Chapter 3

5.5K 237 8
                                        

"Kau yakin, Ai?" Kevin menatap Airin yang sedang duduk di hadapannya. Saat ini, mereka berdua sedang berada di ruang kerja pribadi milik Kevin Maxwell.

"Jabatan assmen nya masih kosong kan?" Airin menjawab pertanyaan Kevin dengan pertanyaan kembali.

"Masihlah." Kevin mengangguk, tampak berpikir "Tapi kamu bener bener serius?"

"Iya dong, serius. Biarkan aku yang ngisi posisi untuk jabatan itu."

"Lokasi resort nya itu empat jam perjalanan darat dari sini, Ai."

"Lalu?"

"Emang mommy dan daddy mu bakalan ngijinin?"

"Aku yang tanggung jawab. Lagian cuma empat jam doang, belum terpisah antar negara." Airin terkekeh kecil.

"Ngomong emang pinter, Ai. Ntar kalo kangen ama Teo dan sepupu sepupumu gimana? Masa mau bolak balik melulu." Kevin menaikkan alisnya, menatap tajam gadis bertubuh mungil di hadapannya.

"Video call, Vin. Jaman udah modern gini."

"Emang bisa? Tahan gak ketemu pawang mu? Matteo?" Kevin mendengus kasar. Ia paham sekali kedekatan dan ketergantungan Airin pada Matteo. Matteo sejak kecil memang sangat menyayangi Airin, ia menganggap Airin sebagai adiknya karena ia begitu menginginkan adik perempuan tapi bundanya selalu melahirkan adik laki laki untuknya.

"Come on, Vin. Lagian aku pengen cari suasana baru. Bosan di sini."

"Cari suasana baru atau malah cari bule tampan?" Kevin menyeringai, ia tahu bahwa resort yang sedang mereka bahas adalah resort yang menjadi tujuan favorit turis mancanegara.

"Bule juga boleh, kalau jodoh, aku gak bakalan nolak kok." Airin terkekeh kecil sebelum memasang raut wajah serius "Aku berniat benar benar kerja dan gak cari gebetan. Kalaupun ketemu jodoh, aku berharap dia benar benar menerima diriku apa adanya dan bukan karena aku seorang Maxwell."

"Trus cara ngomong ke aunty gimana? Aku gak mau kena marah loh. Dipikir entar aku sengaja ngirim anak kesayangannya ke resort yang jauh."

"Aku yang bakalan jelasin malam ini. Kamu datang kan ke acara kumpul keluarga?" Airin menyandarkan dirinya di kursi.

"Datanglah. Emang mau dijewer sama Jessi galak itu?" Kevin mengangguk tegas sebelum tampak berpikir "Ai, tapi di sana managernya tuh Noah."

"Emang kenapa dengan Noah?" Airin menegakkan duduknya

"Noah tuh manager paling galak. Karakternya dingin dan mulutnya pedas. Sangking pedasnya dia belum punya pacar sampai sekarang."

"Bagus dong. Biar bisa konsen kerja, gak usah mikir ntar digombalin ama manager sendiri." Airin tergelak.

"Terserahmu deh princess." Kevin menyerah.

"Thanks Kevin cakep." Airin bangkit dari kursi "Buatkan SK nya ya. Secepatnya. Biar senin nanti aku udah bisa datang ke lokasi."

"Patah hati bikin kamu stress ya, Ai." Kevin menahan bibirnya agar tidak melengkung naik.

"Gak, justru mengajarkan aku kalau laki laki tuh gak ada yang bisa dipercaya karena otaknya tuh di selangkangan melulu."

"Enak aja. Gak semua kali." Kevin mendengus kasar.

"Gak semua sih. Dan semoga aku bisa ketemu jodoh terbaikku di resort." Airin mengulas senyum lebar.

"Nah kan, endingnya juga apa." Kevin berdecak pelan, menahan senyum.

"Eh tapi aku mau jangan pernah perkenalkan aku sebagai Maxwell ya di sana. Airin, hanya Airin. Buatkan aku resume tanpa nama Maxwell ya." Airin menghentikan langkah kakinya di dekat pintu.

My Love JourneyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang