⊡ Alternative Universe ⊡
Naruhina Fanfiction
Mature [21+]
Harap pembaca bijak
Genre: Romance Metropolis.
Tolong Etika dipakai terkait ilustrasi yang ada di dalam fanfiksi ini, Terima kasih.
🌵🌵🌵🌵
"Aw!"
"Oh, God! Sorry, aku kelepasan!" Naruto buru-buru menarik tangan Hinata untuk memastikan permukaan kulitnya baik-baik saja. "Aku tidak pernah sedekat ini dengan orang asing dan aku juga punya refleks berlebihan ketika tubuhku menerima rangsangan yang membuatku risi--sepertinya aku memukulmu terlalu kuat. Coba lihat, ada bekas memerah di sini! Duduklah, biar kuoleskan salep agar rasa perihnya segera hilang."
Kepergian Naruto membebaskan sepenggal sesak di pernapasan Hinata. Begitu sulit mengontrol diri saat berhadapan dengan suami pura-puranya yang sungguh disayangkan amat rupawan. Hinata tidak keberatan dan berani membeberkan kepada khalayak umum seperti apa figur pria itu. Bukan sekadar mengenai paras memikat, perilakunya pun mampu membolak-balikkan pertahanan diri.
Adakalanya Hinata cemas sebab reaksi dingin kerap dia terima, atau merasa tinggi setelah Naruto memberikannya secuil perhatian. Dan bagian yang ingin dihapus olehnya adalah bahwa dia ragu dapat menjamin hatinya tak goyah hingga akhir, persis perjanjian mereka di atas materai.
"Akan lebih aman buatku menampung makiannya. Naruto dan perhatian bukan perpaduan bagus untuk posisiku. Apa yang dapat kulakukan? Tentu saja menghindar darinya. Ya, jika aku memang siap kehilangan milyaran kekayaan yang sudah menanti." Dia bertanya dan menyahut sendirian gundah di benak.
"Berikan tanganmu!"
Astaga, Naru! Hinata mengutuk dalam hati, menyesali dirinya yang gagal memasang pertahanan kokoh dari godaan manusia satu ini.
"Naru, aku tidak apa-apa. Dasimu belum terpasang rapi, bolehkah kulanjutkan pekerjaanku sebelumnya?"
"Apa yang kau perkirakan tentang mengoleskan salep untuk seseorang?!" Naruto merendahkan nada di balik suara husky khas miliknya yang terdengar seksi di telinga. Itu cukup menyentak bulu-bulu halus di sekujur badan, Hinata malah kontan merunduk sipu. Pipinya ikut memerah, dan Naruto melihatnya. "Tanganku mengenai pipimu juga?"
"Ah, ti-tidak, Naru. Maaf, aku bisa melakukannya lebih cepat dari semula." Kedua lengan rampingnya cekatan memindahkan salep dari tangan Naruto ke permukaan kasur. "Nah, selesai! Kau tampak sempurna sekarang." Bibir semerah pualam melengkung cantik di situ, seakan bertujuan menebar mantra kasih. Ajaib memang, Naruto turut menampakkan seringai yang katanya mahal saking jarang dipandang.
"Terima kasih. Aku menyukai usaha dan kesabaranmu, Hinata."
"Merupakan tugas dan tanggung jawabku, Naru ... sebagai istri--istri pura-pura, aku cuma berharap kau bisa percaya seutuhnya padaku. Apapun yang kulakukan terhadap dirimu murni berdasarkan kesepakatan di antara kita, aku ingin membantumu, Naru. Jadi, bolehkah aku meminta satu jaminan darimu?"
"Sebutkan saja nominalnya." Hinata mencelus, menyadari nyeri menyerang nurani. Faktanya, pandangan Naruto menyangkut dirinya tiada berubah. "Hinata--"
"Ya--" Halus sekali kata itu dituturkan Hinata, menutupi kecewa yang telanjur meruntuhkan kepercayaan diri. "Aku tidak ... maksudku, ini bukan soal uang. Aku tahu kau menghabiskan banyak untuk menyewaku. Tapi, sejujurnya bukan hal itu yang mau kukatakan."
"Jadi?! Ah, aku tahu! Kau ingin apartemen pribadi, mobil, deposito berbunga atau liburan mewah?! Tidak usah khawatir Hinata. Aku rela mememuhi segala permintaanmu jika kau berhasil mewujudkan rencanaku."
"Ehm, Naru, aku tahu kau begitu kaya. Hanya, bisakah kau menepikan sejenak tentang perkara materialistis? Aku tidak memimpikan apa-apa yang kau absen itu. Untuk yang ini aku memintanya khusus--kesabaranmu. Dengan begitu aku bisa selalu fokus memainkan instruksi darimu, tidak perlu mengkhawatirkan lagi guncangan mental yang mungkin tidak sengaja kau lemparkan padaku." Serta merta Naruto mengerang panjang.
"Baik! Libatkan aku juga ke dalam misimu, kau mengerti?"
"Pasti, kau pemeran utamanya di sini!"
"Semoga harimu menyenangkan, Hinata."
Lembut bariton menghilang seiring langkah Naruto meninggalkan sepi dan hening di ruang berukuran luas tersebut. Hinata masih betah berperang pada dilema yang menuntut. Dia diwajibkan menepis percikan romantis di dalam sandiwara pernikahannya.
To be continued
-----------------------------------------------
Naruhina Fanfiction AU ©2022
© o p y r i g h t Story writer
© Lipeuchi_ © Laceena
Illustrator
© Lipeuchi_
Karakter © Masashi Kishimoto
KAMU SEDANG MEMBACA
IVORY
RomanceAlternative Universe Naruhina Fanfiction Harap pembaca bijak [𝐌𝐚𝐭𝐮𝐫𝐞] Di kota yang dibangun dari dosa dan gemerlap cahaya neon, seorang wanita malam menerima tawaran untuk menjual waktunya pada pria yang bahkan anti cinta. Namun, di antara ua...
