Prolog

346 32 17
                                        

"Kau mau minum apa? Sekalian biar aku yang memesannya."

Pertanyaan yang diikuti dengan tepukan kecil di punggungnya membuat seorang remaja laki-laki berseragam sekolah itu mendongak, mengabaikan permainan di ponselnya sesaat.

Ia mengamati isi rak minuman yang berada tak jauh dari tempatnya sekilas, lalu kembali menoleh ke arah Raina yang sudah menatapnya dengan ekspresi tak sabar.

"Samakan saja dengan pilihanmu."

"Baiklah. Sudah kuduga." Gerutu Raina diikuti dengan dengusan kesal. Gadis itu berbalik dan langsung melangkahkan kaki ke arah kios minuman.

Ivon yang melihat kekesalan muncul di wajah sahabatnya itu hanya menggelengkan kepalanya samar, lalu kembali fokus pada ponselnya. Meskipun begitu, ketika pandangannya sudah tertuju pada layar yang sedang menyala, pikirannya tengah berkelana.

Kebersamaannya bersama Raina yang biasanya terasa menyenangkan kini menjadi canggung. Sejak orang tua mereka berniat menjodohkan keduanya di acara makan malam keluarga dua hari lalu, Ivon lebih banyak diam. Sedangkan Raina kini menjadi uring-uringan.

Memang masih rencana, tetapi tetap saja hal itu membuat mereka tidak suka. Sebab, Raina menganggap Ivon sebagai saudara. Begitupun sebaliknya. Lagipula, baik Raina maupun Ivon saat ini tengah menyukai teman dekat mereka. Raina menyukai Jason, sedangkan Ivon menyukai Natasha.

"Aish, bagaimana bisa?" protes Ivon tiba-tiba ketika layar ponselnya mendadak berwarna hitam total.

Alih-alih mencari penyebab ponselnya tidak dapat beroperasi dengan normal, cowok yang memiliki mata sipit menyerupai mata rubah itu malah meletakkan ponselnya asal di atas meja lalu memandang sekeliling.

Tatapannya mendadak terhenti pada sosok Natasha yang sedang berlari-lari kecil keluar dari kantin sambil membawa dua gelas minuman dingin. Tampak gadis itu tertawa kecil, membuat Ivon tanpa sadar tersenyum tipis.

Cowok itu mengalihkan pandangan ke arah ponselnya yang tadi sempat ia abaikan. Perasaannya yang tadi sedikit kesal kini menghilang sepenuhnya, berganti dengan rasa senang karena melihat senyuman di wajah Natasha.

"Kupikir, ada baiknya kau segera menyetujui ide yang kucetuskan kemarin, Von."

Suara Raina membuatnya tersentak. Kini di sebelahnya, gadis berambut sebahu itu duduk di kursi kosong, sedang menatapnya dengan senyum misterius.

"Lihat mereka!" pinta Raina sambil menunjuk ke satu arah.

Di sana, Ivon menemukan Natasha dan Jason sedang berjalan bersama. Tampak Jason tengah mengatakan sesuatu yang membuat Natasha tertawa.

"Aku tidak suka melihat mereka akrab."

Suara Raina membuat Ivon kembali menoleh ke arah gadis itu. Ia bisa melihat dua sudut bibir Raina yang tertarik ke bawah - ciri khasnya kalau sedang sedih dan merajuk.

"Jadi aku harus apa?" tanya Ivon menawarkan bantuan. Meskipun usia mereka hanya selisih beberapa bulan, Ivon selalu memposisikan diri sebagai kakak untuk Raina. Karena keduanya adalah anak tunggal di keluarga masing-masing.

"Kita harus bekerja sama membatalkan perjodohan sialan itu, dengan cara mengejar pujaan hati masing-masing." Cetus Raina dengan mata berbinar. Gadis itu memutar tubuhnya agar menghadap Ivon, lalu mengacungkan jari kelingking ke depan wajah.

"Bantu aku mendapatkan Jason, dan aku akan membantumu mendapatkan Natasha." Pinta Raina penuh penekanan.

Ivon menghela napas panjang.

"Bagaimana kalau mereka juga saling mencintai?" tanyanya hati-hati.

Melihat bagaimana dua orang tadi tampak akrab, membuat Ivon menyimpulkan hal tersebut.

"Justru itu. Sebelum keduanya menyadari perasaan masing-masing, kita sudah lebih dulu menghentikan mereka." Bantah Raina dengan semangat menggebu.

Ivon kembali menoleh ke arah di mana tadi ia melihat Natasha dan Jason. Sudah tidak ada siapa-siapa di sana.

"Bahkan dalam kegelapan pun, kami akan tetap berusaha untuk mendapatkan hati orang yang kami cintai." Gumamnya pada diri sendiri.

Dirasakan tepukan pelan berkali-kali mendarat di punggungnya. Ivon bisa mendengar Raina yang tertawa miris sebelum akhirnya gadis itu berkata, "Menyedihkan sekali, bukan? Tapi tidak apa-apa. Aku berharap cerita ini akan berakhir bahagia." Ujar Raina dengan penuh keyakinan.

¤

¤

¤

¤

¤¤¤¤ {bersambung} ¤¤¤¤

.

.

.

***
a/n:
Halo!
Author ingin menginfokan
kalau cerita ini akan diupdate
setiap hari senin dan selasa.

.

Jadi,
sampai jumpa minggu depan ~

ShadowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang