"Vano mau ke mana?"
Kila yang baru saja selesai mencuci piring bingung ketika melihat Vano turun dari tangga sambil memakai jaket kulit hitam berlambang Revolver. Kila menerka Vano mau pergi ke suatu tempat.
"Mau main ke markas Revolver. Gue gabut," jawab Vano tanpa menatap Kila sama sekali.
Ternyata benar dugaan Kila. Vano mau pergi. Dan mendengar kata markas, mata Kila berbinar-binar. Sudah lama Kila tidak ikut berkumpul dengan teman-teman Vano. "IH, MAU IKUT MAIN DONG!"
Urat di leher Vano menonjol melihat betapa antusiasnya Kila. Sudut bibirnya berkedut dan tatapannya menjadi tajam seolah dia sedang menatap musuh. Sebenarnya Vano hanya kesal karena Kila selalu mengikutinya seperti anak itik mengikuti induknya. Ke mana pun Vano pergi, Kila selalu minta ikut. Vano memukul kening Kila sambil mengomel, "NGIKUT MULU!! KERJAIN TUH SKRIPSI!"
Kila refleks menutup kedua telinganya dengan kedua tangan. Bibirnya mengerucut selagi matanya menatap sebal Vano. Kila muak mendengar kata skripsi. Perutnya seperti dikocok tiap tugas akhir kuliah itu disebut. Kadang Kila berpikir, skripsi lebih menakutkan dari bertemu hantu atau perampok.
Dengan kepala tertunduk, Kila mengeluh, "Tapi gue gak tau harus nulis skripsi apa."
Vano terbelalak. "HAAAAH??? JADI SELAMA INI LO BELOM—"
Belum sempat menyelesaikan pertanyaannya, Kila sudah memotong dengan mengatakan, "Iya."
Kila mendesah. Kepalanya semakin tertunduk saat tatapan Vano semakin tajam. Gadis itu berpikir pisau daging kalah tajam dengan tatapan marah Vano. Suaranya lirih sekali saat melanjutkan ucapannya. "Soalnya gue gak bisa mikirin skripsi, Van. Yang ada dalam pikiran gue tuh lo doang."
Sekarang, bukan hanya urat di leher Vano yang menonjol, tapi juga pelipis. Mukanya merah padam. Rahang tegasnya mengatup. Giginya gemeletuk dan kedua tangannya mengepal. Vano mirip petasan yang akan meledak. "KILA! LO ... BISA BISANYA ANJIR!"
Kila meringis sebelum memberanikan menatap mata Vano. Ia menggaruk kepala yang sepertinya gatal karena belum sampoan beberapa hari. "Ya emang bisanya itu doang."
Vano menghela napas frustrasi. Tidak mengerti jalan pikiran Kila. Vano yakin otak gadis itu sudah rusak. Entah bisa diperbaiki atau tidak. Mudah-mudahan bisa. Setelah memijat pangkal hidung, Vano berkata, "Ya sudah. Setelah gue pulang, lo harus udah siap."
Kila mengerjap. Memiringkan kepala, ia bertanya, "Ha? Maksudnya?"
Vano menggeram pelan kemudian menghela napas. Berusaha sebisa mungkin untuk sabar. Vano tidak ingin darah tinggi karena marah terus menerus. Gawat kalau punya sakit darah tinggi di usia muda. "Gue jemput lo. Kita ke toko buku, cari referensi buat skripsi lo."
Kedua sudut bibir Kila langsung tertarik ke atas membentuk senyuman. "Siap, Komandan!" sahut Kila meletakkan telapak tangan di pelipis, mirip pasukan Paskibraka yang hormat pada bendera merah-putih di lapangan upacara.
Sebelah alis Vano naik. Kedua lengannya terlipat di bawah dada. "Tumben lo semangat bahas skripsian."
"Ya karena ditemenin ayang Vano hehehe." Kila menyengir disela menjawab.
"Hilih." Vano menggeleng beberapa kali seraya mencibir Kila. Lelaki jangkung itu keluar rumah dengan sedikit membanting pintu. Kila sempat terperanjat sebelum kembali senyum dan melompat kecil seperti anak kecil yang diberi hadiah oleh santa claus.
***
Semua pasang mata memandang Vano dan Kila begitu mereka masuk ke toko buku Oak. Toko buku yang terletak di belakang Universitas Andromeda. Bagaimana tidak diperhatikan? Tanpa Vano sadari, ia dan Kila mengenakan pakaian yang sama. Dari coat, kaos, sampai celana jeans. Semuanya punya warna dan motif senada dengan pakaian Kila.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under The Same Roof [Hiatus]
RomanceVano yang tak banyak bicara dan Kila yang barbar disatukan dalam satu atap. Mungkinkah sepasang mantan kekasih itu balikan pada akhirnya, atau malah semakin menjauh untuk selama lamanya?
![Under The Same Roof [Hiatus]](https://img.wattpad.com/cover/214247816-64-k949390.jpg)