The Answer

177 20 20
                                        

Natasha membaca ulang tulisan tangannya yang berbaris rapi di buku harian. Gadis berparas cantik itu menghembuskan napasnya dengan kasar. Perasaannya menjadi tidak menentu sejak kejadian di pesta ulang tahun Raina dua hari lalu.

TING TONG!

"Nat? Kau ada di dalam, kan? Ini aku, Raina!"

Seruan yang terdengar dari luar rumahnya membuat Raina bergegas menengok ke luar jendela. Di bawah sana ia dapat melihat sosok Raina di luar gerbang rumah. Gadis berambut sebahu itu masih mengenakan seragam sekolah seraya melambai-lambaikan tangan ke arah jendela kamarnya.

Natasha bergegas keluar rumah dan membukakan pintu gerbang dengan enggan. Ia sudah menduga Raina akan menjenguk dan mewawancarainya seperti biasa.

Hari ini ia tidak masuk sekolah, pikirannya sedang kacau dan ia takut jika dipaksa untuk bersekolah kondisinya akan lebih parah.

Acara ulang tahun Raina yang runyam menurut sudut pandang Natasha membuat kepala gadis itu terasa pening. Jason yang menyatakan perasaannya kepada Raina, hatinya yang terasa perih melihat Raina dan Jason yang akhirnya bersama, hingga pengakuan tak terduga dari Ivon membuatnya benar-benar merasa kacau.

"Baiklah Nat, kau tahu kan bahwa sahabatmu ini adalah calon wartawan professional?"

Natasha hanya mengangguk lemah, membiarkan Raina mempersiapkan pertanyaan yang akan diajukan kepadanya.

Anehnya, ia tidak merasa benci dengan sahabatnya itu.

"Pertanyaan pertama, kau sakit apa?"

Raina menyentuh dahi Natasha dengan hati-hati lalu memberi kesimpulan.

"Kau tidak apa-apa, hanya sedikit kacau saja."

Raina memberikan kesimpulan sepihak.

"Pertanyaan kedua, apa kau sebelumnya telah membuat janji dengan Ivon untuk tidak masuk sekolah? Karena setelah kujenguk siang tadi ternyata dia sama kacaunya sepertimu. Namun lebih parah."

Raina memberi penjelasan panjang lebar.

Natasha tak menyangka Ivon juga demikian, lebih parah malah. Setelah kejadian malam itu, ia mengabaikan semua pesan dan telepon dari Ivon. Ia butuh waktu untuk menyembuhkan hatinya.

"Tidak. Mungkin... itu hanya kebetulan?" jawabnya asal sembari mengedikkan bahu.

"Ayolah, Natasha. Tidak ada yang namanya kebetulan di sini. Kalian pulang bersama waktu di pestaku, lalu keesokan harinya Ivon menanyakan keadaanmu kepadaku karena ponselmu tidak dapat dihubungi. Kalian sedang bertengkar, ya? Boleh aku tahu masalahnya?"

Raina menatap tajam ke arahnya, membuat Natasha tampak salah tingkah.

"Kau... sedang menyembunyikan sesuatu dariku, bukan?"

Pertanyaan itu mendapatkan reaksi berupa helaan napas.

"Ivon menyatakan perasaannya kepadaku. Dan aku langsung pergi tanpa memberikan jawaban." Jawab Natasha dengan nada enggan.

"Kenapa?"

Satu pertanyaan itu cukup membuat Natasha tersentak.

ShadowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang