Chapter 3

137 5 6
                                    

Juli 2004

      Sekarang aku memanggil Dek Gaby dengan sebutan adek karena lebih singkat dan ia memanggilku kakak, persis seperti yang aku harapkan.

      Tahun ajaran ini adalah tahun ajaran terakhirku berada di TK namun tahun ajaran baru sekaligus pertama kali untuk adek. Banyak hal yang sudah kupelajari di TK. Mulai dari berhitung, membaca, hingga menulis (walaupun tulisanku masih acak-acakan yang penting kan sudah bisa hehe).

      Aku sudah terbiasa tidak ditunggui oleh orang tua ketika sekolah namun hari ini mama harus berada di sekolah sampai jam pulang karena adek takut ditinggal. Aku tau mama tidak bermaksud untuk menungguiku tapi karena posisi tempat duduknya yang berada di depan kelasku membuatnya terlihat sedang menunggu anaknya yang TK B pulang. Memalukan.

Agustus 2004

      Akhirnya setelah beberapa minggu adek berani untuk ditinggal di sekolah. Aku diberi mama tanggung jawab untuk menjaga adek di sekolah. Kulakukan itu dengan senang hati.

      Hari ini bukan hari yang biasa. Tidak biasanya sampai pukul 11 aku dan adikku belum dijemput. Aku khawatir mengapa mama tidak datang-datang. Adek sepertinya sudah capek menunggu. Kusuruh adek menunggu di bawah pohon mangga di halaman sekolah ini karena matahari mulai terik.

      Tak lama setelah aku ikut berdiri di bawah pohon tiba-tiba adek menangis. Aku terkejut padahal kan aku tidak berbuat apa-apa kepadanya.

"Huhuhuhu..."

"Lho adek kenapa kok nangis?"

"Mama mana kak kapan datengnya? Aku capek huhuhu..."

"Ya udah kalo capek duduk aja yuk."

"Iya huhuhu..."

      Sempat beberapa saat hening di antara kami tapi adek belum bisa berhenti menangis. Aku mulai berkhayal andaikan mama datangnya cepat pasti adek tidak menangis. Andaikan mama memberiku uang hari ini pasti aku dan adek bisa beli tempura.

      Ketika aku melamun tiba-tiba adek menjerit histeris karena ada semut merah menggigit tangannya ketika sedang bersender di pohon mangga. Aku langsung bangkit berdiri dan menarik adek untuk menghilangkan semut-semut di badannya. Terdapat bekas merah yang cukup besar di punggung tangannya.

      Aku memperingati adek untuk tidak menggaruk tapi mungkin rasa sakitnya membuat adek tidak mendengarkanku. Setelah lama digaruk muncullah sedikit cairan merah dari bekas garukannya.

      Aduh aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku merasa gagal menjaganya. Akhirnya aku memeluknya dan ikut menangis. Tangisan adek juga makin menjadi-jadi ketika ia balas memelukku. Aku mencoba untuk menghentikan tangisanku agar adek juga berhenti menangis.

"Cup cup cup adek jangan nangis bentar lagi mama pasti dateng. Adek sabar sebentar ya masih ada kakak kok di sini."

"Tanganku sakit kak, gatel tapi berdarah. Huhuhu"

"Nih mimik dulu ya jangan nangis lagi cup cup cup"

      Tak lama kemudian mama datang dan kami langsung berlari ke arahnya. Kami menangis entah karena senang mama sudah datang atau sedih karena terlalu lama menunggu. Yang jelas selama perjalanan pulang kami diam saja dan tidak bercanda ria seperti biasanya.

Oktober 2004

      Aku terpilih menjadi anggota tim senam yang akan bertanding bulan depan. Entah kebetulan atau tidak tim senam ini semua anggotanya berasal dari kelas TK B yang masuk siang (jam 8.30, sebenarnya masih pagi sih). Latihan kami pun jadi lebih menyenangkan.

November 2004

      Setelah melalui semua latihan yang ada, tibalah waktunya lomba senam antar tk tingkat kota tempat tinggalku diselenggarakan. Tim kami tidak menggunakan kostum spesial, hanya seragam olah raga. Namun penampilan kami dijadikan lebih menarik. Untuk perempuan, rambutnya dikuncir dua. Sedangkan laki-lakinya dipakaikan topi yang keren.

      Ketika tim sekolahku dipanggil, guru-guru dan orang tua mendoakan kami agar bisa memenangkan lomba ini. Tak lupa mereka mengingatkan kami agar selalu tersenyum ketika tampil nanti.

      Kami pun masuk ke ruang penilaian dan langsung berdiri di posisi masing-masing. Ketika musik dimulai tiba-tiba aku menjadi gugup karena suasana di sini sepertinya benar-benar serius. Aku menggerakkan badanku sesuai dengan gerakan yang telah kami hafalkan. Aku takut jika tiba-tiba salah atau lupa gerakannya. Sesekali aku melirik teman-temanku untuk memastikan apakah gerakanku benar atau tidak.

      Fiuh, akhirnya selesai juga penampilan kami. Saat aku berjalan keluar pintu aku sempat melirik ke arah piala-piala yang dijejer di sebelah meja juri. Semoga timku mendapatkan salah satunya. Terumata yang besar dan berbahan marmer itu.

      Selagi menunggu mobil jemputan rombongan, aku dan mama membeli pentol dengan bumbu kacang. Setelah mencari tempat duduk akhirnya kami bisa menikmati pentolnya. Hmm enak sekali. Ketika aku menyapukan pandangan ke sekelilingku, tiba-tiba mataku menangkap sesuatu yang membuat hati semua anak kecil histeris. ADA PENJUAL AYAM DAN BURUNG WARNA-WARNI.

      Aku langsung menarik-narik tangan mama untuk mengajaknya ke penjual itu. Aku juga mengajak teman-teman untuk ke sana. Ketika berada di depan kandang ayam dan burung itu, aku langsung bahagia seketika. Aku ingin membeli ayam tapi teman-temanku yang lain membeli burung. Akhirnya aku ikut-ikutan saja. Aku membeli burung berwarna merah dan hijau. Setelah itu aku dan teman-temanku berfoto bersama dengan pose memamerkan kandang burung kami masing-masing. Tak lama kemudian mobil jemputan pun datang dan kami langsung pulang.

      Setelah sampai di rumah aku memanggil adek untuk memamerkan peliharaanku baruku. Sesuai dugaanku, adek terkesima dan ingin memegangnya namun aku tidak memperbolehkan karena takut burungnya terbang. Mama menyuruhku mengambil makanan dan minum untuk burungnya. Selagi mengambil aku pun menitipkan burung-burungnya pada adek.

      Aku menyiapkan semuanya dengan terburu-buru. Mama mengambil satu sendok beras sedangkan aku mengambil air keran secukupnya. Setelah semua selesai aku langsung berjalan cepat-cepat ke teras rumah, tempat kuletakkan burungnya tadi.

      Ketika sampai di teras, aku menaruh semuanya di meja kecil. Aku menghampiri adek dan bertanya bagaimana burungnya. Ia diam saja dan sepertinya takut untuk melihatku. Pasti ada sesuatu yang terjadi. Dan benar saja, setelah itu kulihat kandang burungnya dan MEREKA SUDAH HILANG. Aku bertanya kepada adek ke mana perginya burung-burung itu. Ia menatapku polos dan menunjuk ke atas, ke langit biru. Aku menangis dan berlari masuk ke rumah untuk melaporkan adek kepada mama.

"Mama adek nakal ma burungnya dilepas. Padahal kan burungnya belom sempet makan"

"Ya udah kak biarin aja burungnya pergi. Dia bisa terbang bebas di luar sana. Justru kalo kamu taruh di kandang kamu malah nyiksa dia. Udah ya jangan sedih lagi."

      Aku marah sekali sama adek. Aku kecewa sama mama kenapa selalu adek yang dibela. Kenapa selalu kakak yang harus memaafkan duluan? Kenapa selalu kakak yang harus mengalah? Huh.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 30, 2015 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

GabyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang