It's Okay It's Love - 3

26 0 0
                                    

Jenar melihat pemandangan di depannya dengan hati bergemuruh, perasaannya tidak nyaman dan entah kenapa udara di sekitarnya tiba-tiba terasa panas. Tanpa cowok itu sadari, tangannya terkepal kuat melihat Jihan yang tengah berpose dengan salah satu teman satu prodinya yang sudah dari dulu mengejar-ngejar cewek itu.

"Biarin dia sama yang lain, lo gak bisa egois gak mau dia pergi tapi lo sendiri udah sama Dinda" ucap Radhika tiba-tiba. Cowok itu terlihat santai dengan sebatang rokok ditangannya.

Jenar menatap Radhika tajam sementara Radhika malah terkekeh melihatnya.

"Gue bener kan? Lo lagi cemburu liat Jihan sama Arka"

Jenar diam seribu bahasa, ucapan Radhika tidak sepenuhnya benar.

"Biarin Jihan cari bahagianya, Arka baik, gue setuju sama dia"

"Lo bisa diem gak sih?!" ucap Jenar kesal, Radhika daritadi nyerocos mulu, kan hatinya tambah panas. Apalagi didepan sana saat ini pose foto Jihan dan Arka sudah semakin intim akibat ledekan teman-teman satu prodi mereka.

Lagi-lagi Radhika terkekeh, kali ini malah tertawa kecil.

"Coba lo pikirin lagi baik-baik hati lo yang sebenernya punya siapa, punya Dinda yang daridulu lo kejar-kejar atau punya Jihan tapi lo selama ini denial, sama kayak dia dulu"

"Gue harap lo gak telat, Je, entah buat ngejar Jihan balik atau berjalan kedepan sama Dinda"

Sial, semua ucapan Radhika benar-benar tepat sasaran. Menusuk tepat di hatinya membuat Jenar semakin tidak nyaman saja dibuatnya.

"Jihan masih lama gak?" tanya Jenar mengalihkan topik.

"Masih kayaknya. Kenapa? Mau keluar sama Dinda?" balas Radhika bertanya.

Jenar diam, matanya terlihat gelisah.

"Lo pergi aja gak papa, kasian anak orang nunggu. Jihan biar gue yang nungguin sekalian bawa balik" ucap Radhika yang seakan paham.

Hari ini adalah hari sidang skripsi Jihan, Jenar dan Radhika sudah berjanji akan menjemput cewek itu dan menunggunya hingga ia keluar dari ruang sidang. Ketiganya sudah berfoto-foto usai Jihan keluar ruang sidang dan dinyatakan lulus oleh dosen pengujinya, kini giliran teman-teman dan juga para adik tingkat di organisasi Jihan dahulu yang silih berganti memberikan bucket dan meminta berfoto bersama.

"Enggak, gue nungguin Jihan selese" ucap Jenar usai berkutat dengan ponselnya beberapa menit yang lalu. Kalau Radhika tebak, cowok itu pasti barusan membatalkan janjinya pada Dinda.

"Gak ngambek?" tanya Radhika yang dibalas oleh gelengan santai Jenar.

"Mau suprekkkk" teriak Jihan cempreng, cewek itu terlihat berlari kesusahan kearah Jenar dan Radhika yang duduk di gazebo fakultas teknik.

"Ih bantuin dongg, jangan cuma diliatin, masih banyak yang belum kebawa kesini" ucap Jihan begitu tiba tepat didepan Jenar dan Radhika duduk.

"Manja" cibir Radhika.

"Emang! Kenapa? Gakmau bantuin? Yaudah gak usah!" kesal Jihan.

"Dih pundungan" cibir Jenar, namun cowok itu kini sudah beranjak kearah tumpukan bucket dan berbagai hadiah yang diterima cewek itu tadi.

"Langsung bawa ke mobil aja ya, Ji?" ucap Jenar yang sudah kembali dengan tangannya yang memeluk banyak sekali bucket Jihan.

"Iya, kuncinya mana? Biar gue bukain" balas Jihan.

"Ambil disaku kanan" titah Jenar.

Jihan mendekat, tangannya dengan santai merogoh saku jeans yang dipakai Jenar. Wangi parfum bublegum yang menguar dari tubuh cewek itu membuat debaran aneh di dada Jenar, yang langsung segera ditepis cowok itu. Jenar benar-benar terpaku dengan wajah Jihan yang sedekat ini. Kalau dipikir-pikir, ini adalah kali pertama mereka sedekat ini sejak dua bulan pasca pengakuan cinta dari cewek itu.

Short StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang