Fri-end?

175 28 12
                                        

"Kau mengejutkanku setengah mati!" omel Jason kepada seorang remaja perempuan ketika keduanya sedang berjalan melewati kebun sekolah menuju kantin.

"Harusnya kau sudah mulai terbiasa dengan sifatku itu!"

Natasha - gadis yang berada di sebelah Jason itu langsung menggerutu. Perhatiannya dari layar ponsel yang sedang ia genggam kini beralih ke lawan bicaranya.

"Yah, seharusnya begitu..." gumam cowok berambut hitam yang dipotong cepak itu dengan tatapan menerawang, entah sedang memikirkan apa.

Meskipun begitu, tubuh jangkungnya dengan sigap langsung menundukkan kepala ketika berpapasan dengan ranting pohon bunga kamboja yang menjulur di hadapannya.

"Lalu?"

Natasha kembali bertanya dengan mengangkat sebelah alis. Perlahan ia memasukkan ponselnya ke dalam saku rok, lalu mendongak sedikit, melayangkan tatapan penuh tanya kepada cowok yang tadi mengajaknya berbicara.

Percakapan itu terhenti sementara ketika mereka berhenti di salah satu sudut kantin yang tidak begitu ramai. Tugas melakukan pementasan drama tadi membuat kelas mereka mendapat jadwal istirahat lebih awal dari biasanya.

Dengan langkah pasti, gadis bermata bulat itu memesan dua gelas minuman dingin ke ibu kantin. Setelah menyebutkan pesanannya, dirapikan rambutnya sejenak, lalu menyusul teman sekelasnya tadi ke salah satu meja kosong yang ada di sana.

"Kau tahu, pikiranku langsung kosong begitu kau memandangku tadi. Kurasa... aku mendadak gugup."

Jason kembali melanjutkan pembicaraan mereka yang tadi sempat terjeda.

"Kau hebat."

Pujian sederhana yang diberikan oleh sang lawan bicara membuat Jason terdiam. Sedikit ragu, ia melirik sosok yang sedang duduk di hadapannya. Kedua tangan gadis itu sudah menopang dagunya sendiri, secara terang-terangan sedang asyik menatapnya dari seberang meja.

"Apanya?" tanya cowok itu salah tingkah, seakan tak mengerti dengan apa yang tengah dikatakan oleh teman sekelompoknya saat memainkan drama tadi.

Gadis berambut cokelat gelap di hadapannya itu menghela napas, "Aku baru ingat, bahwa teman sekelasku ini terkadang memang sedikit lambat jika disuruh untuk berpikir." Cibir Natasha dengan senyum mengejek.

Natasha terkikik kecil, mengibaskan rambutnya ke belakang, lalu berkata, "Kau bisa menghapal dialog panjang di drama itu hanya dengan membaca naskahnya sekali. Bukankah itu hebat, huh?"

"Biasa saja," celetuk cowok itu rendah diri.

"Cih, merendah untuk meroket?"

Pertanyaan sarkas dari gadis itu langsung mendapat repson. Tanpa dikomando Jason segera berdiri, membuat Natasha dengan sigap berlari untuk mengambil pesanannya, lantas meninggalkan kantin terburu-buru dengan senyum penuh kemenangan.

Selain merasa puas karena berhasil menjahili Jason, Natasha juga merasa senang karena bisa menghabiskan waktu berdua dengan cowok yang ia suka.

Gadis itu mempercepat langkahnya, tidak peduli dengan temannya tadi yang mungkin akan mengeluh karena minumannya juga dibawa olehnya.

Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang tengah mengamati dirinya dari kejauhan dengan pandangan tak suka. Sang pemilik mata itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Berusaha menahan gejolak amarah yang sedang dirasakan.

ShadowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang