lelah

236 7 6
                                    

"Masih sakit?"

"Sedikit" Biru memejamkan mata, dia masih mengantuk karena Shaka kemarin.

"Kita deliv saja hari ini, tidak usah memasak ya cantik?" Biru mengangguk saja, sebab tenaganya terkuras habis karena Shaka. Laki-laki itu mendekat "maaf ya? Saya kelepasan" ucapnya seperempat menyesal, sisanya tidak.

"Hm" sahut Biru singkat, dia mengantuk sekali, ditambah lelah dan bagian bawahnya sakit karena Shaka yang mabuk tadi malam, sungguh tenaganya kuat sekali Biru bahkan sampai menangis karena kelelahan.

Melihat sang istri memejamkan mata, Shaka tersenyum tidak sepenuhnya menyesal, nikmatnya berasa sampai sekarang anjayyy, Shaka memuji karyanya di leher Biru, seni yang indah.

"Kita pakai jasa cleaning service juga ya?" Tidak ada jawaban, Biru sudah tidur. Shaka memilih membiarkan istrinya itu tidur sedangkan dia yang mengurus rumah, maksudnya menyuruh orang untuk mengurus rumah mereka, mana mungkin Shaka mau membersihkan rumah, membuat lelah saja.

Beberapa jam kemudian Biru terbangun, Shaka menyambut istrinya dengan senyuman lebar, minta di tonjok emang "cebol, yang tadi malam enak, boleh lagi?" Biru melotot, apa suaminya ini tidak lelah? Tadi malam mereka melakukannya dengan brutal dan lama padahal.

"Sayang mau ku pukul?" Nyengir, Shaka menggeleng.

"Berarti nanti malam?" Biru menatap Shaka datar "iya-iya enggak" Shaka mengambil nampan yang dia siapkan dari tadi "kamu suka es krim kan? Tadi saya beliin es krim, ini makan dlu, biar tenaga kamu banyak" selanjutnya otak kotor Shaka sudah memikirkan ide untuk melakukan gaya apa lagi malam ini yang akan mereka praktekan jika tenaga istrinya sudah terisi full.

"Aku bisa sendiri"

"Gapapaaaa sayangkuuuu, aku melakukan ini untuk jatah nanti malam"

"Aku gamau makan"

Sadar dengan ke typo an dirinya tadi Shaka meminta maaf "bukan gitu cebol, maksudnya untuk kamu biar tenaga kamu terisi lagi, cape kan tadi malam?" Biru mengangguk, tumben Shaka banyak ngomong, biasanya iya iya doang. Ada maunya pasti.

Biru membuka mata, menerima suapan dari Shaka "mau lagi sayang" Shaka tersenyum, dia kira tidak bisa membujuk Biru, padahal baru saja dia berniat memasukkan obat perangsang untuk istrinya. Shaka mode gak waras.

"Makan yang banyak ya"

"Iya"

"Bisa mandi gak? Mau saya mandiin?" Tawaran ini tidak murni tawaran hanya untuk memandikan ya adik adik.

"Bisa mandi sendiri" jawab Biru mematahkan semangat hidup Shaka.

"Yahh" Shaka mendesah kecewa, padahal jarinya sudah siap untuk meremas-remas. Awikwowkwowkwowk.

•••

"Assalamualaikum!!" Seru dua orang paruh baya yang sangat di kenali Shaka. Siapa lagi kalau bukan ibu dan ayahnya. Mereka tiba-tiba kembali ke Indonesia, padahal sudah baik jauh-jauh keluar negri, mengganggu kehidupan anaknya saja, pasti mereka mau mengejek Shaka nanti.

"Waalaikumsalam, ngapain dateng?"

"Gak sopan banget lu Lang sama orang tua, gue tabok juga pantat lu" Shaka berlari menjauh, dasar orang tua stress, untung Shaka ini cool cool gimana gitu.

"Papa tolongin Shaka" pinta Shaka saat mamanya semakin mendekat.

"Ga ngurus" Sam memilih duduk lalu mengambil remote tv, serasa rumah sendiri memang.

"Jahat"

"Mama.. papa.. kok datengnya gak ngabarin?" Biru yang baru selesai di dapur dengan camilan di tangannya menyalimi kedua orang tua Shaka, sopan banget kan? Gak kaya anak kandungnya.

"Sengaja biar surprise" Minah mengusap puncak kepala Biru "ASTAGFIRULLAH, ALHAMDULILLAH BENTAR LAGI PUNYA CUCU PA!!!" Minah ini, untung saja Biru tidak budeg, berteriak sekencang itu, Biru sampai mengelus dada, untung mertua.

"Ganas juga lu Lang" Minah terharu karena Shaka yang sat set sat set, tujuan mereka kesini untuk memberi wejangan biar Shaka dan Biru cepat-cepat memiliki anak, ternyata tanpa di suruh Shaka sudah tancap gas.

"Gak sengaja Ma"

"Kok ga sengaja? Sengaja juga lu tetep seneng" Shaka nyengir, memang manusia manusia prik, Biru tidak tahan disini, wajahnya memanas karena pembicaraan keluarga ini.

"Eits.. mau kemana cantik? Sini dulu kita makan sama-sama, gaboleh pergi gitu aja"

"Papa sama Elang sana kepasar beli belut yang banyak, buat ehem ehem anak kita nanti" lihat, makin ga waras kan?

"Siap sayang, Lang ikut bapak sini" dengan senang hati Shaka ikut. Bisa bertanya gaya dia dengan bapaknya nanti, menambah ilmu juga.

"Biru sayang ayo sini, kita ngobrol"

Duduk di sebelah mertuanya mereka membahas banyak hal dari topik ringan sampai topik yang berat dan agak mengarah ke sensitive content yang perlu di sensor juga di jabanin Minah, Biru cuma bagian iya iya sambil ngangguk aja.

•••

"Akhirnya mama sama papa pulang" Shaka menghembuskan nafas panjang, senang? Oh iya jelas,. Waktunya berduaan dengan Biru semakin banyak, entah kenapa sejak kejadian beberapa hari ini, Shaka semakin sayang dengan istrinya, dia bahkan mengatakan kantornya libur padahal banyak rapat yang ditunda karena laki-laki itu tidak mau bekerja.

"Kamu besok harus kerja" Shaka merasa aneh, kok kamu? Biasanya juga sayang sayang, apa istrinya ngidam?

"Masih mau nemenin kamu sampai lahiran"

"Aku belum hamil sayang" nah ini baru bener "kerjaan kamu banyak yang belum kelar, sekretaris kamu barusan ngabarin"

"Di telepon? Siapa yang ngasih? Kok dia bisa tau ka--"

"Dia dateng kesini" potong Biru.

Awas aja kamu, saya pecat nan--

"Jangan berpikir untuk memecat dia, awas aja kamu" air muka Shaka berubah masam, darimana Biru bisa membaca pikirannya?

"Iya besok kerja kalau di kasih ja--" Shaka menelan ludah melihat Biru menatapnya tajam.

"Aku megang piso"

BiruWhere stories live. Discover now