Airin menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya. Menghela nafas kasar sambil melempar asal kedua flashdisk di tangannya ke atas meja kerjanya.
"Kau seperti baru saja dihabisi oleh pak Noah." Eve mengangkat wajahnya, menatap Airin.
"Kau benar." Airin membuka laptopnya, menekan tombol daya.
"Serius? Bukannya kau seharusnya malah mendapatkan bonus karena sudah membereskan kasus tuan Watson?" Naura berbisik pelan.
"Pak tua itu kesal karena aku memberikan voucher diskon tanpa berkoordinasi dengan dirinya."
"Pak tua?" Eve berbisik pelan, menahan tawa.
"Iya, Noah. Siapa lagi pak tua kalau bukan dia. Apa mungkin lebih cocok kalau kupanggil dia pria pemarah?" Airin terkikik nakal.
"Jangan cari gara gara. Kau sepertinya tidak ada kapok kapoknya." Eve menepuk gemas lengan Airin "Lanjutkan ceritamu."
"Pria jahat itu menyuruhku membuat laporan presentasi untuk meeting lusa. Ini sudah jam 2 dan dia memintaku menyelesaikannya paling lama besok pagi agar bisa direview besok siang." Airin menghela nafas panjang.
"Selamat berlembur ria." Naura menepuk bahu Airin "Kami hanya bisa membantu dengan doa."
"Aku tau itu, tolong doakan aku agar tidak dimakan oleh pria kanibal itu." Airin menghela nafas berat.
"Entah sudah berapa banyak sebutan yang kau sematkan untuk pak Noah." Eve terkikik kecil "Kau orang pertama di sini yang melakukan hal itu. Pak tua, pria jahat, pria pemarah lalu pria kanibal."
"Aku tau. Aku hanya meluapkan kekesalanku. Aku mungkin tidak akan lulus masa percobaan tiga bulanku." Airin mengeluh pelan, memasang flashdisk di laptopnya
"Belum tentu. Siapa tau kau malah jadi pawangnya." Eve mengedipkan matanya
"Aku? Yang dikatainya cupu?" Airin menunjuk dirinya sendiri sebelum menggeleng. "Sampai monas pindah ke bulan pun gak akan."
"Itu memang mustahil, Airin. Semustahil jembatan Ampera pindah ke amerika." Eve terkikik kecil. "Tapi kalau kau mau mengganti kacamatamu dengan kontak lens dan meluruskan rambutmu, kau pasti bisa memukau mata laki laki di sini, termasuk pak Noah."
"Oh iya?" Airin menggigit bibir bawahnya, menahan senyum
Kalian belum tau sehebat apa pesona seorang Airin Maxwell
"Sebaiknya aku mulai bekerja kalau tidak ingin lembur." Airin berdehem pelan.
"Sebaiknya, sebelum pak Noah mulai mencari cari kesalahanmu." Naura mengedipkan matanya.
Airin menghela nafas panjang dan mulai mempelajari contoh presentasi tahun lalu.
********
"Kau belum pulang?" Naura meraih tas jinjingnya.
"Belum, sepertinya aku akan lembur malam ini." Airin mengeluh pelan.
"Tidak masalah kalau kau bekerja sendirian?" Eve menatap iba ke arah Airin, rambut berombaknya mulai tampak berantakan.
"Aku hanya sendirian di ruangan ini, tapi masih ada anak anak yang bertugas di front office, sekuriti, dan bagian housekeeping."
"Aku lupa hal itu." Eve mengangguk. "Di sini shiftnya 24 jam."
"Lagian kamar messku dekat, hanya tinggal berjalan kaki saja ke belakang resort." Airin menggerakkan tangannya "Pulanglah..."
"Oke, met lembur." Naura berbisik pelan sebelum melangkah keluar diikuti oleh Eve.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Love Journey
RomanceBerwajah manis dengan tubuh mungil, membuat Airin mudah dikagumi dan dicintai oleh banyak orang sekaligus menjadikan Airin sangat dimanja dan dilindungi oleh sepupu sepupunya yang mayoritas adalah pria, termasuk Matteo. Namun hidup terkadang tidak...
