revan ke tempat yang menurutnya rada aneh.

"Iya, gue kalau lagi gabut dan banyak pikiran sering kesini." Balas Tama.

■■■

Sudah hampir 20 menit mereka duduk di gubuk itu. Tak ada sepatah kata apapun yang keluar dari Tama maupun Revan. Mereka berdua hanya diam menikmati suasana sore menjelang malam tersebut.

"Tama..." Panggil Revan dengan halus.

"Iya..." Balas Tama.

"Lu kenapa sii, kok diam dari tadi?".

"Entahlah, Gue hanya merasa kosong, entah apa yang salah?. Sebagian dari diri gue merasa ada yang hancur tapi gue gak tahu apa yang harus diperbaiki. Terkadang gue ingin sendiri dalam waktu yang lama tapi di sisi lain gue sedang menunggu seseorang datang. Bahkan untuk hal sedih, gue lupa caranya menangis dan untuk hal bahagia, gue seringkali bertanya...apakah gue harus tertawa?" Gerutu Tama sambil menyenderkan badan di dinding gubuk tersebut.

Revan terdiam kaku mendengar omongan Tama. Tama tidak pernah bercanda dengan omongannya. Tama type orang yang kalau ngomong pasti ada maksud tersembunyinya...tapi kali ini apa?.

"Pulang yokk..." Ajakan Tama secara tiba-tiba.

Revan yang masih bingung dengan Tama hanya mengiyakan ajakan Tama untuk pulang."Ayok...".

Di perjalanan menuju pulang, tak ada sepatah kata apapun yang keluar dari mulut Tama. Revan merasa ada yang aneh di diri Tama. Tapi apa?... Apakah Tama lagi putus cinta sama pacarnya?... Atau habis di marahin ayahnya?... Pertanyaan tersebut berputar berulang-ulang di kepala Revan bak bianglala yang tidak bisa berhenti. Revan makin bingung.


"Tama, beli jajan dulu yok!!" Ajakan Revan berusaha mencairkan suasana di antara mereka berdua.

Tapi, tak ada balasan sedikitpun dari Tama. Revan makin bertanya-tanya di hatinya. "Apa Tama marah ya sama gue?" Gumamnya dalam hati.

Setelah melewati masa-masa membingungkan tersebut, ternyata mereka sudah sampai di rumah Revan. Revan yang tersadar dari lamunannya langsung turun dari motor Tama.

"Mau mampir dulu?" Tawaran Revan sambil melepas helm nya.

"Gausah dulu deh,,, gw langsung pulang, salam buat mamah yaa..." Tama menolak Revan dengan sopan.

"iya"

"Yaudah,, gw pulang dulu. Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikum salam"

■■■

"Assalamu'alaikum, kakak pulang" Salam Revan dengan sedikit rada rendah.

"Wa'alaikum salam, tumben lemes, biasanya happy-happy aja? Kenapa?" Tanya Ameena melihat tingkah anaknya yang lemah lesu kayak orang yang kekuarangan gizi.

"Gapapa kok mah" balas Revan langsung masuk kamar.

"Ada susu di kulkas noh, mamah buatin ya? Mau?"

Revan yang mendengar kata susu langsung semangat kembali. Ia sangat menyukai susu apalagi susu sapi, wah suka banget.

"Mau banget mah" Balasnya dengan kegirangan.

"Yaudah tunggu"

Benar saja tidak sekian lama, segelas berisi penuh dengan susu putih dibawakan Ameena.

Tok!! Tok!!

"Kak... Bukain pintunya dong, kan mamah mau masuk."

"BENTAR MAH, KAKAK LAGI GANTI BAJU" Teriak Revan.

Ameena terkekeh mendengarnya,
"Ehh, mamah itu yang ngelahirin kamu lho. Jadi mamah udah tahu seluk beluk tubuh kamu. Hehehe" Goda Ameena kepada anak remajanya itu.

"Mamaaahhh..." Rengkehan Revan sedikit kesal.

klek!!

Suara pintu terbuka dari dalam. Terlihat seorang laki-laki memakai kaos oblong dan boxer keluar dari balik pintu.

"Wihh, gantengnya anak mamah." Goda Ameena sekali lagi.

"Ahh, Mamah bisa aja sih." Jawab Revan dengan malu.

"Nih susu kamu" sahut Ameena sembari memberikan susu buatannya tadi.

"Iya, makasih ya mah"

"Sama-sama"

Revan langsung kembali ke kamar dan menutup pintu kamarnya kembali.

Dikit dulu ya, masih permulaaan.
JANGAN LUPA STAR-STARNYA!! HEHE

Cuma mau kasi tau nama ig aku : syamil_alg

Follow dong😁, makasii
Dah bye!

Pensil PersahabatanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang