Matematika adalah pelajaran terakhir hari ini. Siang hari menjelang sore terasa panas sekali karena deretan soal di papan tulis. Suara gerutu siswa kelas 8 semakin keras memenuhi ruangan. Deretan angka dan berbagai rumus semakin banyak terlukis indah di depan mataku. Lelaki berusia sekitar 40 tahun itu terlihat bersemangat dengan buku dan spidol yang dipegangnya. Suara kesal siswa dibelakangnya seperti angi berlalu bagi lelaki itu.
"Soal ini kalian kerjakan, kalau tidak selesai kalian lanjutkan dirumah, ucap lelaki itu sambil membalikkan badannya kearah siswa, ini sebagai hukuman karena ada yang menyontek saat ulangan kemarin. Tugas ini bisa dikerjakan bersama teman kalian, tapi bukan berarti menyontek, ya. Pertemuan selanjutnya akan saya cek satu per satu dari kalian. Paham?"
"Paham, Pak Tom," jawab siswa kelas 8 secara serempak.
"Kalian disekolahin sama orang tua, dibiayai, dikasi uang saku, tinggal belajar aja susah banget. Kalau kalian nyontek yang rugi siapa? Tentu saja kalian sendiri. Kasian orang tua kalian yang bekerja buat nyekolahin anaknya. Di sekolah bukannya belajar malah banyak gaya."
Pembelajaran kali ini diisi dengan ceramah Pak Tomi yang lebih akrab dipanggil Pak Tom. Soal matematika semakin rumit karena harus mendengar omelan beliau. Pak Tom merupakan guru mapel matematika di SMP Hanacaraka yang terkenal humoris dan penjelasannya mudah dimengerti. Namun, ketika ada yang menyontek di kelasnya saat ulangan atau ada yang tidak mengerjakan tugas dengan baik, Pak Tom akan marah dan menasihati sampai jam pembelajaran habis. Hari ini beliau marah karena pertemuan sebelumnya ada siswa yang menyontek ketika ulangan. Kertas kecil berisi rumus itu terjatuh tanpa sengaja ketika siswa tersebut mengumpulkan lembar jawaban. Sialnya, Pak Tom mengambil dan membaca isinya. Tanpa banyak kata, lembar jawaban milik siswa yang menyontek itu langsung disobek menjadi 4 bagian. Sontak seisi ruangan terkejut dan mengalihkan pandangan ke meja guru.
"Tika, kamu harus mengerjakan ulang ulangan ini besok ketika pulang sekolah. Soal akan saya berikan besok," kata guru matematika itu dengan nada menahan marah.
"Eh, mmmm, maaf atas kesalahan saya, Pak."
"Dan untuk kalian semua, di pertemuan selanjutnya akan saya kasih lagi soal tentang materi ini," ucap Pak Tom sembari berjalan meninggalkan kelas.
Karena itulah, hari ini aku dan teman sekelasku harus mengerjakan soal matematika yang sangat banyak. Orang disebelaku sudah sejak tadi menggerutu dengan angka-angka yang ada dihadapannya. Rambut sebahu miliknya terlihat mengembang dan kusut karena setiap menit diacak-acak oleh pemiliknya. Sosok lelaki di depanku terlihat tenang dan tetap santai mengerjakan soal dihadapannya.
"Sha, yang nomer 3 gimana sih caranya?"
"Oh, punyaku gini, Dis. Jadi, itu kamu cari dulu nilai X agar lebih gampang," aku pun menjelaskan hasil pekerjaanku kepada sahabatku itu. Soal demi soal kami kerjakan bersama hingga akhirnya bel pulang pun berbunyi. Raut wajah bahagia terlihat dari orang-orang seisi kelas yang terlihat bergegas memasukkan barangnya kedalam tas. Aku mengedarkan pandangan hingga akhirnya tatapanku bertemu dengan tatapannya. Lelaki yang terlihat tetap tenang saat mengerjakan soal matematika itu memberikan kode angka 7 kepadaku. Tanpa banyak bicara aku sudah mengerti maksudnya.
^^^^^
Di sebuah warung bakso, terdapat dua orang anak remaja dengan pakaian biru putih sepertinya sedang makan bersama. Dari wajah keduanya terlihat sedang menahan amarah dan kesal. Anak lelaki itu terlihat sangat kesal terhadap cewek berambut panjang terurai yang duduk didepannya. Cewek itu hanya menunduk berusaha menyembunyikan tangisannya dengan tangan sedikit mengepal. Dua mangkok bakso yang ada dihadapan masing-masing terlihat belum disentuh oleh pembelinya. Warung itu terlihat tidak terlalu ramai, mungkin karena belum jam pulang kerja.
"Kenapa kemarin kertas contekanmu jatuh sih, gue udah berusaha sampai mau mati tau ga buat dapetin contekan soal itu. Lo pikir gampang menyelinap masuk ke kantor guru? Hah? Lo pikir gampang nyontek ringkasan materi Alisha? Gue capek tau ga? Harus pura-pura temenan sama tuh cewek. Untung aja gue ga ketauan kalau nyontek juga," kata lelaki itu yang terus saja mengomel.
"Maaf, Lang. Kemarin gue ga sengaja. Ya, mana gue tau kalau kertas itu bakalan jatuh. Padahal kertasnya udah aku simpan dengan baik, kok."
Hening. Keduanya kembali diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Lelaki itu pun langsung menghabiskan bakso pesanannya tanpa menghiraukan cewek itu menangis. Setelah 30 menit berjalan dengan keheningan di kedua manusia itu, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
"Tik, lo mau langsung pulang atau ga? Biar gue anter," ucap si cowok berbaju putih biru dengan jaket jeans.
"Ga usah, Lang. Gue bisa pulang sendiri kok."
"Tapi, Tika, lo pacar gue. Walaupun tadi gue marah banget, tetep aja gue ga tega ninggalin lo pulang sendiri."
"Sekali lagi maafin gue, Gilang," balas cewek bernama Tika itu yang langsung berjalan pergi.
^^^^
Jam di dinding menunjukkan pukul 19.30 WIB. Di ruang tamu rumah Alisha sudah ada 4 orang yang duduk melingkari meja. Mereka terlihat sibuk dengan alat tulis dan buku dihadapannya masing-masing. Sudah sekitar 20 menit mereka belajar bersama untuk mengerjakan soal matematika. Selang beberapa saat datanglah cewek berambut gelombang datang membawa nampan berisi minuman dan camilan dari arah dapur.
"Dista, Gilang, Tika, Adi, makan dulu camilannya nanti lanjut lagi belajarnya."
"Makasih, Sha."
"Sama-sama, kalian udah dapet berapa soal?"
"Baru juga 6, Sha. Itupun tadi dibantuin sama Dista," jawab Adi sambil mengambil beberapa cookies.
Mereka berlima memang sering belajar bersama sejak awal masuk kelas 2 SMP. Aku, Dista, dan Gilang emang udah dari lama belajar bersama. Tepatnya ketika menginjak semester 2 di kelas 7, karena kita sekelas. Sedangkan dengan Adi dan Tika baru dimulai 2 bulan lalu. Namun, aku sudah kenal dengan Adi karena dia teman dekat Dista. Sedangkan Tika, aku baru mengenal cewek tomboy itu ketika naik kelas. Tika orang yang baik dan perhatian. Kami sering berbagi cerita setiap ada kesempatan.
"Sha, kamu udah belum soal nomer 10. Ajarin dong," pinta Dista ketika kita semua sudah mulai belajar lagi.
"Sini gue aja yang ajarin," saut Gilang mendahului jawaban Alisha.
"Ya elah, gue minta bantuan dari Alisha. Gue ga paham kalau lo yang jelasin."
"Kamu udah selesai semua, Lang?" kata Alisha melerai agar tidak terjadi keributan.
"Sudah, Sha," balas Gilang santai sambil menatap orang yang bertanya.
Alisha hanya tersenyum. Kemudian dibalas senyum oleh Gilang. Alisha pun menundukkan wajahnya kembali ke soal matematika. Sekaligus menyembunyikan rona merah dipipinya karena malu di tatap begitu dalam sama Gilang. Mereka semua sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Tanpa disadari ada orang yang sejak tadi menahan kesal melihat cowok dan cewek itu bertatapan dan tersenyum. Tika langsung berusaha meraih tangan Gilang. Mereka bergandengan di bawah jaket yang berada di antara jarak keduanya.
🌻🌻🌻
Hallo terima kasih sudah membaca ceritaku. Semoga kalian suka ya 😊

KAMU SEDANG MEMBACA
Swastamita
Teen FictionSWASTAMITA (Matahari terbenam) "Aku ingin menjadi kenangan indah bagimu, sama sepertimu yang menjadi lukisan jingga dalam hidupku" Jatuh cinta bisa datang pada siapa saja dan kapan saja. Kadang kedatanganya tanpa bisa disadari dan dimengerti oleh di...