Denting suara perpaduan sendok dan garpu mendominasi ruang makan kediaman Tanuwijaya. Empat anggota keluarga bahagia itu sedang menyantap hidangan dengan lahap.
Cerita-cerita lucu masa lalu menjadi topik perbincangan keluarga kecil tersebut sembari menikmati makan malam. Mulai dari Jeno yang tertipu pergi ke sekolah saat hari libur, Winter yang salah menggandeng orang karena mirip dengan Ibunya, serta Wonyoung yang menangis karena tidak bisa mengikuti lomba ekspresi terjelek di sekolahnya.
Winter terlihat sudah mulai aktif berbicara. Bahkan dirinya lah yang banyak menceritakan kejadian-kejadian lucu kakak dan adiknya itu. Rasanya suasana menjadi 180 derajat lebih baik dengan kembalinya mood Winter.
"Kalian ke ruang tengah duluan sana, Mama mau cuci piring dulu." suruh Irene yang sedang sibuk mengangkat tumpukan piring kotor.
"Oke Ma." jawab ketiga anak kompak seraya meninggalkan ruang makan.
Jeno, Winter, dan Wonyoung memilih untuk menonton serial di TV sambil menunggu Ibunya menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Sebenarnya mereka sudah tak sabar dengan kado yang akan diberikan untuk dirinya.
Walaupun sudah menginjak remaja, nyatanya Jeno juga masih suka dengan hal-hal berbau kado ataupun surprise.
Ddrrtt...
Ddrrtt...
Getaran ponsel berbunyi di atas rak buku yang jaraknya tak terlalu jauh dari ketiga anak tersebut berkumpul.
Ddrrtt...
Ddrrtt...
"Wonyoung, hp Mama bunyi terus tuh, tolong kasihkan ke Mama." keluh Winter lantaran tak ada salah satu dari mereka yang mau beranjak.
Gadis yang diajak berbicara tak menyahut dan malah asyik fokus dengan acara TV favoritnya.
Winter memutar bola mata kesal, "Ck. Kak Jenoo, hp Mama tuh." kini ia beralih pada kakak lelakinya.
"Baru aja duduk. Gak kasihan apa sama kakak kamu ini tadi habis manjat-manjat?" Winter sebenarnya tau jika kakaknya itu memang malas saja.
Mau tidak mau Winter terpaksa berdiri. Memang sulit melawan rasa malas kedua saudaranya itu. Di sisi lain dirinya juga merasa terganggu dengan suara ponsel yang tak berhenti berdering.