Bab 6 (Fathir 1)

466 46 5
                                    

Maybe I'm too ambitious with the voting so 35 jelah.
______________

"Sayang..."

"Nak apa?" Suara di hujung panggilan menyahut.

"Kok gitu terus sih? Marah sama aku lagi ya?"

"Entah. Go figure."

"Saayaaang, kamu kok terusan marah sama aku? Emangnya kamu enggak sayang lagi sama aku..."

"Can you stop conversing in Indonesian? Annoyinglah." Suara itu merengek marah. "Kat mana tu?"

"Your heart."

"Ugh. Betul-betullah ni orang tanya."

"Coba kamu buka pintu rumahmu, Sayang."

"Huh!?" Dia tidak banyak menjawab sebaliknya dia terus pergi ke pintu dan membukanya. Berdiri di hadapannya kekasih hati yang dicintai. "Lah! Tiba-tiba je sampai?!"

"Kok iya sekalipun marah, bukain dulu pintunya dong. Dingin di luar ini."

Dia membuka pintu studionya sebelum mengajak kekasihnya itu masuk.

"Kenapa datang?"

"Loh? Bukannya kamu yang bilang kangen sama aku?"

"Memanglah tapi kan you kata you balik rumah your wife malam ni?"

"Iya, benar itu. Aku datang ini bentar aja. Pokoknya aku juga kangen sama kamu, Sayang."

Dia memeluk kekasihnya itu. Menjadi 'mistress' sememangnya bukanlah sesuatu yang diidamkan mana-mana manusia tapi dia tak punya pilihan. Dia tersalah mencintai seseorang.

"Darien..." Dia mendengar nama dia disebut. "Liat wajahku, Sayang."

Dia mengangkat mukanya memandang kekasihnya.

"Laper."

"Tak makan lagi ke?"

"Pengen makan kamu aja. Bisa enggak?"

Dia bingkas bangun dan berjalan menuju ke dapur. Dia kemudian memanaskan sepinggan nasi goreng sebelum disuguhkan kepada kekasihnya.

"Kamu enggak makan?" Kekasihnya bertanya kepada dia.

"Dah tadi. Tunggu you lambat sangat."

Kekasih hatinya itu tersenyum seraya menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya. Tangannya kemudian menyentuh tangan si buah hati.

"Uang belanja kamu ada lagi?"

"Ada. Ada job pun baru masuk so they gave me an advance. Cukuplah nak buat shopping sikit-sikit."

"Kalau uangnya udah mau kehabisan, kamu bilang aku ya. Adik kamu gimana? Ada kabar enak?"

Dia tersenyum kelat. Teringat adiknya yang sedang menghidap leukimia itu.

"Kamu kalau ada yang mau diceritain, panggil saja aku. Tapi jangan muncul di kantor aku terus ya. Mati aku kalau yang lain sampai ketahuan."

"Okey, Fathir. By the way, I dengar you ada junior exec baru."

Fathir mencubit lembut pipi kekasih simpanannya. "Kok bunyinya iri?"

"Mana ada jealous. Cakap je. Betullah kan you memang ada junior exec baru?"

"Iya bener. Tua dikit dari kamu. Tapi enggak ganteng macam kamu."

"Eleh yelah tu."

"Iya aku serius, Sayang."

Dia senyum malu. Fathir mencium pipi kekasihnya itu.

"You nak balik rumah your wife ke malam ni?"

"Iya, aku harus. Gini aja. Hujung minggu nanti kita libur bareng yuk."

"Mana je?"

"Mana aja kamu suka. Kamu sebutin aja mana lokasinya, nanti kita pergi ya."

Dia senyum lagi.

Fathir dan kekasihnya memadu asmara seketika selepas makan sebelum Fathir meminta diri untuk pulang.

"Fathir, do you think your wife knows about us?" Kekasihnya bertanya semasa Fathir memakai stokin.

"Kok kamu penasaran tentang itu?"

"Of course I nak tahu. Everything involving an affair of someone's married rarely ends in a good way."

"Terus? Kamu mau putus sama aku?"

"Bukan macam tu. I just risau je."

"Nggak ada apa perlu dikhuatirin, Sayang. Pokoknya kamu harus tau yang walau apapun terjadi, aku akan tetap ada untuk kamu."

"I tahu tu."

"Ya udah, jangan kabut terus kamu itu. Mendingan kamu istirahat aja. Nanti aku call ya."

Kekasihnya mengangguk sahaja. "Love you, Fathir."

"Love you too, D."

Segala kemanisan yang dilihat ini berbeza sebaik Fathir tiba di rumah dia bersama isterinya, Wilorna. Belum masuk rumah lagi, ketegangan sudah terasa.

"Kok udah telat baru pulang? Emangnya kami ini apa buat kamu, Mas?" Isterinya menyoal sebaik dia menutup pintu.

"Wil, sungguh sekalipun kamu mau marah padaku, bisa enggak hingga aku itu masuk sepenuhnya ke dalam rumah dulu?"

"I don't care. Stop treating me like a mistress then only I act like your devoted wife."

Fathir malas melayan isterinya sebaliknya terus melangkah longlai ke biliknya.

"Fathir Wachara, I'm talking to you."

"Terus kamu mau apa, Wilorna? Emangnya pernah enggak di benakmu itu yang aku ni lagian capek dengan kerjaan atau apapun?"

"Fine! Kamu capek? Beneran kamu capek? Emangnya kalau beneran kamu itu capek, kamu langsungannya pulang ke rumah ketemuin aku sama anak-anak kamu, Mas."

"Terus apa lagi yang aku sedang lakuin ini, Wilorna?!"

"Aku tau kamu itu selingkuh, Mas. Aku tau semuanya. Kamu enggak setia sama aku, Mas Fathir." Air mata mula menitis di pipi jelita isterinya.

Fathir terus duduk di hujung katilnya memandang isterinya dengan pandangan kosong. Sepatah apapun tidak keluar dari mulutnya.

"Benar kan?" Isterinya itu menambah lagi.

"Emangnya ngapain sekalipun benar? Kamu mau aku ceraikan? Kamu sadar enggak tanpa aku kamu itu hanya cewek gembel, Wilorna?! Tanpa aku, kamu tidak akan bisa mampu hidup penuh selesa kayak gini. Tau diri loh."

"Jadi begitu nilai aku sebagai isteri pada kamu, Mas?"

"Kamu mau aku katakan apa lagi, Wilorna? Cukup untung kamu itu ada makan pakai buat kamu sama keluarga di kampung. Masakan lagi mau dipinta lebih."

"Mas, aku ini isteri kamu, Mas. Hina sekali tohmahanmu kepadaku, Mas."

"Ya udah enggak perlu dibuat kisah sedih. Aku lagiin capek. Mau tidur. Pokoknya mulai esok aku enggak mau lagi kamu terusin hubungi kantor aku. Kamu tau enggak itu semua kasi kepalaku sesak. Kalau aku tau lagi yang kamu lagiin hubungi kantor aku, nahas kamu."

Isterinya diam sahaja.

Fathir kemudiannya melangkah keluar dari bilik itu hendak menuju ke dapur. Langkahnya terhenti ketika dia ternampak sosok tubuh budak perempuan di ruang tamu. Dia kaget sebelum menyapa budak tersebut.

"Loh, kok belum tidur?"

"Papa lagiin ribut sama Mama?"

"Tidak, Sayang. Cuma ada diskusi sedikit antara kami. Yuk, Papa nemenin kamu tidur."

"Prani denger tadi Papa marah sama Mama. Kok Papa sudah enggak sayang lagi Mama yah?"

"Ngapain kamu ngomong kek gitu. Of course I love your mother. I love both of you and Rizalis as well. Kamu jangan risau ya."

Dia diam sahaja.

"Yuk, Papa temenin kamu tidur duluan."

"Baik, Pa."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 07, 2022 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

... Dalam SelimutWhere stories live. Discover now