Elf 2

180 10 0
                                        

Seminggu, dua Minggu hingga lewat dua bulan Hailee di dunia Elf. Tidak ada tanda portal terlihat. Menandakan waktu bagi Hailee untuk tetap berada di dunia fantasi tersebut masih terus berlangsung.

Hailee menikmati dengan rasa syukur hari harinya di dunia yang seratus persen berbeda dengan kehidupannya dulu. Mulai dari mencari bahan masakan sendiri, hingga dapat tersaji di meja makan, Hailee lakukan dengan penuh kebahagian yang tiada tara. Baginya beban yang selama ini menekannya hingga titik terendah, bisa sejenak terangkat dari pundaknya.

Memang Hailee tidak ingin menyangkal, bayang-bayang akan kembali ke dunia asalnya menghantuinya. Namun terlepas hal itu, selama dia berada di dunia Elf, dia akan memupuk rasa kebahagiaan hingga saat dia terbangun di realitas lagi. Dia tidak menyesal pernah bermimpi seperti ini.

"Hailee.."

Wanita itu menoleh, melihat Han berlari kearahnya dengan membawa dua ekor ikan besar di tangannya. Ikan yang Hailee pikir awalnya menakutkan karna memiliki sirip yang tajam dan gigi yang runcing, namun saat mencicipi dagingnya, Dia langsung lupa kalo ini hewan yang di takutnya itu.

"Aku sudah menangkap ikan, ayo kita ke rumah." Han menariknya dengan cepat. Membawanya tergesa-gesa untuk sampai di rumah dengan cepat.

Hailee mngerutkan alisnya bingung. Tidak biasanya Han tergesa-gesa seperti ini. Han selalu memperlakukannya dengan lembut, bergerak dengan cukup lambat seakan tidak ingin melewatkan sedetikpun dengan Hailee. Tapi kali ini dia sangat berbeda.

Sesekali Hailee menarik tangannya dan protes kepada Han yang menarik tangannya terlalu keras. Hingga disatu titik sebelum persimpangan jalan menuju rumah Han. Hailee mendengar salah satu Elf berkata..

"Retakan portal muncul di..,"

Hailee tidak mendengar lagi. Perkataan itu terputus karna Han sudah menariknya ke pelukannya dan menutup kedua telinga Hailee rapat-rapat.

Hailee mendongak, melihat Han yang menutup matanya sambil bergumam. Wajahnya menyiratkan kesedihan dan ketakutan yang mendalam.

"Jangan dengar, kumohon jangan dengar",

Dari gerakan bibirnya Han, Hailee mengerti apa yang di ucapkan pria itu. Hailee kembali menengok dua wanita yang tadi melewatinya. Dua wanita itu menunjuk kearah timur seakan menjawab dimana portal itu muncul.

"..Ilee, Hailee!" Han mengguncang bahu Hailee keras, hanya untuk mengembalikan atensi Hailee padanya.

"Waktuku," Hailee menahan nafasnya, rasa sedih tertahan di dadanya hingga terasa sakit. "..Sudah tiba, ya."

Waktu terasa berjalan lambat. Hailee melihat raut wajah kesedihan Han yang tidak bisa di bendung lagi. Matanya menggenang dan perlahan mengeluarkan mutiara yang luruh hingga mengenai pipi Hailee.

Hailee mengusapnya pelan, air mata ini sudah menjawab pernyataan Hailee tadi. Menentukan akhir waktu yang dapat mereka lalui bersama. Kebersamaan mereka sampai di ujung tanduk. Tidak ada jalan kembali. Mereka harus melompat untuk tau apa yang ada di ujung jurang tersebut.

"B-berapa lama hingga-.." Hailee menelan ludah susah payah, seakan ada batu yang tersangkut di tenggorokannya. "..-Retakan itu pecah?"

"...."

Han tidak langsung menjawab. Pria itu malah memeluknya lebih erat dari yang sebelumnya. Menyembunyikan wajahnya dari penglihatan Hailee.

Hembusan angin kencang menerpa mereka. Menerbangkan dedaunan, berputar dengan mereka berdua sebagai porosnya. Seakan mengerti kondisi berat yang di alami mereka.

"Seminggu.."

.....

Sehari, dua hari hingga seminggu sudah terlewat. Han menatap dari jauh Hailee yang sedang bercengkrama dengan penduduk desa. Han menjauh dari Hailee tepat sehari setelah retakan itu muncul, hingga retakan itu pecah sekarang, Han tidak juga menemui Hailee.

Oneshoot! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang