Bab i

10 2 0
                                    

Suara ricuh sukses menarik atensi orang-orang. Para lalu lalang mendadak berhenti demi mengetahui siapa yang berhasil membuat para wanita menjerit kegirangan. Sepasang mata mengincar sosok seorang pemuda yang kini tengah menggiring bola keranjang atau bola basket di lapangan. Kaki jenjang itu berlari, dibalut sepatu berwarna putih dengan garis hitam di kedua sisi. Tatkala dia melompat jauh, orang-orang menganga, menyaksikan fenomena keindahan dari seorang insan.

Bola itu berhasil masuk ke dalam ring, sontak para wanita bersorak penuh kemenangan, mendukung di kursi penonton sambil menyoraki nama si pemain. Heboh.

“Kak Hesa ganteng banget!”

“Yeay berhasil!”

“Kak Hesa jangan melet-melet kayak gitu lah, bikin jantungan!”

“Kayaknya aku ngidam deh.”

Begitulah kiranya kehebohan yang mereka ciptakan. Sementara sang bintang tidak pernah mengindahkan kehadiran mereka, dia hanya sekali melirik, kemudian kembali bermain.

Ini bukan acara resmi, melainkan suatu kegiatan yang sengaja dia lakukan di masa senggang—saat jam istirahat. Pria itu mengajak teman dekatnya untuk bermain bola basket di lapangan sekolah. Kehebatan dia serta visual yang dia miliki berhasil memikat hati para wanita. Tidak ayal, kehadirannya berhasil mengundang kerumunan.

Huh, dasar sombong!” Suara dari seorang wanita berhasil menyita atensi si pemain pria. Dia menemukan wanita itu sedang berdiri di dekat sebuah pohon, tidak jauh dari lapangan.

"Dia hebat main basket karena dia punya duit,” sambung wanita itu penuh percaya diri, tidak takut dirinya akan diserang para penggemar, toh dirinya merupakan kakak kelas dari mereka.

Pemain pria bernama Mahesa itu tidak menghiraukan perkataan si wanita. Sudut bibirnya terangkat, kemudian dia bergerak lincah merebut bola basket dari tim lawan. Dia membidik bola tersebut ke arah wanita tadi, kemudian melemparkannya ketika wanita itu hilang fokus.

Bola berhasil mendarat di kepalanya. Wanita itu geram, dia lantas mengambil bola basket tersebut sembari melayangkan tatapan tajam kepada Mahesa. “Sialan kau! Mentang-mentang anak orang kaya!” pekik wanita itu jengkel. Alih-alih, dia langsung kabur sambil membawa bola basket agar pria itu tidak bisa bermain. Teman yang sedang bersamanya ikutan kaget. “Eh, Mawar! Mau kamu apain bola itu?” pekiknya tanpa berniat untuk mengejar karena gadis itu berlari cepat.

“Wah, dia beneran membawa pergi bolanya,” ucap salah satu teman Mahesa bernama Bagas.

Dari sini Mahesa berencana mengejar gadis itu. Dia berlari menggunakan kakinya yang sudah kelelahan. Dorongan dalam hati memaksa dia untuk terus mengejar si wanita.

Temannya yang lain hanya tersenyum memandangi gelagat Mahesa. “Dia sangat kekanak-kanakan,” ucap Asrar, teman Mahesa. Mengingat bahwa Mahesa merupakan anak tertua dari lingkup pertemanan mereka.

[] [] [] [] []

Sebagai kakel (kakak kelas) tentunya harus bisa menjadi contoh untuk adik kelasnya. Senantiasa memberikan teladan agar mereka bisa mengikuti atau mengambil pelajaran baik. Berbeda dengan apa yang dilakukan Mawar dan Mahesa, keduanya tampak sedang bermain kejar-kejaran. Sebaliknya mereka seakan memberikan contoh yang buruk, keduanya tampak tidak terlalu mengindahkan keberadaan tata krama.

Mereka berlari di koridor kelas. Mawar membawa Mahesa masuk ke dalam gedung sekolah. Wanita itu mencoba menghindari Mahesa agar tidak tertangkap sembari membawa bola basket. Saat tiba di belokan, Mawar berhenti tepat di belokan itu sehingga Mahesa bisa melihat setengah badannya.

Pria itu tersenyum asimetris. Dia mempercepat laju kakinya agar segera menangkap Mawar. Nyaris saja dia menangkap basah gadis itu, alih-alih kakinya mendadak sulit dikendalikan. Dia kehilangkan kontrol sampai tubuhnya menubruk seorang guru yang ternyata sedang memarahi Mawar.

Apa Itu Cinta?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang