"Ada apa?"
Setelah tadi ketiga putra Andreaxa memasuki mansion, mereka langsung mendapati sang ayah yang sudah duduk di sofa single depan televisi. Dan kini ketiganya dapat melihat jelas raut wajah serius milik Ayah Devan.
"Kita ketemu sama dia." Ren menjawab dengan kepala menunduk.
"Dia?" Ayah Devan mengernyitkan dahinya.
"Iya, dia. Adik aku, Nafesya Alexandria Andreaxa yah."
Kini El yang menjawab dan menatap tepat pada wajah sang ayah yang tampak terkejut. Namun, tak lama kemudian terbit seulas senyum tipis milik sang ayah.
"Dimana? Ayo kita temui dia."
Baru saja Ayah Devan berdiri dari duduknya, tetapi perkataan yang keluar dari mulut Alvano sedetik kemudian membuatnya terpaku.
"Kita tadi cuma ketemu dan gak tau dia dimana sekarang, yah. Dia nganggap kita orang asing, yah. Dia tadi juga bersama pemuda seumuran Al, dan kelihatan banget bahagia. Bahkan dia manggil pemuda itu dengan sebutan abang. Maaf ya, yah."
Dengan perlahan Ayah Devan duduk kembali. Berpikir keras tentang langkah selanjutnya yang akan dirinya ambil. Apakah ia tetap mencari Esya? Atau ia membiarkan gadis tersebut mencapai kebahagiaannya bersama pemuda asing?
Hening tercipta di ruang tengah mansion itu, ketiga putra Andreaxa masih menunggu sang ayah untuk bersuara. Sementara yang ditunggu masih memikirkan jalan terbaik untuk semua ini.
"Maaf, mungkin ini kesannya kita egois. Namun, ayah masih menginginkan Esya mengucapkan jikalau dirinya memaafkan kita. Secara langsung." Ucapan sang Ayah tentu di setujui oleh ketiga putranya.
Perasaan bersalah mereka sangat besar, mereka masih ingin meminta maaf dan memperbaiki kesalahan mereka pada adik perempuan mereka satu-satunya.
"Kalau gitu ayo kita cari dia, yah." Sahutan dari Elvano membuat ketiga orang lainnya berdiri dari duduknya.
"Elvano sama ayah aja." Ucap Ayah Devan sembari mengambil kunci mobil yang ia letakkan di atas meja tadi.
"Kalau gitu Ren ma Alvano." Ujar Ren yang sudah melangkah keluar mansion, ia tentu tau bahwasannya sang Ayah ingin memperbaiki hubungan dengan putra bungsunya.
Sedang Alvano tanpa bicara apapun langsung mengikuti kakak sulungnya. Elvano tentu hanya bisa pasrah mengangguk dan melangkah mendahului ayahnya.
"Tunggu ayah, Nafesya." Gumam Ayah Devan dengan senyum tipis yang terukir, mencoba tetap berpikir positif dapat menemukan Esya malam ini juga.
Kedua mobil milik Keluarga Andreaxa nampak keluar dari perkarangan mansion besar tersebut. Kedua kendaraan beroda empat tersebut melaju membelah jalanan kota yang cukup ramai di malam hari.
Sesampainya di depan minimarket -tempat bertemunya ketiga putra Andreaxa dengan Esya tadi, kedua mobil tersebut berpencar. Mobil Ayah Devan ke arah taman kota yang memang cukup dekat dari sana. Sedangkan mobil Ren ke arah sebaliknya.
Ayah Devan menghentikan mobilnya di pinggir jalan sekitaran taman kota yang ramai orang berlalu lalang. Elvano mengernyit heran, kala mendapati raut wajah sang ayah nampak serius.
Kala diamati ternyata ada satu objek yang menjadi titik fokus kepala keluarga Andreaxa tersebut. Dan Elvano akhirnya mengerti kenapa sang ayah menghentikan mobilnya.
"Itu, Nafesya kan Bang?"
"Iya, pakaiannya sama persis kayak yang tadi Elvano temui. Tapi dia kok sendirian, ya?" Jawab El mencoba melihat jelas seorang gadis yang sedang duduk di salah satu bangku taman sambil menikmati permen kapas berukuran sedang.
"Ayo turun! Ini kesempatan kita."
Tanpa menunggu jawaban sang putra, Ayah Devan terlebih dahulu melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil. Elvano hanya mengangguk setuju, dirinya tak lupa untuk memberi tau kedua abangnya.
Ayah dan anak tersebut pun melangkah mendekati seorang gadis yang masih asyik memakan permen kapasnya. Sampai ia menyadari ada dua orang yang berhenti tepat di depannya, mengira mereka adalah abang Dery nya juga temannya.
"Sama sia-"
Kalimatnya belum selesai ia ucapkan ketika kepalanya mendongak melihat kedua orang di hadapannya bukanlah sesuai perkiraannya.
Tuk
Permen kapas yang belum habis pun terjatuh dari tangan kanannya. Dengan cepat menyadari situasinya, gadis itu yang tak lain adalah Esya mencoba melarikan diri dengan berdiri dan melangkah pergi.
Sayangnya semesta sedang tak berpihak padanya ketika ada dua orang pemuda lagi yang datang dan berdiri tepat di depannya. Esya mencoba untuk mengontrol dirinya sendiri agar tak terlihat ketakutan sekarang.
"Kita harus bicara, Nafesya." Ucap yang tertua di situ, siapa lagi kalau bukan Ayah Devan.
"Sa-saya Renesya, bukan Nafesya. Maaf saya tak punya urusan dengan kalian." Balas Esya sembari mencoba untuk melangkah.
Alvano yang berada tepat di depan Esya, mencekal tangan kanan sang gadis. Dan dapat ia rasakan bahwa tangan tersebut bergetar entah karena apa, ketakutan kah?
Esya reflek melihat tepat ke wajah Alvano yang nampak dingin menatapnya. Esya tak dapat lagi mengontrol dirinya untuk tak terlihat ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat menyadari keempat lelaki tersebut menatap intimidasi ke arahnya, tentu dari pandangan Esya.
Sementara yang sebenarnya, keempat lelaki keluarga Andreaxa tersebut menatap penuh kebingungan akan bergetarnya tubuh sang gadis.
"ESYA!" Seruan terkejut berasal dari seorang pemuda yang kita ketahui bernama Dery.
TBC.
~♡~♡~♡~♡~♡~♡~♡~
Note :
Hailo! Sya up hehe, dah sampai bab 38 aja nih. Gimana sama bab ini? Sya harap kalian suka ya!
Maaf kalau ada typo yang tentu Sya gak sengaja lakuin pas ngetiknya....
Jangan lupa buat selalu tinggalin jejak kalian ya, suka banget Sya tuh kalau ada yang ninggalin jejaknya walau cuma vote tuh dah seneng banget. Apalagi sampai ada yang komen, Sya langsung lompat-lompat karena terlalu seneng hehe....
❤❤Buat yang udah baca dan tinggalin jejaknya, makasih banget pokoknya! See U Next!
KAMU SEDANG MEMBACA
Esya {TERBIT}
DiversosRenesya, gadis dengan senyum ramah walau takdir mempermainkannya dengan berbagai luka dihati. Bertransmigrasi ke tubuh tokoh favoritenya dengan takdir yang tak jauh beda, apakah ia sanggup menjalaninya? Kejanggalan mulai terjadi, alur novel pun beru...
