18+
Mature Content
Satu cincin menghilang.
Dua jiwa tertukar.
Dan sebuah rahasia perlahan mengancam nyawa mereka.
Ketika masa lalu mulai terungkap, Jovlyen harus memilih-melarikan diri dari kehidupan Vanka atau bertahan demi menemukan kebenaran.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ruangan VIP itu kembali sunyi setelah Devon meninggalkan rumah sakit.
Pintu yang baru saja tertutup seakan ikut membawa pergi udara hangat dari dalam ruangan, menyisakan hawa dingin yang membuat Jovlyen tanpa sadar merapatkan selimut hingga menutupi dadanya.
Tatapannya kosong.
Sesekali ia memandangi langit-langit putih kamar rawat inap, lalu mengalihkan pandangan ke jendela besar yang memperlihatkan langit senja.
Semua terasa nyata.
Terlalu nyata.
Jika ini mimpi, mengapa rasa nyeri di kepalanya begitu jelas?
Mengapa tubuh ini benar-benar terasa bukan miliknya?
Jovlyen mengangkat kedua tangannya perlahan.
Jari-jarinya masih sama gemuknya.
Kulitnya memang lebih putih dan halus dibanding tubuh aslinya, tetapi bentuk tubuhnya tidak jauh berbeda.
Ia mengembuskan napas panjang.
"Kenapa harus begini, sih..."
Suara lirih itu nyaris tidak terdengar.
Sungguh, ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah hanya karena rasa penasaran terhadap sebuah cahaya aneh di tengah hutan.
Kini ia terjebak di dunia yang sama sekali asing.
Bahkan...
Di tubuh perempuan lain.
Yang lebih mengejutkan lagi,
Perempuan itu ternyata sudah menikah.
Bukan hanya menikah.
Suaminya bahkan tampak membencinya sampai ingin menghabisi nyawanya.
Jovlyen menutup wajah menggunakan kedua telapak tangan.
"Aku ini lagi kena prank semesta, ya?"
Ia tertawa pelan.
Namun tawa itu berubah menjadi helaan napas panjang.
Tak ada satu pun yang terasa lucu.
Yang ada hanyalah rasa takut.
Bagaimana kalau ia benar-benar mati di dunia ini?
Lalu bagaimana dengan ibunya?
Bagaimana dengan neneknya?
Apakah mereka sedang mencarinya sekarang?
Atau justru,
Tubuh aslinya sudah tidak bernyawa?
Pikiran itu membuat dadanya terasa sesak.
"Kenapa melamun terus, Nak?"
Suara lembut membuyarkan lamunannya.
Nyonya Calista duduk di samping ranjang sambil menggenggam tangan Jovlyen.