"Ini rumah lu? Wah, besar banget.." Jessie berdecak kagum, melihat ke sekeliling. Ruang tamunya luas dengan atap yang tinggi.
Ornamen keemasan menghiasi langit. Ditambah lampu gantung di tengah menambah kesan mewah. Jessie tidak pernah menyangka Josh akan sekaya ini.
Josh orang yang pendiam di kampus. Sangat pendiam malah, karna dia hanya berbicara kalau itu di butuhkan saja dan tidak pernah terlihat dengan orang lain. Nuansa dingin selalu melingkupinya. Seakanakan dunia hanya miliknya dan Tuhan.
Kalau misalkn orangorang tau Josh sekaya ini. Mungkin dengan sikapnya yang dingin ini dia akan punya banyak teman. Tanpa harus berusaha, semua orang akan mengelilinginya seperti lalat.
Josh tidak menghiraukan seruan kagum dari Jessie di belakangnya. Menurutnya dia tidak kaya, karna ini semua milik orang tuanya. Tidak ada yang bisa dia banggakan dari milik orang lain.
Josh berjalan menaiki tangga putar, untuk kekamarnya. Meniggalkan Jessie sendiri tanpa berkata apaapa. Josh percaya, Jessie tidak akan berbuat macammacam di rumahnya.
Sesampainya di kamar, dia menaruh tasnya dan berniat berganti baju. Hari ini cuaca sangat panas, tubuhnya sudah sangat lengket. Dia ingin mandi, tapi itu akan memakan waktu yang banyak dalam mengerjakan tugas kelompok mereka.
"Dude, bahkan kamar lu lebih besar dari ruang tamu gua."
Josh tersentak kaget dengan seruan di belakangnya. Dia bertelanjang dada sekarang dan Jessie yang seorang wanita dengan santainya masuk dan duduk di ranjangnya. Apa dia gila? Apa dia sungguh seorang perempuan?
"Lu gila, ya? Ini kamar cowok!" Josh menutupi tubuhnya dengan kaus ditangannya. Memerhatikan Jessie yang menatapny balik dari arah ranjang.
"Ya, gua tau. Terus kenapa?" Jessie menelengkan kepalanya ke kanan. Seakan itu pertanyaan paling aneh sedunia.
Josh yang melihat itu hanya menghela nafas lelah. Dia memang sudah mendengar desasdesus wanita ini yang katanya berbeda dengan perawakannya yang feminim, Jessie seorang wanita tomboy yang bahkan berpacaran dengannya sama dengan berteman dengan lakilaki.
Walau begitu dia tetap seorang wanita. Rasa hormat untuk menghargai seorang wanita sudah tertanam dalam dirinya. Tapi sepertinya berdebat dengan seorang Jessie yang tidak akan pernah mengerti, akan menguras seluruh jiwanya.
Tanpa menjawab pertanyaan Jessie, Josh pergi ke kamar mandi dengan pakaian baru dari lemari. Meninggalkan lagi Jessie dalam kesendirian.
Jessie mencibir kecil. Dari tadi dia di tinggal terus, dia tidak suka sendiri. Maka dari itu dia mengikuti Josh samai ke kamar. Tapi sang empunya malah kembali meninggalkannya. Melihat ke sekeliling, matanya manangkap sesuatu yang menarik.
Bingki foto kecil yang memperlihatkan keluarga Josh. Ternyata Josh anak pertama dari 3 bersaudara. Jessie kira Josh anak tunggal, melihat seberapa kaya orang tuanya, Jessie pikir tidak ada yang bisa menghabiskan uangnya selain Josh.
"Lu ngapain?"
Kini giliran Jessie yang kaget. Josh sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya. Kaos polo dengan celana pendek bahan berwarna abuabu. Wajahnya terlihat basah dengan beberapa titik air yang mengalir sampai dagu.
Tampilan segar Josh yang berbeda dari biasanya benuansa gelap, sempat membuat Jessie tertegun. Sebelum menggelengkan kepalanya sendiri, membuang pemikiran itu. "Lu anak pertama?"
"Kedua." Mengerti arah pertanyaan Jessie yang melihat bingkai foto di meja belajarnya, Josh menjawab singkat.
"Tapi difot-.."
KAMU SEDANG MEMBACA
Oneshoot!
RomansaKumpulan cerita pendek atau oneshot. Dewasanya nyerempetnyerempet aja. Enjoy it! 20+
