V : the day

32 7 2
                                        


────────✾───────

ㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤ

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

ㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤ

Hari bahagia itu tiba. Hari pernikahan Irene dengan Siwon. Dua hari setelah pertikaian kecil di rumah Irene terjadi. Namun tampaknya keluarga itu sudah baik-baik saja. Sepertinya.

Pukul 7 pagi, waktu dimana keluarga Tanuwijaya sedang bersiap di kediaman mereka. Ketiga anak bermarga Tanuwijaya itu tengah berkumpul menjadi satu di kamar Winter dan Wonyoung.

Si kakak tertua sibuk menyisir surai pendek adiknya. Sejak bangun tidur hingga detik ini, gadis remaja itu tak mengeluarkan sepatah kata apapun. Tanpa diberi tau pun Jeno sudah mengerti alasannya.

Bulan sabit di mata Jeno terbentuk bersama dengan senyum yang tercetak di wajahnya, kala ia menatap pantulan wajah kedua adiknya dari cermin. "Cantik banget adik-adiknya kakak."

"Kita beneran mau punya Papa lagi ya, Kak?" pertanyaan polos tercetus oleh bibir Wonyoung. Jeno hanya bisa menghela nafasnya, pemuda itu mengangguk sebagai jawaban.

"Yeayy, kita punya Papa."

"Shut up, Wonyoung."

"Winter."

Gadis yang ditegur namanya itu hanya menunjukkan tatapan datarnya kepada sang Kakak, beberapa saat kemudian ia memalingkan wajahnya. Winter tak suka mendengar Wonyoung menyebut pria yang tak disukainya dengan sebutan 'Papa'. Ia tidak terima. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Ayahnya, walaupun Ayahnya sudah tiada.

"Inget yang kakak nasihatin kemarin." Jeno menuturi dengan nada agak tegas. Berharap Winter kali ini dapat mengatur emosinya saat di pernikahan Ibunya nanti. Jangan sampai karena ulah salah satu dari mereka membuat pernikahan Ibunya kacau. Seberapa malunya nanti mereka semua.

Saat dirasa sudah siap dan situasi sudah kondusif, ketiga bersaudara itu keluar dari kamar dan bermaksud menunggu Ibunya di bawah. Sebelum melangkah keluar, Winter membuka laci meja riasnya, tangannya meraba mencari sesuatu di dalamnya.

"Nah." Winter menemukan barang yang ia cari. Sebuah kacamata hitam. Winter segera memakainya.

Jeno mengerutkan dahi. "Ngapain kamu pakai itu?" Baru kali ini ia melihat seseorang memakai gaun elegan tetapi mengenakan kacamata hitam. Tema apa yang diusung adiknya ini.

"Kakak gak liat mata aku kayak habis di tonjok orang? Malu nanti dilihat orang-orang." Winter menurunkan kacamatanya, menunjukkan kelopak gandanya yang sembab. Sepertinya air matanya sudah mengering.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 25, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The FamilyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang