Musim Gugur Impian

6 3 0
                                    

Kapan lagi kita bisa ngerasain musim gugur. Ya dengan keluar negeri lah, kalo Indonesia tiba-tiba ada musim gugur sih udah pertanda. Ngomong-ngomong perkenalkan namaku Ed, asal Palembang, umur 17, masih jomblo tentunya, dan sekarang udah kelas 11 SMA, udah lumayan gede tuh. Saat ini aku lagi berada di sebuah tempat, tempat apa? Ayo tebak...

...

....

.......

Ok, salah. Jadi sekarang aku lagi berada di rumah salah satu sahabatku, namanya Ken, bukan Ken Kaneki atau siapalah itu. Singkatnya, dia itu baik, cerewet, kaya dan tidak terlalu sombong, yang sombong palingan kakaknya Dina. Itupun gara-gara kakaknya punya gaya rambut yang mencolok.

Jadi ceritanya aku itu lagi jalan-jalan, biasa anak jalanan. Bener-bener nggak ada niatan untuk ke rumahnya pada saat itu. Tapi tanpa di panggil katak tiba-tiba aja hujan turun, deres banget lagi.

Dan kebetulan saat itu aku lagi nggak bawa payung. Dan yang lebih kebetulan lagi, saat hujan turun aku itu berada di depan rumahnya Ken. Ya langsunglah aku kesana buat berteduh sampai hujannya reda. Dan karena itulah aku sekarang ini secara tidak langsung "terjebak" di rumahnya Ken.

Dan sekarang ini kami berdua lagi duduk santai diteras rumahnya Ken sambil nunggu hujan reda, biasalah anak orang kaya, di depan pintu rumahnya ada teras sama tempat buat duduk gitu. Ditambah lagi rumahnya ada diatas bukit, jadi pemandangannya ga usah ditanya betapa indahnya pemandangan disitu. Nah saat berada diteras inilah pertanyaan aneh Ken dimulai.

"Ed." Ken memanggilku.

"Hah? Kenapa?" jawabku yang penasaran.

"Gapapa."

Nah, ini nih. Kalo anak yang sering dipanggil "Kenny" ini udah mulai bilang "Gapapa" itu berarti dia itu lagi gundah akan sesuatu. Atau nggak dia itu lagi jahil aja sih.

"Lu itu bosen ga sih Indonesia cuma punya 2 musim? Kemarau, hujan, kemarau, hujan. Ya itu-itu aja. Kenapa nggak ada musim yang lain?" Pertanyaan yang menarik, tapi agak minta ditampol juga sih.

"Ya mau gimana lagi, kan emang udah kayak gitu dari awal. Kamu kan anak rajin, harusnya lebih tau." Jawabku dengan nada agak kesel.

"Iya juga sih, mungkin yang nggak dari awal sampe akhir itu kayaknya hubungan lu sama kak Dina deh." Ken menjawab dengan santainya.

Ok, aku tarik balik kata-kata ku di awal waktu bilang kalau Ken ini anak yang "baik-baik". Dia itu ada masa-masa ngeselinnya juga, contohnya ini, ngomongin hubungan masa lalu orang lain dengan gampangnya sambil senyum-senyum. Sambil nyeruput teh angetnya lagi. Ditengah-tengah hujan lebat?!

Yah ngomongin soal hubungan, Dina itu mantanku di kelas 10. Sekarang dia sudah pindah sekolah ke luar negeri entah bagaimana. Lalu sejak saat itulah aku kenal dengan Ken. Dan sejak saat itu sampai sekarang si "Kenny" ini masih aja ngungkit-ngungkit masa lalu, padahal mantannya lebih banyak deh perasaan.

Jadi daripada memperpanjang kenangan masa lalu yang sama sekali tidak indah itu, aku pun berusaha buat ganti topik.

"Hah, apa? Tadi aku gak salah denger kan? Kamu minta ditampar? Oke sini," kataku sambil membunyikan tangan.

Dan setelah aku bilang itu, Ken langsung reflek kabur kedalam rumahnya seakan-akan dia dikejar oleh setan. Tapi emang banyak yang bilang tamparanku itu kayak tamparan setan sih.

Udah sekitar setengah jam aku "terjebak" di rumahnya Ken ini. Bukannya makin reda, hujannya malah makin lebat. Seakan menyuruhku untuk tetap menunggu dirumahnya Ken yang sekarang ini lagi masak mie instan di dapur.

Dan jujur saja aku memang tergiur dengan baunya, tapi aku nggak bisa minta. Karena sayangnya aku sudah makan sebelum jalan. Damn.

Kalian pasti juga pernah, udah makan kenyang tapi masih tetep tergiur sama bau makanan lain. Yah, demi menghindari bau itu, akupun mencoba mengelilingi rumahnya Ken yang sangat besar ini. Tiga lantai pula.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 26, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Fall in AutumnTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang